Murah hati seperti Bapa

 

~ Murah hati seperti Bapa ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengajarkan “Allah yang Maharahim” melalui perumpamaan tokoh “sang bapa” yang memiliki dua orang anak dengan karakter yang berbeda:

1. Anak bungsu
Anak yang MENEGARKAN HATINYA dengan meminta warisan dan meninggalkan rumah bapanya, serta menghabiskan harta warisan untuk berfoya-foya.

2. Anak sulung
Anak yang MENJAUHKAN HATINYA dengan menghayati diri sebagai seorang ‘pelayan’ dan tidak merasakan rahmat-Nya yang begitu besar, sehingga ia tega menuntut pemberian upah dari bapanya atas segala jerih-payah dan pekerjaan yang dilakukan.

Kedua karakter anak ini gagal untuk menghargai ‘status’ dan ‘kedudukan’ mereka sebagai anak-anak yang diperkenankan hidup dalam persekutuan dengan bapanya.

Sebaliknya karakter tokoh ‘sang bapa’ dengan kasih-sayangnya, akhirnya berhasil mengembalikan kedua anaknya kepada ‘status’ dan ‘kedudukan’ sebagai anak-anak yang dikasihinya.
Adapun karakter tokoh ‘sang bapa’ yang berbelas kasih ini nampak dalam sikapnya, antara lain:
¤ menerima dan menghargai kerapuhan anaknya
¤ tidak mudah menghakimi dan menuding kegagalan anaknya
¤ mengampuni dan menerima kembali anaknya.

Karakter tokoh ‘sang bapa’ inilah yang dipakai oleh Yesus untuk menggambarkan karakter Allah yang berbelas-kasihan yaitu: Allah yang Maharahim.
Kita membutuhkan dua hal mendasar agar sungguh mengalami Allah yang berbelas-kasihan, antara lain:

1. Pembaruan
Peristiwa PEMBARUAN, yaitu pembaruan yang dinyatakan dalam peristiwa penebusan Kristus. Tanpa peristiwa pembaruan, maka ‘anak bungsu’ dan ‘anak sulung’ dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah menyadari makna kerahiman dan kemurahan bapanya. Mereka akan hidup dalam permusuhan dan tidak saling menghargai serta menyayangi.

Di sinilah kita perlu menyadari bahwa kita juga membutuhkan ‘pemulihan’ dan ‘pembaruan’ oleh Roh Kudus.

2. Spiritualitas
Peristiwa SPIRITUALITAS, yaitu: nilai-nilai iman yang dihayati secara eksistensial dalam kehidupan kita, sehingga menghasilkan dampak yang transformatif.

Di sinilah kita diajarkan bagaimana nilai-nilai SPIRITUALITAS menjadi suatu kenyataan hidup apabila kita mengalami perjumpaan dengan Allah dengan paradigma yang baru sebagaimana terlihat dalam perjumpaan bapa dengan “anak bungsu” yang pulang kembali ke rumah bapanya, dan “anak sulung” yang disadarkan akan statusnya sebagai seorang anak sulung dan pewaris.

Saudaraku, marilah kita bertobat dan kembali pulang ke rumah Bapa yang maharahim dan berbelas-kasihan.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai perjuangan kita sekeluarga untuk bertobat. Amin.

(Visited 53 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *