Manusia adalah serigala bagi sesamanya

 

– Manusia adalah serigala bagi sesamanya –

Inilah sikap kekerasan dan pembunuhan yang banyak terjadi karena bermula dari perbedaan pemahaman. Ada kelompok yang memahami suatu ajaran agama secara sempit, lalu memutlakkan keyakinannya dan harus diikuti oleh semua orang.
Kelompok ini menjadi seperti ‘serigala’ yang ganas dan buas. Barangsiapa tidak sepaham dengan kelompoknya, mereka harus dihukum dan kalau perlu dibunuh.
Kelompok semacam ini memiliki kesetiaan buta terhadap ajaran, tradisi dan keyakinannya, mereka sering merasa paling benar sendiri dan harus menang.

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, mengajarkan kepada kita sikap rendah hati dan bijaksana, bahwa dalam diri sesama yang barangkali berbeda dan tidak sepaham dengan kita ada banyak kebaikan dan cinta.
Adapun tiga ajakan yang perlu kita maknai agar kita tetap memiliki sikap rendah hati dan bijak, serta mengandalkan belas kasih Allah, antara lain:

1. Percaya
Yesus meminta kita untuk PERCAYA kepadaNya, karena Dia melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa. Dengan percaya pada pekerjaan-pekerjaan itu, maka kita dapat bertahan dalam cobaan karena Bapa ada di dalam Dia dan Dia ada di dalam Bapa.

Di sinilah kita diajak untuk selalu mengandalkan Allah manakala kita mengalami penderitaan dan kemalangan.
Apa pun tantangannya, jangan pernah mundur tapi tetap bersyukur dalam pengharapan, sebab di balik setiap masalah, Kristus selalu setia untuk hadir dan menyertai kita lewat banyak hal yang baik, serta melalui orang yang baik.

2. Penderitaan
Yesus mengalami PENDERITAAN ketika Ia berusaha menjelaskan identitasNya kepada orang-orang Yahudi melalui perkataan dan perbuatanNya, namun mereka tetap saja tidak percaya bahkan mereka mengacam akan membunuhNya.

Di sinilah kita diajak untuk menjadi orang beriman yang tidak mudah mengeluh dan berputus asa dalam penderitaan. Tetaplah bersabar dalam penderitaan seperti Kristus.

3. Pasrah
Allah menguji orang benar dengan melihat batinnya, hal yang terpenting adalah sikap PASRAH kepadaNya, yakni berserah diri ke dalam tanganNya dan membiarkan Allah berkarya di dalam dirinya.

Di sinilah kita diajak merefleksikan, sejauh mana kita sungguh-sungguh mengandalkan kekuatan dan kuasa Allah dan ber-‘pasrah’ diri ke dalam tanganNya, serta membiarkan Allah berkarya di dalam diri kita.

Saudaraku, iman tidak ‘menghilangkan penderitaan’ tetapi selalu memberi ‘penghiburan’; karena Allah selalu ada dalam derita hidup dan iman kita, maka tetaplah mengandalkan belas kasih Allah.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

(Visited 85 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *