Menyelami Kehadiran Sang Maha Rahim Dalam Momen 24

 

Pagi itu, Misa Harian di Gereja Katolik Keluarga Kudus Paroki Rawamangun terasa beda. Udara dingin yang membungkus sejak malam, nampaknya tidak mengurangi minat sebagian umat untuk memenuhi lebih dari separo bangku Gereja guna mengikuti Misa Harian Jumat Pertama di bulan Maret 2016 yang terasa istimewa. Mengapa saya menyebutnya istimewa? Tentu saja andapun akan setuju dengan saya kalau anda mengetahui bahwa Misa Pagi itu merupakan penanda dibukanya “Momen 24 Jam Untuk Tuhan” di Paroki Rawamangun. Tidak seperti hari-hari biasa, pagi itu nampak ada Petugas Koor, Organist, Misdinar, Prodiakon & Kolektan yang sudah siap di postnya masing-masing sebelum Misa dimulai.

Sebenarnya Momen 24 Jam Untuk Tuhan itu apasih?
Seperti telah kita ketahui, tahun 2016 merupakan tahun penuh rahmat bagi umat Katolik di seluruh dunia. Mengapa? Karena, tahun tersebut ditetapkansebagai Yubileum atau Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman  Allah oleh Bapa Suci Paus Fransiskus, yang ditandai dengan dibukanya Pintu Suci di Basilika Santo Petrus Vatikan pada 8 Desember 2015 hingga berakhir pada 20 November 2016.
Selama Yubileum Kerahiman tersebut, Paus Fransiskus mengajak kita untuk mengalaminya secara pribadi, memperdalam pemahaman dan keyakinan kita bahwa Allah adalah Maharahim, menjalani pertobatan dan mewujudkannya dalam kehidupan nyata sehingga hidup kita diperbaharui dan masadepan kita penuh pengharapan.
Sehubungan dengan hal tersebut, sepanjang tahun Suci ini Keuskupan Agung Jakarta membuat 3 gerakan yang diharapkan dilaksanakan oleh Gereja-Gereja di bawah naungannya, yaitu :
1.    Momen 24 jam untuk Tuhan
2.    Gerakan Iman/ Rohani Jumat Adorasi, Sabtu Rekoleksi dan Novena serta Minggu Amal Kasih
3.    Ziarah Rohani 9 GEREJA
Momen 24 jam untuk Tuhan adalah salah satu sarana bagi umat Katolik untuk mendekatkan diri pada Tuhan Sang Maha Rahim. Dengan adanya Momen ini, kita diharapkan menyadari betapa setianya Allah kepada kita dengan selalu hadir dan turut berjuang dalam setiap tarikan nafas dan langkah kita. Kehadira Nya bukan hanya ketika kita sedang bersuka cita, tetapi juga ketika kita menderita, terpuruk, tersisih, jatuh dalam dosa, hidup tanpa arah, dan kehilangan harapan. Intinya, seluruh umat didorong untuk hidup semakin mengarah pada Tuhan sepanjang waktu dengan bertobat, melakukan rekonsiliasi, peduli, dan berbela rasaserta lebih mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam sukacita Injili di masyarakat.
Di Paroki Rawamangun, Momen ini dimulai dari Jumat pagi 4 Maret 2016 mulai pukul 05.45 sampai dengan Misa Penutupan pada pukul 05.45 hari berikutnya. Rangkaian Kegiatan Momen 24 Jam Untuk Tuhan diParoki Rawamangun diisi dengan Misa, Perarakan, Pentahtahan & Adorasi Sakramen Maha Kudus, Jalan Salib,dan juga penerimaan Sakramen Tobat selama 24 jam penuh, sesuai agenda yang telah disebarkan dalam Warta Minggu maupun dalam Banner yang dipasang di depan Pintu Masuk Gereja sejak beberapa waktu sebelumnya.
Pada kesempatan tersebut, umat diberi kesempatan untuk mengikuti acara yang ada dengan menyesuaikan waktu yang dimiliki masing-masing. Adorasi dilaksanakan secara bergiliran dengan rata-rata waktu 1 jam, dipandu oleh Kelompok yang telah ditetapkan pada saat Sosialisasi tanggal 23 Februari 2016 yang lalu. Beberapa Kelompok nampak ada yang membawa alat music gitar, Keyboard, biola, menyetel music,  bahkan dari Kelompok OMK menyiapkan asesoris berupa sebuah salib setinggi sekitar 1 meter  yang dikelilingi lilin-lilin kecil untuk mengajak umat masuk dalam doa yang khusuk.
