Bansos 9 Mei 2020

 

Pandemi Covid-19 memiliki dampak psoitif, seperti ajakan Uskup Ignatius Kardinal Suharyo untuk bisa saling mendukung sesama di sekitar. Paroki Rawamangun mengambil peran dalam memberikan bantuan sosial. Kegiatan Bantuan Sosial dilaksanakan pada Sabtu, 9 Mei 2020 lalu dengan susunan acara pembagian bantuan karitatif dan bantuan bagi yang terdampak pandemi covid-19 Acara yang merupakan kolaborasi selain Seksi PSE, terdapat Seksi HAAK, DPH dan Romo yang membantu dalam persiapan dan pelaksanaannya, serta Seksi Komsos Paroki Rawamangun. Dalam rangka membantu para penerima bantuan dalam kondisi ini, modifikasi bantuan dilakukan dengan memberikan uang tunai sebesar Rp200.000,- dan sembako sebesar Rp150.000,-. Paket bantuan yang dipersiapkan dan dibagikan sebanyak 700 paket lebih.

Penerima bantuan sosial pun tidak saja dari Umat Paroki Rawamangun tetapi juga para warga dalam lingkup Gereja Keluarga Kudus. Dengan kata lain, bukan saja umat Katolik, melainkan umat agama lain di sekitar jangkauan umat Paroki Rawamangun. Pelaksanaan kegiatan bantuan sosial terdiri dari dua waktu yang berbeda yaitu untuk bantuan karitatif dan umat yang terkena dampak pembagian dilakukan pada pagi hari di ruang Martinus. Bagi warga sekitar dibagikan pada siang hari dengan dikirim ke beberapa lokasi secara langsung.

Dimana Bansos dibagikan dilokasi:
1. Pisangan

2. Jl. Daksinapati Tenggara

3. Perhubungan Tawes

4. Cipinang Kepolisian

5. Cipinang Muara

6. Gading Raya

7. Prumpung

8. FKDM (Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat)

9. Masyarakat Sekitar Gereja


Kegiatan bantuan sosial sendiri dimulai pk. 09.00 WIB hingga 15.30 WIB dengan tetap berusaha menjaga jarak bagi semua panitia dan peserta penerima bantuan sosial. Semoga pandemi virus corona dapat segera menghilang dan kegiatan seluruh masyarakat dapat berjalan normal dengan cara yang baru. Tetap jaga kesehatan, tetap di rumah dan Tuhan memberkati. (By Sie Komsos).

 

Aku memberikan kamu para gembala

 

– Aku memberikan kamu para gembala –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus menuntut kesadaran ‘gembala baik’ agar mampu menyelamatkan, menghidupkan dan membebaskan.
Adapun kesadaran yang bisa kita lakukan dan maknai supaya kita bisa menjadi ‘gembala baik’, antara lain:

1. Bersyukur
Kesadaran atas karya keselamatan Allah yang terlaksana dalam diri Yesus Kristus mendorong kita untuk BERSYUKUR.

Di sinilah kita diajak menyadari makna teologis yang berakar kuat dalam hidup doa dan olah rohani yang terus menerus dibina.

2. Berbagi
Kesadaran atas karya keselamatan Allah yang universal, menumbuhkan semangat kita untuk BERBAGI ‘terang’.

Di sinilah kita diajak menyadari makna sosiologis, bahwa semua alam semesta dari pelbagai belahan dunia turut mengalami “syalom” karena telah turut diselamatkanNya.

3. Berpeduli
Kesadaran akan universalitas kasih Allah selalu mendorong kita untuk BERPEDULI terhadap alam sekitar.

Di sinilah kita diajak menyadari makna eskatologis, bahwa semua alam semesta dari pelbagai belahan dunia turut mengalami “syalom” karena telah turut diselamatkanNya.

Saudaraku, ‘tiga kesadaran’ ini mengandaikan kita juga sudah ber-refleksi dan ber-instrospeksi, sehingga kita mampu menjawab panggilanNya.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria selalu menyertai kita sekeluarga. Amin.

Aku percaya dan aku mengimani

 

~ Aku percaya dan aku mengimani ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus menyatakan diri-Nya sebagai roti dari surga dan mengundang kita untuk makan daging-Nya dan minum darah-Nya.
Adapun dasar iman Petrus tetap teguh dalam menghadapi keras dan tegasnya ajaran ilahi, antara lain:

1. Pemahaman akan Allah
Iman adalah anugerah Allah yang perlu kita tanggapi dengan pikiran dan hati terbuka.

Di sinilah kita diajak menyesuaikan pikiran, hati dan tindakan seturut kehendakNya. Karenanya kita harus benar-benar MEMAHAMI dan percaya akan Allah yang kita imani.

2. Pengalaman akan Allah
Yesus itu berasal dari Allah, sumber segala kekudusan, sehingga Ia pun pasti kudus, bersatu dengan Roh Kudus dan mampu memberikan hidup kekal.

Di sinilah kita diajak ‘MENGALAMI’ Allah secara personal, lewat hidup doa yang teratur, lewat hidup karya yang mempraktekan kesalehan, sehingga yang ilahi benar-benar dirasakan dan dialami secara nyata.

3. Pengamalan akan Allah
Allah adalah kasih dan maharahim bagi orang yang percaya kepadaNya.

Di sinilah kita diajak MENGAMALKAN kasih dan kerahiman Allah dalam tindakan dan karya nyata.

Saudaraku, semua pemahaman dan pengalaman serta pengamalan mengantar kita pada kesadaran akan Allah yang selalu hadir, mengalir dan bersolider dengan kita dalam suka-duka, tawa-tangis di keseharian hidup

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria selalu menyertai kita sekeluarga yang taat dan setia pada kehendakNya. Amin.

Korban

 

~ Korban ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, mengajak kita untuk ber-refleksi lebih mendalam tentang Ekaristi.
Adapun tiga karakteristik ilahi dari Ekaristi yang kita maknai, antara lain:

1. Proaktif
Allah kita adalah Allah yang selalu menyapa, PROAKTIF, dan ber-inisiatif.

Di sinilah kita diajak “bangun dan berjalan” mengingat tujuan hidup semata demi Allah.

2. Partisipatif
Allah kita Allah yang menciptakan langit dan bumi.

Di sinilah kita diajak berpikir positif, bersikap sportif dan PARTISIPATIF saat menanggapi sapaan Allah, bertindak produktif seturut kehendakNya dalam keseharian hidup lewat doa, kata, dan karya nyata.

3. Selektif
Allah kita adalah Allah yang fokus pada tindakan dan karya mengasihi lewat Kristus dan dalam Kristus, serta bersama Kristus.

Di sinilah kita diajak mempunyai skala prioritas dalam hidup harian yang terfokus, terarah, teratur dan SELEKTIF, sehingga nama Allah selalu dimuliakan dan jiwa sesama turut diselamatkan.

Saudaraku, apabila kita memiliki tiga karakteristik ilahi ‘Roti Hidup’ ini, maka sudah sepatutnyalah kita bersyukur atas tindakan kasih Allah yang menyehatkan sebab kita semua dibersihkan, dicerahkan, disatukan. Apakah kita sungguh memiliki ‘mata iman’ dan percaya pada kehadiran Kristus dalam Sakramen Ekaristi?

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria selalu menyertai kita sekeluarga yang berani teratur mengasihi sesama. Amin.

Datanglah kepada Yesus

 

~ Datanglah kepada Yesus ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, kita diajak menyadari dan membarui motivasi sebagai pengikut Kristus yang sejati.
Adapun tanda bahwa kita sungguh sebagai pengikut Kristus yang sejati, antara lain:

1. Martir
Mengikuti Yesus berarti kita siap menjadi MARTIR sebagai tanda kasih kepada-Nya seperti Stefanus.

Di sinilah kita belajar kemartiran dari Yesus yang telah memberikan segalanya bagi kita.

2. Kurban
Tubuh dan DarahNya mengubah dan menguatkan hidup kita, sebab Dia sendirilah yang melakukanNya.

Di sinilah kita pun diajak menyadari bahwa hidup ini semakin berarti bila kita tidak berhenti berbuat baik. Kita memberikan diri sebagai KURBAN agar orang lain memiliki nilai kehidupan.

Saudaraku, percayailah Dia sebagai Kristus dan nikmati hidup yang berarti dan kekal di dalam Dia.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria selalu menyertai kita sekeluarga. Amin.

