DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT

 

Seekor laba-laba berbisa berani bertarung dengan seekor ular berukuran besar black mamba yaitu salah satu ular yang sangat berbisa di Afrika. Ular ini pun pada akhirnya mati, kalah dalam pertarungan melawan laba-laba tsb.     

Racun yang sangat mematikan yang menjadi andalan sang ular tidak dapat melindungi dirinya, karena ternyata racun laba-lba tsb dapat lebih mematikan. Bukan hewan yang setara atau lebih besar dari tubuhnya yang membuat hidupnya berakhir, tetapi malah hewan yang lebih kecil yang mungkin saja ia sepelekan. Pepatah lama yang mengatakan : “Di atas langit masih ada langit” adalah kalimat yang lebih tepat diberikan kepada ular.

Seorang Goliat juga memiliki racun yang mematikan, yaitu keahliannya dalam berperang menggunakan senjata yang membuat orang-orang takut dan gemetar, bahkan juga ketika hanya mendengar suaranya. Namun hidup Goliat berakhir di tangan seorang remaja yang tidak seimbang dengannya, yaitu Daud. Ternyata si kecil Daud memiliki racun yang lebih mematikan yaitu pertolongan Tuhan dan keahliannya menggunakan ketapel.

Sebesar apapun kekuasan yang kita miliki saat ini tak menjamin bahwa kitalah yang terhebat. Setinggi apapun ilmu yang kita miliki tak menjamin bahwa kitalah yang terpintar. Albert Einstein dahulu dinyatakan sebagai seorang yang memiliki IQ tertinggi, namun kini ada orang lain melebihinhya. Begitu pula sekaya apa pun kita dengan berkelimpahan uang dan harta tidak menjamin bahwa kitalah yang terkaya didunia ini. Di atas langit masih ada langit.

Dalam bacaan 1 Samuel 17 : 45 tertulis “Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu : Engkau mendatangi aku dangan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu”.

Peribahasa “Di atas langit masih ada langit” artinya ketika kita merasa paling hebat, paling kaya, paling berkuasa, paling baik, paling suci dst di dunia ini, jangan lupa masih ada yang Mahahebat, Mahakaya, Mahakuasa, Mahabaik, Mahasuci dsb. Yaitu Tuhan.

 Kelebihan apapun yang kita miliki baik berupa kekayaan, kepandaian, pengetahuan, prestasi, kedudukan, jabatan dsb tidaklah patut untuk dibanggakan apalagi disombongkan kepda orang lain, terlebih kepada Tuhan.

 Saat Tuhan menciptakan rasa iri itu bukan berarti untuk menjadikan manusia menjadi pendengki, tetapi untuk melatih kebesaran hati. Saat Tuhan menciptakan rasa sombong itu bukanlah untuk menjadikan manusia sombong, tetapi agar manusia mengerti sikap rendah hati. Ibarat padi makin berisi makin tunduk.

Kesombongan itu berbahaya. Allah menentang orang yang sombong, tetapi mengasihi orang yang rendah hati. Kerena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya (1 Petrus 5 : 5-6).

 Kesombongan dapat menjauhkan manusia dengan Allah dan sesama/orang lain. Kaesombongan adalah salah satu dosa yang memiliki akibat yang sangat menghancurkan. Alla mebensci kesombongan. Kesombongn berad pada urutan teratas dalam daftr dosa (Amsal 6 : 16-17) (amsal 8 : 13).

 Salah ciri- ciri orang yang sombong anata lain :

1.  Tidak pernah mengakui kesalahannya dan kegagalannya. Orang sombong akan terus memaksa maju, mencari kepuasan diri sendiri dengan membabi buta.

2.  Orang sombong merasa yakin bahwa dalam konflik apapun ia merasa paling benar dan orang lain salah.

3.  Orang sombong yakin bahwa ia memiliki semua keahlian yang diperlukaan untuk menangani masalah apapun yang muncul.

Kesimpulan:

Kesombongan/keangkuhan/kecongkakan adalah awal dari segala dosa, semua dosa secara alami timbul dari kesombongan. Santo Aquinas menyatakan bahwa meninggalkan Tuhan adalah bagian pertama atau berawal dari kesombongan. Di atas langit masih ada langit. (By Sie. Komsos)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Leave a Reply