Di emperan Gereja, disediakan konsumsi alakadarnya seperti teh, kopi, jahe, aqua, mie instan cup, minuman sachet  & minuman botol serta beberapa makanan ringan dan berat yang hampir seluruhnya adalah sumbangan dari para Donatur.
Penyelenggaraan acara ini dimotori oleh Team Penggerak Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah yang biasa disebut dengan Team 10, dibantu Panitia KEP 18 & 19 serta WKRI, dengan diprakarsai oleh Romo Kepala Paroki Rm Antonius Suyata, MSF.
Dalam kotbahnya pada Misa Jumat Pertama Sore, Rm Tony menyatakan kegembiraannya akan animo umat dalam mengikuti Momen ini baik dalam hal tenaga, keterlibatan maupun sokongan dana. Meski kadang ada yang mengatakan bahwa penuhnya kamar pengakuan itu berbanding lurus dengan banyaknya perbuatan dosa yang telah dilakukan umat, namun kita patut bersyukur. Mengapa? Karena, itu berarti umat mempunyai kesadaran dan semangat untuk bertobat serta memperbaiki diri. Jadi, sudah sepantasnyalah Gereja merayakan kembalinya sianak hilang dan menyebut Momen ini sebagai sebuah Pesta.
Mulai dari Misa pagi, Misa siang hingga Misa sore, umat yang hadir rata-rata melebihi jumlah separo bangku yang disediakan.  Adorasi yang diadakan bergiliran setiap  jam tidak pernah sepi dengan minimal kehadiran sekitar 20 orang. Tak ketinggalan, Ruang Pengakuan yang dibuka selama 24 jam juga diserbu ratusan umat baik yang berasal dari Rawamangun atau punumat Paroki sekitar yang mengantri tiada henti sejak pukul 5 pagi, hingga membuat kewalahan Romo Paroki Rawamangun yang hanya berjumlah 2 orang. Saking banyaknya umat yang mengakudosa, kedua Romo tersebut hampir tidak memilki kesempatan untuk beranjak dari kamar pengakuan. Entah seperti apa pegal dan capeknya raga kedua Romo tersebut karena baru bisa meninggalkan Kamar Pengakuan sekitar pukul 3 dini hari. Mungkin bantuan RohKuduslah yang menguatkan keduanya.
Di bawah Altar, adorasi Sakramen Maha Kudus terus menerus berlangsung dengan kidmat. Tak peduli panas terik siang hari, hujan mengguyur di tengah malam, raga lelah sehabis kerja, wajah mengantuk, namun hingga penutupan tiba, umat tetap bersemangat mengikutinya. Menjelang pagi, umat di luar Gereja tak juga surut bahkan pada pukul 3 dini hari, beberapa mobil nampak beiringan memasuki halaman Gereja membawa puluhan umat yang mendapat giliran Adorasi Sakramen Maha Kudus di dua jam terakhir.
Menjelang Misa penutupan Momen pada pukul 05.45, beberapa umat mulai mengantri kembali di depan Ruang Pengakuan Dosa.
Dan akhirnya, Momen pun ditutup sekitar pukul setengah  7 dengan hati lega dan puas.
Profisiat untuk umat Rawamangun, tetap semangat!! SemogaTuhan senantiasa memberkati karya pelayanan dan usaha pertobatan kita semua.

Petik Sampah Bersama 2016

 

Saat ini, sampah merupakan salah satu masalah terbesar yang dihadapi Jakarta. Oleh karena itu, dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada 21 Februari 2016, Sie. Lingkungan Hidup, HAAK, dan Komsos Paroki Keluarga Kudus Rawamangun mengadakan Petik Sampah Bersama pada hari Sabtu, 20 Februari 2016. Dalam acara ini, umat Paroki Keluarga Kudus Rawamangun diajak untuk ikut membersihkan lingkungan sekitar gereja dan mengenal cara mendaur ulang sampah bersama Dinas Kebersihan DKI Jakarta.