Pergi dan Bagikanlah

 

~ Pergi dan Bagikanlah ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, sebelum naik ke surga, Yesus minta para muridNya wartakan “Injil kepada segala makhluk.”
Adapun semangat dasar St. Markus ~penulis Injil ~ dalam tugas perutusanNya yang bisa kita maknai, antara lain:

1. Bersiaga
Lambang ‘singa bersayap’ (Markus) ini menggambarkan BERSIAGA penuh keyakinan yang terus menyala.

Di sinilah kita diajak tetap percaya dan bersemangat menjadikan Kristus sebagai pusat hidup yang memberi kuasa dan senantiasa menyertai kita sampai selama-lamanya.

2. Bersahabat
Markus BERSAHABAT dengan para rasul dalam karya pewartaan Injil meskipun dia bukan termasuk bilangan dua belas Rasul Yesus.

Di sinilah kita belajar kerendahan hati dengan rela menyerahkan segala kekhawatiran kita di hadapan Allah, sehingga kita dapat menolong siapa saja tanpa pamrih.

3. Bermanfaat
Kekayaan pengetahuan St. Markus BERMANFAAT untuk mencatat segala ucapan Petrus kepada orang banyak.

Di sinilah kita belajar teladan misi dari St. Markus sebagai “duta damai”

Saudaraku, marilah jadi ‘pembawa pesan Allah’ yang tergerak, bergerak, berarak dari altar perjamuan ke pasar kehidupan dengan membuka diri dan hati yang bersemangat siaga, hidup yang bersahabat, dengan karya yang bermanfaat bagi kemuliaan Allah.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria selalu menyertai kita sekeluarga yang siap diutus mewartakan Injil dengan penuh sukacita. Amin.

Sehati dan Sejiwa

 

~ Sehati dan Sejiwa ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Roh Kudus menguatkan, menyertai dan mempersatukan tiap orang yang dibaptis dari berbagai suku, bahasa, bangsa dan tanah air. Semua orang berbeda ini jadi ‘sehati dan sejiwa’. Segala milik kepunyaan menjadi milik bersama. Semangat berbela rasa ini patut dihayati para pengikut Kristus yang ‘lahir kembali’.
Adapun makna ‘lahir kembali’ yang terkait erat dengan Paskah Kristus ini bagi kita, antara lain:

1. Mati dan bangkit bersama Kristus
Para pengikut Kristus MATI bersama Kristus dan BANGKIT bersama Kristus.

Di sinilah kita diajak memahami arti ‘mati’ bersama Kristus, yakni mati dari dosa-dosa yang dilakukan setiap saat kehidupan, dalam pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian, maka kita akan mengalami rahmat penebusan berlimpah dari Kristus yang bangkit.

2. Diarahkan dan dibimbing Roh
Hidup dalam Roh Kudus seperti yang dijanjikan Yesus: ‘Paraclitus’ ~ Sang Penghibur. Roh Kudus bekerja memberi kepenuhan hidup seturut kehendakNya.

Di sinilah kita diajak terus menerus menyadari kehadiran Roh Kudus yang MEMBIMBING dan MENGARAHKAN kita untuk tetap tinggal bersama Dia.

3. Memaknai dan mensyukuri Salib
Tak ada Paskah tanpa Jumat Agung, tak ada kebangkitan tanpa kematian, tak ada kemuliaan tanpa penderitaan: ‘jalan salib’ sebuah ‘via dolorosa’ = ‘jalan dukacita’ yang sekaligus merupakan ‘via spes’ = ‘jalan harapan’ dan ‘via sapientia’ = ‘jalan kebijaksanaan’.

Di sinilah kita diajak memaknai dan mensyukuri kekhasan warisan iman kita yang ilahi sekaligus insani yakni “JALAN SALIB”. Pengalaman ‘salib’ membuat kita semakin dewasa dalam beriman.

Saudaraku, kita dilahirkan kembali karena Roh Allah turut bekerja dalam diri kita masing-masing. Marilah kita terus bekerjasama dengan Roh Allah.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria selalu menyertai kita sekeluarga yang siap ‘mati dan bangkit’ bersama Kristus. Amin.

Jadilah Saksi Kristus

 

~ Jadilah Saksi Kristus ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, ‘pertobatan radikal’ dibutuhkan agar kita semakin berani bersaksi tentang Kristus yang bangkit.
Adapun dasar seruan perutusan untuk jadi ‘saksi’ Kristus yang bangkit, antara lain:

1. Percayalah
Yesus berkali-kali menampakkan diri kepada para muridNya supaya mereka dikuatkan dan jadi PERCAYA pada Allah.

Di sinilah kita diajarkan teladan iman yang ditandai oleh kenyataan bahwa kita “hidup karena percaya bukan karena melihat”.

2. Pergilah
Yesus mengutus para muridNya untuk ”PERGI” membereskan diri dan keluar dari kemapanan pribadi.

Di sinilah kita diutus untuk pergi bersama Allah yang akan menyertai kita, tanpa merasa lelah mencari persatuan yang makin mendalam dengan Kristus: Jalan, Kebenaran dan Kehidupan.

3. Partisipasilah
Yesus mengutus para muridNya untuk jadi saksi “kabar baik” bagi orang lain.

Di sinilah kita pun diajak ikut serta BERPARTISIPASI secara aktif membantu karya pastoral di tengah dunia.

Saudaraku, marilah kita wartakan Injil dengan hidup nyata sehari-hari yang penuh kasih dan semangat kebangkitan Kristus.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria selalu menyertai kita sekeluarga yang berani jadi saksi Kristus yang bangkit. Amin.

Tinggallah bersama kami ya Tuhan!

 

Tinggallah bersama kami ya Tuhan!

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus menumbuhkan iman kedua murid saat mengadakan ‘Ekaristi’
Adapun makna pengalaman iman para murid saat di Emaus bagi kita, antara lain:

1. Pemurnian
Dalam perjalanan dari Yerusalem menuju Emaus, dua orang murid berjumpa dengan Yesus. Perjumpaan ini menjadi sebuah PEMURNIAN IMAN. Mereka merasakan karya-karya besar Allah yang dilakukan Yesus sebagai pengajaran penuh kuasa dan wibawa.

Di sinilah kita juga diajarkan bahwa Kristus mau memurnikan iman kita bahwa dunia diselamatkan oleh Dia yang ‘Tersalib’ bukan oleh mereka yang menyalibkanNya.

2. Pencerahan
Perjalanan kedua murid dari Yerusalem ke Emaus merupakan sebuah PENCERAHAN tentang Kristus. Mereka dicerahkan dan dihadapkan kepada sumber-sumber kepercayaan yang sejati.

Di sinilah kita juga diajak ‘berdialog’ dengan sabda Allah agar dicerahkan juga.

3. Penyembuhan
Di Emaus, barulah kedua murid itu mengalami PENYEMBUHAN yakni mengenali siapa sesungguhnya Yesus, ketika “Ia memecah-mecah roti” (Ekaristi). Mereka akhirnya memohon kepada Yesus untuk tinggal bersama mereka, “Mane Nobiscum Domine!” “Tinggallah bersama kami ya Tuhan!”

Di sinilah kita diyakinkan bahwa Ia ‘menyembuhkan’ cacat cela kita, menaklukkan segala yang jahat karena Ia senantiasa menyertai dan bersatu dalam suka duka hidup kita.

Saudaraku, Kristus mendampingi terus menerus perjuangan kita. Dia selalu memurnikan, mencerahkan dan menyembuhkan. Marilah kita melakukan hal yang sama di dalam hidup ini.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria selalu menyertai kita sekeluarga yang berani melakukan kehendakNya. Amin.

Paskah yang Nyata

 

Kita berharap semoga Kristus yang bangkit menjadi kekuatan bagi kita untuk terus melangkah maju penuh harapan akan masa depan yang lebih baik.

Perayaan Paskah selalu ditandai dengan lilin Paskah dan pada setiap lilin Paskah selalu ditulis tahun ketika Paskah itu dirayakan. Oleh karena itu, yang tertulis pada lilin Paskah ini adalah tahun 2020. Pesannya jelas yaitu agar perayaan Paskah terus berarti, bermakna dan relevan khususnya pada tahun ketika Paskah itu dirayakan. Sebab dari itu, kita bisa bertanya apa relevansi perayaan Paskah pada masa kita umat manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya sedang mengalami pandemi wabah virus Corona 19 ini.
Jawaban atas pertanyaan ini dapat kita berikan kalau kita tahu apa yang menyebabkan merebaknya wabah ini. Ada berbagai pendapat yang berbeda-beda, salah satu pendapat yang menarik disampaikan dengan sangat hati-hati, masuk akal budi kita dan juga akal iman kita. Pendapatnya begini, bisa jadi wabah adalah reaksi natural atas kesalahan manusia secara kolektif terhadap alam. Dalam bahasa iman, antara lain disebabkan oleh dosa ekologis. Yang dimaksudkan kira-kira begini, wabah muncul karena manusia telah merusak tatanan dan harmoni alam. Perusakan alam itu membuat alam tidak seimbang lagi dan ini mempunyai akibat yang sangat luas dan beragam. Misalnya, pemanasan bumi, perubahan iklim, polusi yang mengotori semua elemen alam di darat di laut maupun di udara dan munculnya berbagai macam penyakit baru. Ketidakseimbangan alam ini membuat tubuh manusia tidak seimbang pula, imunitas melemah sehingga manusia menjadi rentan terhadap wabah. Seharusnya alam memiliki caranya sendiri untuk meredam wabah, tetapi ketika nafsu keserakahan dan kesombongan manusia telah merusak alam, wabah tidak terbendung.
Mengenai keserakahan manusia ini, Paus Fransiskus mengatakan, dengan keserakahannya manusia mau menggantikan tempat Allah dan dengan demikian akhirnya membangkitkan pemberontakan alam. Kita semua terlibat di dalam dosa terhadap harmoni alam yang telah diciptakan oleh Allah sebagai semua baik dan amat baik adanya. Itulah yang disebut sekali lagi dosa ekologis. Wabah menurut pendapat ini adalah isyarat alamiah bahwa manusia telah mengingkari jati dirinya sebagai citra Allah, yang bertugas untuk menjaga harmoni alam bukan merusaknya. Wabah menyadarkan bahwa manusia adalah ciptaan yang rapuh yang tidak mungkin bertahan jika alam ciptaan lainnya dihancurkan.

Kita bersyukur karena di tengah-tengah pandemi wabah virus Corona 19 ini, kita menyaksikan kerelaan berkorban solidaritas yang dahsyat dalam berbagai macam bentuknya. Dalam bahasa Iman, tumbuhnya kerelaan berkorban dan tumbuhnya solidaritas adalah Paskah yang nyata. Semoga semua yang baik tidak berhenti ketika nanti wabah ini lewat, tetapi kita juga masih berharap bahkan dituntut untuk merayakan Paskah yang lain yakni Paskah ekologis. Ketika kita dibebaskan dari dosa ekologi, kolektif maupun pribadi. Dibebaskan dari sikap tidak peduli terhadap alam atau bahkan nafsu merusak alam dan dianugerahkan kepada kita kekuatan untuk terus mewujudkan Paskah ekologis itu. Memulihkan alam yang rusak, merawat dan menjaganya sebagai ibu bumi rahim kehidupanb yang sejahtera. Selamat Paskah dan moga-moga Tuhan yang bangkit menguatkan kita dalam niat-niat baik kita.

Marilah kita senantiasa menghidupkan Paskah secara nyata, selama masa pandemi dan selama-lamanya dengan peduli alam sekitar dan tetap bersikap rela berkorban terhadap sesama.

Selamat Paskah 2020, Tuhan selalu memberkati kita dan sehat selalu. (By Sie Komsos)

Paskah sebagai Ingatan Bersama

 

Selamat Paskah bagi kita semua dan semoga kita yang merayakan Paskah ini dianugrahkan buah-buah kebangkitan NYA. Kita yang mengimani Yesus Kristus akan dipulihkan dan dibebaskan dari belenggu dosa dan kejahatan di dunia ini. Sehingga makna dari Paskah adalah pembebasan dan pembaharuan.
Semua peristiwa sejarah di Indonesia seperti Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, Proklamasi dan Pancasila sebagai dasar negara adalah karya Agung Tuhan agar kita semakin terikat satu sama lain sebagai satu bangsa yang kokoh. Oleh sebab itu marilah kita bersama-sama seperti pada masa lalu kita bersatu untuk memenangkan permasalahan covid 19 pada saat ini. Bukan hanya tim medis yang harus bersatu tetapi kita semua sebagai satu bangsa. Sekali lagi Selamat Paskah untuk kita semua dan sehat selalu. Berkah Dalem. (By Sie Komsos)

Keagungan Kasih Tuhan dalam ketidakpastian situasi dan kondisi saat ini

 

Mengambil dari homili Kardinal, diawali dengan pengantar “Inilah Kisah Sengsara Tuhan kita, Yesus Kristus”. Kalau kita teliti menyimaknya, sebetulnya yang kita dengarkan bukan pertama-tama kisah sengsara tetapi kisah Keagungan Kasih Tuhan. Oleh karena itu hari ini tidak disebut Jumat sengsara tetapi Jumat Agung. Di dalam kisah tadi tidak ada peristiwa yang diceritakan Yesus ditangkap seperti seorang pesakitan. Yang diceriterakan adalah Yesus menyerahkan diri. Ketika dihina, ditampar, Dia hanya diam, seolah-olah bertanya kepada kita siapa yang lebih bermartabat, yang melakukan kekerasan atau yang diperlakukan tidak adil? Dan lagi ketika Ia wafat, Ia berkata, “Sudah selesai”. Apa yang selesai? Yang selesai adalah tugas perutusan-Nya, menyatakan bahwa Allah adalah Kasih. Kita selalu ingat akan kata-kata Yesus, “Makananku adalah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya”. Atau Sabda lain, ketika Yesus berkata “Tiada Kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”. Sambil berharap untuk menerima buah-buah penebusan secara melimpah, marilah kita haturkan doa-doa kita.

Kardinal sungguh mengajak umat-Nya meneladan Tuhan kita, terutama dalam keadaan sekarang untuk bisa lebih mengasihi sesama. Dalam tahun keadilan pun, Kardinal mengajak agar umat mampu bersikap adil bagi sesama sebagai lambang kasih nyata seperti teladan Yesus. Tidak lupa juga kita diajak untuk berdoa sambil berharap pada Allah untuk menebus dosa kita dan memberikan jalan yang terbaik dari situasi ini. (By Sie Komsos).

Peduli dengan Sesama dan Lingkungan Sekitar

 

Terinspirasi dari salah satu relief di Candi Borobudur.

Ada 4 ekor hewan berjalan bersama menuju Kerajaan Allah :
1. Seekor Kera membawa pisang
2. Seekor Berang Berang membawa ikan
3. Seekor Serigala membawa botol berisi susu dan membawa mangkok + sendok.
4. Seekor Kelinci yg tidak membawa apa apa

Ditengah perjalanan mereka bertemu seorang pengembara yang amat sangat keletihan dan kelelahan

Kemudian berkatalah ke 4 ekor hewan tsb kepada si pengembara :
1. Kera berkata Tuan ambillah pisang ku ini karena ku lihat engkau amat sangat keletihan dan kelelahan.
2. Serigala berkata Tuan ambilah susu ku inu utk mengurangi dahaga Tuan hingga nanti ke tempat tujuan mu.
3. Berang berang berkata Tuan ambilah ikan ku ini sbg penguat kamu berjalan.
4. Si Kelinci yang tidak membawa apa apa berkata: “Tuan inilah tubuh ku, Ku serahkan Tubuh ku kepada Engkau. Makanlah Tubuh ku Tuan, sebab Engkau membutuhkan tenaga.

Pesan moral :
Si Pengembara adalah kita….
Kita yang kelelahan dan keletihan yang amat sangat :
– Letih karena menerima ketidak adilan.
– Letih karena banyak nya kejahatan di sekitar kita.
– Letih karena menunggu berakhir nya wabah Covid 19 yang belum jelas kapan akan berakhir.
– Letih karena selalu dipersalahkan dan diinjak injak.
– dll

Ternyata disaat kita keletihan dan kelelahan, masih ada orang orang yang peduli kepada kita,
saling membantu, saling berbagi, saling mendengarkan.

Pesan tersirat Kardinal sangat jelas untuk kondisi saat ini, seperti kata Yesus ;
“Marilah kita yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu”.

Marilah kita berbagi, kita berbela rasa, kita saling mengasihi untuk tidak saling bermusuhan satu dengan lain nya dan bagaimana kah cara nya ?
Ikutilah anjuran dari Pemerintah: untuk selalu jaga jarak menjaga kebersihan tubuh dan jiwa.
Semoga dengan mengikuti anjuran pemerintah, pakailah masker dan alat pelindung tubuh secukupnya jika bepergian, jangan serakah, ingatlah dan peduli lah dengan sesama.

Itulah Paskah Tuhan bagi kamu di tahun 2020 ini.

Tuhan menyertai kita.

Amin…

💓💖🙏🏻🙏🏻

(By Sie. Komsos)

Ketika daun-daun Ilahi-Mu Melambai di Relung Hatiku

 

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
KETIKA DAUN-DAUN ILAHI-MU MELAMBAI DI RELUNG HATIKU

” Ketika kumenangis meratap moment indah perarakan di Minggu Palma sambil melambai-lambaikan daun di tanganku, Engkau mendatangi jiwaku dan berbisik, ” Anak-Ku, jangan bersedih karena tahun ini Akulah yang melambaikan daun-daun pohon surgawi di dalam relung hati dan jiwamu .”

Hari Minggu Palma 2020 ini akan menjadi Moment yang tak terlupakan oleh hampir seluruh umat Katolik sedunia; Bagaimana mungkin bisa terlupakan bila kebiasaan untuk mengikuti pemberkatan daun-daun dan berarak sambil melambaikannya diiringi lagu ” Hosana Putera Daud, Terpujilah yang datang atas nama Tuhan ,” tak terdengar lagi. Ya, virus corona telah membuat masing-masing keluarga bahkan setiap orang berarak ke kedalaman hati dan jiwanya, tempat Tuhan bersemayan dan bertahkta.

Hari ini, di seluruh dunia, umat Katolik pasti bersatu dalam rasa yang sama, yakni sedih bercampur kecewa karena lagu atau bacaan kisah sengsara Yesus pun tidak berkumandang lagi, pun Komuni Kudus tidak diterimakan oleh jiwa-jiwa yang merindukan kehadiran-Nya.

Tapi saudaraku, bila hari ini Anda duduk bersama sebagai satu keluarga dan berdoa, entahkah menonton siaran langsung Misa lewat facebook atau youtube, atau ketika satu keluarga berbagi peran untuk memimpin ibadat sabda di dalam keluarga masing-masing, maka sesungguhnya kalian akan merasakan sebuah pengalaman yang luar biasa, karena mungkin bagi banyak orang, inilah moment terindah tak terlupakan dalam hidup karena berkat Tuhan turun ke dalam rumahmu seperti yang dialami oleh Zakheus dulu. Ketika keluarga berkumpul dan berdoa bersama maka kalian akan merasakan pengalaman yang luar biasa karena untuk pertama kalinya ” bapa keluarga/suami menjalankan perannya sebagai imam keluarga; Memimpin anggota keluarga dalam doa bersama .”

Karena itu, janganlah bersedih ketika daun-daunmu tidak dilambaikan menyambut-Nya, karena sesungguhnya hari ini Yesus sendiri mengunjungi rumahmu seperti Ia mengunjungi rumah Maria, Marta dan Lazarus, Ia datang ke dalam keluargamu masing-masing seperti Ia pernah mendatangi dan duduk bercerita dengan perempuan Samaria di Sumur Yakob, bahkan Ia akan masuk ke kedalaman jiwamu seperti Hosti Kudus yang Anda terima setiap kali Misa, dan berbisik , ” Anak-Ku, Jangan bersedih, karena tidak lama lagi Aku akan mati disalibkan untukmu agar engkau hidup dan selamat .”

Pagi ini Kuyakinkan engkau bahwa ketika daun-daun pohon duniawi tidak bisa melambai bahkan jatuh berguguran sehingga tidak bisa menyambut-Nya, maka Yesus sendirilah yang membawa daun-daun pohon surgawi dan melambaikan di ke dalaman hati dan jiwamu.

Inilah yang terjadi bahwa selama ini Ia menantimu di gereja tapi mungkin kadang dan bahkan engkau tidak datang kepada-Nya, maka saat ini Dia sendirilah yang mendatangi rumah, keluarga bahkan jiwamu masing-masing.

Akhirnya kumohonkan berkat Allah untukmu; Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amin
🙏🙏🌿🌿🌿🙏🙏

Minggu Palma, Kenapa Simbolnya Daun Palem?

 

🌿Minggu Palma, Kenapa Simbolnya Daun Palem?

Minggu Palma merupakan peringatan dalam liturgi gereja Kristen yang jatuh pada hari Minggu, sebelum Paskah. Perayaan ini merujuk kepada peristiwa yang dicatata empat Injil. Markus 11:1-11, Matius 21:1-11, Lukas 19:28-44 dan Yohanes 12:12-19. Perayaan ini mengenang peristiwa masuknya Yesus ke kota Yerusalem sebelum Dia disalibkan.

Minggu Palma ini juga disebut dengan pembuka pekan suci. Pasalnya, masuknya Yesus Kristus ke kota suci Yerusalem terjadi sebelum Yesus mati dan bangkit dari kematian. Dalam liturgi Minggu Palem, seluruh umat dibagikan daun palem. Tak hanya itu saja, ruang gereja pun dipenuhi daun palem.

Mungkin, banyak orang yang belum tahu kenapa Minggu Palma dipenuhi dengan daun palem. Para umat pun kerap berfoto sambil memegang daun tersebut. Ternyata, dilansir dari media lokal, daun palem ini menjadi simbol Minggu Palma. Karena, daun palem memiliki makna kemenagan.

Lebih lanjut, pada Minggu Palma, daun tersebut digunakan untuk menyatakan kemenangan martir atas kematian. Daun palem yang berwarna hijau juga memiliki makna tersendiri. Hijau adalah warna dari tumbuh-tumbuhan dan musim semi. Media tersebut menulis, musim semi di atas musim salju. Hal ini melambangkan kehidupan di atas kematian. Hijau yang merupakan campuran antara warna kuning dan biru itu juga melambangkan amal dan registrasi dari pekerjaan jiwa yang baik.

Selamat merayakan Minggu Palma.
Tuhan memberkati kita semua 🙏

Menangkal Radikalisme Melalui Dialog dan Kerjasama Lintas Agama, 29 Februari 2020

 

Dalam rangka menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat lintas agama di suatu lingkungan, para ketua-ketua lingkungan adalah ujung tombak peran Seksi HAAK (Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan) Gereja.

Seksi HAAK Paroki Rawamangun Gereja Katolik Keluarga Kudus, telah menyelenggarakan acara pembekalan “MENANGKAL RADIKALISME MELALUI DIALOG dan KERJASAMA LINTAS AGAMA.” Sabtu, 29 Pebruari 2020 pk. 08.00 – 13.00 WIB bertempat di Aula SMP Tarakanita IV Rawamangun – Jakarta Timur.

Acara didahului dengan : Doa Pembuka, Lagu Indonesia Raya, dan sambutan dari Pastor Kepala Paroki, Rm. Yulius Edyanto, MSF

Moderator : Bapak Budhi Hendarto

Sesi 1. Spiritual Keadilan Eko Sosial. Oleh : Rm. Andang L. Binawan, SJ.  Pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara.

Sesi 2. Hubungan Kemasyarakatan. Oleh : Bapak Paulus Krisantono, Mantan anggota DPR-RI (3 periode), Mantan anggota MPR-RI (1 periode).

Sesi 3. Politik Identitas dan Intoleransi Serta Sepak Terjang Kaum Radikalisme di Indonesia. Oleh : Bapak Trias Kuncahyono Mantan Pemimpin Redaksi Harian Kompas.

Acara ini diakhiri dengan pembagian doorprize kepada peserta yang beruntung dan doa penutup sekaligus doa makan siang.

Acara pembekalan ini terselenggara berkat kerjasama antara Romo Paroki, DPH, PEKAD, SKP, OMK dan CU BINA SEROJA. Selamat dan sukses. (By Sie Komsos).

Bersyukurlah kepada Tuhan!

 

~ Bersyukurlah kepada Tuhan! ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus hadir serta mengalir, mengasihi dan memberikan nyawaNya sebagai tebusan bagi banyak orang.
Adapun teladan Kristus ini mengajak kita untuk merenungkan dua hal yang mendasar dalam hidup kita sebagai orang beriman, antara lain:

1. Panggilan
PANGGILAN untuk ‘menyembuhkan’ sesama ini menuntut kerendahan hati untuk tetap mengampuni meski disakiti, tetap mengasihi sekalipun tidak dihargai, karena kita melihat sesama diciptakan seturut rupa Allah sebagai berharga di hadapanNya.

Di sinilah kita menyadari panggilan untuk saling mencintai sesama yang tidak sempurna, secara sempurna.

2. Pertobatan
PERTOBATAN dengan terus berupaya menemukan wajah Allah di setiap warna kehidupan, karena memang kecenderungan dalam diri setiap orang untuk berbuat dosa itu tetap ada, namun “Bencilah dosa, tetapi cintailah pendosa.”

Di sinilah kita diajak mengampuni, melayani, dan mengasihi lebih sungguh dengan hati penuh cinta, membawa cahaya iman bagi hidupnya, sehingga mereka mengalami belaskasih Allah melalui hidup dan karya kita sebagai rasul Kristus yang sejati.

Saudaraku, semoga perwujudan ‘panggilan’ dan ‘pertobatan’ kita ini tetap dipenuhi oleh sukacita iman, karena kita diperkenankan ikut ambil bagian jadi teladan cintakasih bagi sesama.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria selalu menyertai kita sekeluarga yang setia menjawab panggilanNya. Amin.