Sejarah dan Profil Gereja Keluarga Kudus

 

Sejarah Dan Profil Gereja Keluarga Kudus Paroki Rawamangun

Paroki Rawamangun resmi menjadi sebuah paroki berdasarkan surat pernyataan dari Bapa Uskup Leo Soekoto SJ , Uskup Agung Jakarta berupa surat:

PERNJATAAN BERDIRINJA PENGURUS GEREDJA DAN DANA PAPA R.K. GEREJA “ KELUARGA KUDUS’ TJIPINANG DJAKARTA, KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA NO 266/B 5 – 2/70 TERTANGGAL DUAPULUHTUDJUH DJULI, SERIBU SEMBILAN RATUS TUDJUH PULUH”

Walaupun telah mendapat pernyatan berdiri secara resmi, Paroki Rawamangun belum memiliki gedung gereja yang tetap. Pada masa awalnya, misa masih diselenggarakan dari rumah ke rumah ataupun juga terkadang berpusat di sebuah kapel yang sekarang bernama Kapel Mater Dei di lingkungan sekolah Budhaya. Perjuangan untuk mendirikan gereja sangatlah berat karena masalah utama yang menghadang adalah adanya sengketa kepemilikan tanah yang diatasnya akan dibangun gedung gereja dengan salah satu tokoh pemerintahan pada masa itu dan lagi hambatan perijinan.

 

Bermula dari sebuah stasi

Gereja adalah kumpulan umat yang percaya kepada Allah yang mengutus Puteranya Yesus Kristus lewat inkarnasi karena peran Roh Kudus. Ada sekelompok umat berkumpul dan berdoa pada sebuah perayaan Ekaristi yang diselenggarakan di Jl. Kakap Raya No 38. Dari sana kemudian kegiatan Misa berpindah ke JL. Duyung I no 12 di rumah keluarga Noroyono dengan Pater Genuchten OFM dari Kramat. Karena membutuhkan tempat lebih luas maka kegiatan Misa terkadang pindah ke aula LPK (penjara) Cipinang dengan para pastor yang melayani dari konggregasi SVD yaitu Pastor van Lersel SVD, Pastor Jan Lali SVD dan Pastor L.Manggas SVD. Pada masa itu umat perlu berusaha lebih keras untuk dapat berkumpul dan berdoa dalam kondisi yang serba apa adanya ditambah suasana lingkungan yang tidak memadai seperti becek, banyak lumpur, tanah liat yang menjadi sulit kalau turun hujan tiba. Walaupun demikian umat dan gembala tetap bekerjasama dengan tekun dan gembira untuk dapat merayakan Misa. Pada masa itu suasana persaudaraan dan keakraban umat sangatlah erat sehingga rasanya semua hal yang serba terbatas itu tidaklah menjadi penghalang yang berarti.

Jumlah umat meningkat karena adanya baptisan baru dan umat dari wilayah lain yang pindah ke daerah Rawamangun ini sehingga Keuskupan pada tanggal 27 Juli 1970 menetapkan umat wilayah ini menjadi suatu Paroki tersendiri walaupun belum punya gereja secara resmi.

Setelah Misa diadakan dari Jl. Duyung kemudian pindah ke suatu rumah di jalan Kedondong rumah milik Bpk Hendro (alm) sedangkan pastorannya berada di Jl. Pinang dengan mengontrak suatu rumah. Rumah di Jl Pinang juga pernah dijadikan sebagai kapel. Kemudian dari sana Misa pindah diadakan di ruang TK sekolah suster-suster CB di Jl. Wisma Jaya. Kemudian berpindah ke aula SD/SMP Budhaya, di Cipinang Kebembem. Selain disana, pernah juga misa diadakan di ruang kelas SD/SMP Yayasan Keluarga (sekarang menjadi SMP Tarakanita 4) lalu ke aula sekolah itu yang sekarang kita kenal dengan aula Betlehem. Pastor kepala Paroki datang silih berganti sejak dari Rm Hendricus Djajapoetranto MSF, Rm Notoseputro MSF, Rm Djoyosiswoyo MSF, dll. Sampai ke jajaran romo- romo yang pernah kita kenal sekarang seperti Rm. Sanders MSF, Rm Suryo Sunaryo MSF, Rm. A. Gunardi MSF, Rm. Sumargo MSF, Rm Sulistya MSF, Rm M.Walidi MSF, Rm . St.Fadjarianto, MSF.