Pelataran Aula Betlehem tempat berlangsungnya sebagian besar rangkaian acara sudah mulai terisi oleh peserta Petik Sampah Bersama sejak pukul 06.00. Selain registrasi, sebagian peserta juga mengumpulkan sampah yang mereka bawa dari rumah masing-masing untuk ditimbang oleh Dinas Kebersihan dan ditukarkan dengan saldo dalam bank sampah. Untuk menambah semangat peserta, Sie. Lingkungan Hidup pun memimpin seluruh peserta yang berasal dari berbagai kalangan dan usia ini melakukan senam pagi. Acara dibuka dengan doa pembuka yang dipimpin Romo Budi dan sambutan dari Romo Toni yang berisikan harapan bahwa sampah bisa menjadi berkat. Ibu Lurah Rawamangun pun turut menyampaikan kebahagiaan beliau karena bisa turut berpartisipasi dalam acara yang bertujuan meningkatkan kebersihan. Selain itu, Wakil Kadin Kebersihan DKI Jakarta, Pak Ali Maulana Hakim juga menyempatkan hadir dalam acara Petik Sampah Bersama. Beliau menyampaikan bahwa saat ini penduduk Jakarta menghasilkan 6.700 ton sampah setiap harinya – banyak di antaranya dibuang ke kali yang tidak bisa bersih dengan mengandalkan petugas kebersihan saja, tetapi juga membutuhkan partisipasi seluruh warga untuk membuang sampah pada tempatnya.
Setelah sambutan dari Romo Andang Binawan dari KAJ dan sosialisasi mengenai aplikasi Qlue milik Pemprov DKI oleh Mas Agung Prabowo, pada pukul 07.45, peserta yang berkumpul di lapangan pun memisah-misahkan diri, bergabung dengan kelompok-kelompoknya masing-masing yang dibagi saat registrasi. Setiap kelompok dibekali karung untuk mengangkut sampah dan sarung tangan plastik. Selain itu, mereka juga ditemani oleh beberapa orang petugas Dinas Kebersihan yang akan membantu pemilahan sampah menjadi organik dan anorganik. Petik Sampah Bersama dimulai dari gereja hingga perempatan RS Persahabatan dan kembali lagi ke gereja. Selama acara berlangsung, semua peserta terlihat antusias untuk ikut membersihkan lingkungan sekitar gereja. Sekembalinya di gereja, sampah yang telah dikumpulkan tiap kelompok ditimbang lalu diangkut oleh Dinas Kebersihan. Para peserta pun disambut dengan snack dan minuman di Aula Betlehem. Acara dilanjutkan dengan sambutan Ibu Tuti Hendrawati selaku Dirjen Pengelolaan Sampah dan B3 serta sosialisasi cara pengolahan sampah organik agar menjadi bermanfaat oleh Pak Sutarno. Pada acara Petik Sampah Bersama ini juga, Sie. Lingkungan Hidup mengumumkan pemenang Lomba Eco-Decoration Altar yang telah berlangsung sepanjang tahun 2015, pemenang timbangan sampah terberat setelah Petik Sampah Bersama dan kelompok terbaik. Acara ditutup dengan doa dan foto-foto bersama seluruh peserta.
Semoga melalui acara ini, kepedulian umat Paroki Keluarga Kudus Rawamangun terhadap sampah tidak berhenti setelah selesainya acara, tetapi berlanjut terus dan semakin semangat. (Mary)

Harmoni Kolaborasi Enam Paduan Suara di Malam Kidung Mazmur

 

Saat beribadah di gereja, ayat-ayat dalam kitab Mazmur selalu hadir dalam bentuk nyanyian merdu pemazmur. Namun, seiring dengan tuntutan zaman, para pencipta lagu di Yayasan Musik Gereja (Yamuger) merasakan kidung Mazmur membutuhkan pembaharuan. Mereka mengaransemen ulang sejumlah lagu-lagu Mazmur yang dituangkan dalam Buku Nyanyian Kidung Mazmur. Akhirnya pada hari Jumat, 29 Mei 2015 lalu, terdengar alunan merdu kidung mazmur baru  dari paduan suara 6 gereja dalam acara “Malam Kidung Mazmur” di Gereja Keluarga Kudus Rawamangun. Acara ini sekaligus meluncurkan Buku Nyanyian Kidung Mazmur yang baru.

Para paduan suara dalam Malam Kidung Mazmur, yakni Paduan Suara Anak Ascensio, Kharis Choir GPIB Kharis Jakarta, Paduan Suara GKI Buaran, Paduan Suara Yamuger, Paduan Suara Cantate Paroki Keluarga Kudus Rawamangun dan Paduan Suara Gabungan HKBP Rawamangun. Semua paduan suara kompak dalam balutan baju hitam dan aksesoris oranye.

“Kami membuat aransemen ulang kidung mazmur sesuai dengan perkembangan irama lagu zaman sekarang serta agar lebih mudah dipahami” kata Bapak DR. Nainggolan; Pengurus Yamuger, dalam sambutannya dilanjutkan dengan pemukulan gong sebagai tanda dibukanya acara.

Isi kitab Mazmur yang dinyanyikan beragam, antara lain pujian syukur atas berkat Tuhan; ”Berbahagialah Semua Orang yang Berlindung pada Tuhan“ oleh Paduan Suara Anak Ascensio. Selain itu, doa permohonan pertolongan dan perlindungan: “Ya Tuhan Berilah Kami Pertolongan-Mu” dibawakan oleh Kharis Choir GPIB Kharis.

“Dalam kidung-kidung Mazmur, pergulatan hidup manusia dapat kita temukan. Saya menikmati indahnya Mazmur tidak hanya dengan mendengarkannya, namun sambil membaca teksnya.” kata Romo Antonius Suyata, Kepala Paroki Gereja Keluarga Kudus Rawamangun.

Sebelum sampai ke akhir acara, “Allah Perlindungan dan Kekuatan” serta “Firman-Mu Tuhan yang Aku Puji” dinyanyikan bersahutan dengan kompak oleh keenam paduan suara, Semarak acara ini diakhiri dengan penerimaan karangan bunga serta foto bersama perwakilan dari setiap paduan suara, para pencipta lagu dari Yamuger, Romo Toni dan Frater Budi.

Tepuk tangan penonton yang meriah pada akhir acara untuk para panitia dan paduan suara menunjukkan apresiasi para penonton terhadap penyelenggaraan acara ini. Tepuk tangan tersebut sekaligus menunjukkan antusiasme penonton terhadap aransemen baru nyanyian Mazmur yang diperdengarkan dan menjadi bukti kesuksesan upaya pembaharuan nyanyian-nyanyian Mazmur tersebut.

(Putri Rosarie)

Hari Minggu Panggilan Sedunia

 

Pada tanggal 26 April 2015, sebagai orang Katolik, kita akan memperingati hari Minggu Panggilan seluruh dunia. Di gereja Keluarga Kudus, Rawamangun pun begitu terlihat adanya peringatan khusus dengan mengundang beberapa Suster dan Frater. Perayaan ini memang akan selalu dibuat di setiap gereja karena menanamkan benih panggilan terutama di kaum muda Katolik. Memang pada zaman modern seperti sekarang ini, terlihat bahwa hal duniawi begitu menarik untuk dibahas dibandingkan hal surgawai. Tidak terpungkiri, anak hingga kaum muda pun masih sedikit yang benar-benar terlibat aktif dalam dunia menggereja. Itulah yang mendasari bahwa hari Minggu Panggilan ingin memanggil kembali dan juga bisa menanamkan benih untuk anak hingga kaum muda ikut dalam kehidupan membiara.

Pada tahun ini, gereja Keluarga Kudus, Rawamangun mengadakan hari Minggu Panggilan dengan mengundang beberapa Suster dan Frater yang diawali dengan tugas koor saat perayaan misa jam 08.30 WIB. Pertama kali saya dan mungkin beberapa umat gereja menyaksikan langsung Suster dan Frater bertugas dan menyanyikan lagu dengan indah. Nuansa yang terbangun pun menjadi lebih bermakna karena terlihat dengan jelas bahwa tugas Suster dan Frater melayani umat melalui bertugas sebagai koor. Sebelum dimulai misa, penari modern mempertunjukkan keahliannya dan membuat umat terkesima. Kemudian tidak kalah menariknya, ada adik-adik yang bernyanyi di depan altar. Adik-adik yang bernyanyi membuat umat kagum karena keberanian dan bagusnya suara mereka. Acara yang berlangsung selama misa terasa begitu khidmat dengan kehadiran para biarawan biarawati yang secara langsung. Tidak lupa juga, tahun ini Misdinar Keluarga Kudus, Rawamangun beserta paguyuban orang tua menjadi petugas tata tertib. Pengalaman pertama kami sebagai tatib selain melayani langsung di altar gereja. Setelah kami membagikan tugas, kami segera memasuki gereja untuk membagikan kotak PUCI dan mendiami titik untuk menjaga keamanan di dalam gereja. Yang menjadi kekaguman lainnya saat Diakon Budi menyampaikan kotbah dengan diselingi permainan biolanya.

Bacaan Injil pada hari Minggu Panggilan ini dari Yohanes 10:11-18. Saat saya bertugas sebagai tatib yang berkeliling di dalam gereja, bagian injil yang saya ingat yaitu “Akulah gembala yang baik. Aku mengneal domba-domba-Ku, dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. Ada lagi pada-ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus kutuntun juga; mereka akan mendengarkan suara-Ku, dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” Dari bagian injil tersebut, saya berpikir bahwa para biarawan-biarawati juga akan menghadapi realitas kehidupan kini. Terutama saat bertemu dengan awam dan bukan beragama Katolik. Para biarawan-biarawati menjadi gembala bagi seluruh umat terutama bagi umat Katolik. Umat Katolik akan dituntun kepada jalan Tuhan untuk mendapat keselamatan. Tanpa para biarawan dan biarawati, kita akan binasa karena tidak mengenal Tuhan. Karena di dalam Tuhanlah ada keselamatan. Kita sebagai umat Katolik pun pasti selalu mendengar bahwa tuaian banyak tetapi petugas sedikit. Itulah yang dialami dalam dunia biarawan-biarawati kini terutama dalam dunia remaja atau kaum muda.

Hal ini bisa kita lihat saat kita menyadari masih banyak anak dan kaum muda yang lebih mengutamakan kegiatan di luar gereja, seperti lebih memilih untuk bersenang-senang dengan teman lainnya saat waktunya ke gereja. Saya sebagai kaum muda yang berada di jenjang perkuliahan pun menyadari bagaimana situasi di luar gereja. Di kampus pun masih banyak teman-teman yang lebih memilih untuk berkegiatan dan melupakan gereja. Bahkan jika saat keimanan saya terasa jenuh, kegiatan yang jauh dari kaitan gereja malah membuat semakin kita tidak merasakan kehadiran Tuhan. Saya pun harus kembali ke dalam suatu kumpulan atau komunitas yang mengingatkan saya untuk selalu dekat dengan Tuhan.

Hari Minggu Panggilan kali ini sangat terasa maknanya bagi saya terutama sebagai seorang Misdinar. Walaupun saya sudah masuk dalam kategori kaum muda, tetapi kegiatan Misdinar benar-benar memberi pelajaran kepada saya untuk menjadi terpanggil. Alasan klise bagi setiap anak Misdinar pemula menjadi Misdinar adalah untuk melayani Tuhan dan ingin lebih dekat pada-Nya. Mungkin sebagian besar anak yang mengatakan itu belum penuh kesadaran untuk menghayatinya. Tetapi terpanggil menjadi Misdinar sungguh terasa saat kita beranjak dewasa dan mulai mengkaitkan dengan kehidupan beriman pribadi.

Saat pengurus Misdinar mengadakan berbagai kegiatan terutama berkaitan dengan kehidupan membiara, hal itu sungguh berdampak. Pada awal kegiatan pertama saat melakukan Ret-Ret, iman kita dibangun dengan bantuan dari Romo-Romo yang mendampingi selama Ret-Ret. Dalam Ret-Ret pun pernah diceritakan bahwa Romo-Romo pendamping dulunya pun menjadi anggota Misdinar. Kemudian saat adanya pembinaan karakter, Romo Tarno dan Suster Auxiline juga menekankan bahwa Misdinar menjadi pupuk yang subur akan adanya panggilan Tuhan untuk membiara. Dan pada kegiatan terakhir kami ziarah rekreasi ke Yogyakarta, yang khusus mengenal berbagai panggilan Tuhan, anggota Misdinar pun semakin menanggapi panggilan Tuhan. Sudah ada beberapa calon-calon Romo dan Suster yang menanggapi panggilan Tuhan.

Setelah misa berlangsung, di Aula SMP Tarakanita 4 diadakan kegiatan bersama dengan para Suster dan Frater yang diselenggarakan oleh Seksi Panggilan Paroki Keluarga Kudus, Rawamangun. Kegiatan ini memberi perkenalan mengenai berbagai ordo di Indonesia untuk diketahui jika ada yang terpanggil membiara di antara teman-teman yang datang. Tahun ini pun lebih menargetkan ke anak-anak, hal ini untuk menumbuhkan benih-benih panggilan karena di usia SD inilah mampu ditanamkan nilai-nilai membiara dengan mudah. Teman-teman bergembira karena para Suster dan Frater yang menyenangkan ditambah dengan acara permainan yang banyak hadiahnya. Para Suster dan Frater pun begitu memberi kasih kepada seluruh yang datang dengan keramah-tamahannya. Acara selesai dengan memberikan hadiah bagi para pemenang dan memberi kesan begitu menggembirakan terutama pengalaman berkegiatan dengan para biarawan dan biarawati.

Melalui Hari Minggu Panggilan tahun ini, saya bisa melihat bahwa begitu indah panggilan Tuhan sendiri. Kita akan mampu mengenal jauh lebih mendalam dengan Tuhan. Terutama saat menjadi anggota dan pengurus Misdinar, kami diberi kesempatan merasakan pengalaman yang memperdalam iman sebagai pengikut Kristus. Saya pun selalu melihat kebaikan Tuhan terutama saat melayani umat melalui kegiatan Misdinar ini. Panggilan untuk menjadi pelayan Tuhan melalui Misdinar ini pun sungguh nyata dan pasti membawa berkat. Panggilan yang sudah terpupuk kini, haruslah bisa dijaga oleh setiap orang tua dan terutama Gereja. Para Romo dan Suster pun tidak akan pernah meninggalkan kita jika memang kita terpanggil untuk hidup membiara. Janganlah takut untuk menjawab panggilan-Nya, karena bagi saya sendiri panggilan-Nya begitu terasa indah dan membawa kita semakin mengenal Tuhan.

(Marcella Reina P.)

Seminar Nota Pastoral

 

Sabtu, 25 April 2015.

Seksi Pendidikan bekerjasama dengan Sentra Belajar Guru mengadakan Seminar Nota Pastoral Pendidikan sebagai bentuk sosialisasi reksa pastoral pendidikan bagi para pengajar, bertempat di Aula Bethlehem dengan nara sumber bruder Heri dan Romo Dion.

Berawal dari keprihatinan para Uskup yang merasa bahwa rasa kebangsaan dan kekatolikan di Lembaga Pendidikan Katolik (LPK) mulai menurun. Banyak dari lembaga pendidikan tersebut yang kehilangan arah serta misi visi dari sang pendiri, terlebih dengan berorientasi pada profit menjadikan lembaga-lembaga ini sebagai media bisnis.

Pada sesi awal bruder Heri menjelaskan bahwa ada 3 bentuk badan hukum penyelenggaran LPK, yaitu:
1. Yayasan
2. Perkumpulan
3. Badan

Landasan hukumnya pun dijelaskan dalam Kitab Hukum Kanonik no. 803:
1. Sekolah katolik ialah suatu sekolah yang dipimpin oleh otoritas gerejawi yang berwenang atau oleh badan hukum gerejawi publik atau yang diakui demikian oleh otoritas gerejawi melalui dokumen tertulis.

  1. Pengajaran dan pendidikan di sekolah katolik harus berdasarkan asas-asas ajaran katolik; hendaknya para pengajar unggul dalam ajaran yang benar dan hidup yang baik.
  2. Tiada satu sekolah pun, kendati pada kenyataannya katolik, boleh membawa nama sekolah katolik, kecuali dengan persetujuan otoritas gerejawi yang berwenang.

Inti dan ciri khas dari sebuah LPK adalah:
1. Setia mencerdaskan bangsa
2. Setia pada iman Katolik
3. Setia pada semangat dan cita-cita pendiri
4. Media pewarta kabar gembira
5. Unggul dalam pendampingan kaum muda
6. Berpihak pada yang miskin

Kendati demikian masih banyak tantangan dan persoalan dalam membangun pendidikan yang sesuai dengan iman Katolik, diantaranya:
1. LPK kurang memahami filosofi pendidikan katolik.
2. Gereja masih belum maksimal dalam memberikan reksa pastoral pendidikan
3. Kentalnya politisasi pendidikan di Indonesia
4. Manajemen LPK yang belum profesional
5. Lemahnya kualitas pendidik dalam hal kemampuan akademis, manajerial, dan kepemimpinan
6. Keterbatasan biaya penyelenggaraan pendidikan
7. Jumlah penurunan peserta didik yang signifikan tiap tahunnya.

Penting untuk dipahami bahwa pendidikan kristiani berawal dari inspirasi iman yang kemudian menjadi mediator bagi perubahan sosial. Dan pada akhirnya para peserta didik akan memiliki hidup yang bermakna, cerdas secara holistik, dan menjadi pewarta kerajaan Allah bagi sesama. (BB)

Mencintai Lingkungan pada Earth Hour 2015

 

Tanggal 28 Maret sudah umum diperingati dunia sebagai hari pelaksanaan Earth Hour, yakni kegiatan mematikan lampu dan alat-alat elektronik selama satu jam sebagai bentuk cinta kita pada bumi. Dalam rangka meningkatkan kecintaan pada bumi, maka pada 28 Maret 2015, sebagai rangkaian peringatan Earth Hour, Sie. Lingkungan Hidup Paroki Keluarga Kudus Rawamangun mengadakan sejumlah acara yang berwujud kepedulian kepada bumi.

Acara dimulai dengan fun walk yang diadakan pada pukul 06.00 pagi dengan titik start di depan Aula Betlehem, Gereja Keluarga Kudus Rawamangun. Acara dibuka dengan doa oleh Romo Tarno yang juga turut serta mengikuti kegiatan ini. Selanjutnya panitia mengumumkan rute yang akan ditempuh yakni dari gereja menuju perempatan RS Persahabatan dan kembali lagi ke gereja. Para peserta yang berjumlah lebih dari 250 orang pun akhirnya memulai perjalanan mereka bersama Romo Tarno dan Romo Rinata.

Rute fun walk berhasil ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit. Sekembalinya para peserta ke depan Aula Betlehem, mereka diberi waktu istirahat sebentar sebelum acara dilanjutkan dengan senam bersama. Senam yang dipimpin oleh beberapa anggota Sie. Lingkungan Hidup ini disambut antusias oleh para peserta hingga diulang lagi.

Setelah senam irama, seluruh peserta dipersilakan menikmati snack dan beristirahat sejenak. Namun, rangkaian acara belum selesai. Sesudah waktu istirahat tersebut, ada dua kegiatan yang bisa dilakukan oleh peserta, yakni kerja bakti membersihkan gereja atau mengikuti sosialisasi pembuatan biopori yang disampaikan oleh Pak Widyatmaka.

Biopori merupakan lubang yang dibuat di dalam tanah untuk menyimpan sampah organik. Sampah dalam biopori itu nantinya akan menjadi kompos yang dapat diambil dan diisi lagi setiap tiga bulan sekali. Selain itu, biopori juga dapat berfungsi sebagai tempat resapan air. Cara pembuatannya pun mudah, hanya perlu melubangi tanah dengan alat yang dapat dipinjam di gereja selama tiga hari dengan kedalaman sedalam alat tersebut lalu memasukkan sampah-sampah organik ke dalam lubang tersebut. Pada kesempatan ini, para peserta dapat langsung mencoba membuat lubang biopori.

Akhirnya, setelah kedua kegiatan tersebut selesai, acara pagi itu diakhiri dengan pengumuman peserta terbaik dalam fun walk serta penyerahan hadiah dan makan bersama.

@marchelsa