 

Para Romo yang pernah berkaryadi Gereja Keluarga Kudus Paroki Rawamangun

  1. Romo PC.Judodihardjo, MSF
  2. Romo H. Djajaputranto, MSF
  3. Romo M.J Notoseputro, MSF
  4. Romo Tomo, MSF
  5. Romo Van der Piet, MSF
  6. Romo F. X. The Tjun An, MSF
  7. Romo M. J. G. Sanders, MSF
  8. Romo Ag. Parso Subroto, MSF
  9. Romo A. G. Siswo Sumarto, MSF
  10. Romo FX Gunawan Heru S., MSF
  11. Romo Ig. Triatmoko, MSF
  12. Romo F.A.Suryo Sunaryo, MSF
  13. Romo Bernardus Windyatmoko, MSF
  14. Romo M.C.Sadana Hadiwardaya, MSF
  15. Romo Harso, MSF
  16. Romo Antonius Suyata, MSF
  17. Romo Antonius Gunardi, MSF
  18. Romo Yohanes Hardiwiratno, MSF
  19. Romo Aloysius Kriswinarto, MSF
  20. Romo A. Agus Ariestiyanto, MSF
  21. Romo Carolus Suharyanto, MSF
  22. Romo S. Petrus Sumargo,,MSF
  23. Romo Ignastius Tari, MSF
  24. Romo Mateus Sumarno, MSF
  25. Romo F.X. Dwinugraha S,MSF
  26. Romo Agustinus Saryanto, MSF
  27. Romo Mikael Walidi, MSF
  28. Romo St.Fadjarianto, MSF

 

Kapan gereja kita berdiri ?

Butuh usaha dan perjuangan yang keras dari para pengurus gereja dan seluruh umat untuk dapat mewujudkan sebuah gedung gereja yang permanen, baik dan memadai. Seperti tadi diungkapkan masalah utama adalah karena adanya sengketa kepemilikan tanah. Tgl 21 Juni 1970 dibentuk Panitia Pembangunan Gereja ( PPG ). Setelah 3 tahun dibentuk, tgl 10 Juli 1973 tim ini menghadap Bapa Uskup KAJ untuk melaporkan tugas dan memohon petunjuk serta pengarahan. Sedikit dana memang sudah tersedia tetapi masalah sengketa belumlah selesai. Pengurus PPG sudah melakukan banyak usaha menyelesaikan masalah ini, bekerjasama dengan banyak umat dan juga dewan paroki serta instansi pemerintahan pada masa itu. Walaupun demikian usaha -usaha tersebut sering kurang berhasil. Sejak tahun 1976 masalah sengketa ditangani Dewan Paroki dan PPG. Kemudian PPG berganti keanggotaan dengan periode PPG I th. 1976-1978 kemudian PPG II periode 1978-1980. Hingga th.1982 belum ada titik terang mengenai sengketa tanah. 14 Oktober PPG dibubarkan dan berganti lagi dengan yang baru th. 1983. Tahun 1983 inilah mulai ada titik terang dan bukti yang jelas tentang siapa pemilik tanah yang disengketakan. Hal ini berkat kemurahan Tuhan dan usaha doa pimpinan gereja dan segenap umat yang tidak berhenti lewat berbagai kesempatan doa bersama dan intensi-intensi Misa. Th.1984 sengketa tanah selesai dan kemudian diadakanlah penggalangan dana dan usaha- usaha keras lainnya untuk mewujudkan cita-cita itu. Sementara ijin IMB belum terbit, langkah-langkah lain yang perlu segera dan cepat dilakukan PPG waktu itu. Yang sangat penting adalah diadakannya tender antar beberapa kontraktor agar dapat membangun gedung gereja. Dari urusan desain sampai biaya semuanya dihitung dan dipikirkan dengan cermat sesuai prosedur yang ditetapkan Keuskupan.

Satu tahun setelah ijin prinsip, IMB Gereja keluar tgl. 11 Juni 1984 dan umat bersukacita dengan dimulainya pembangunan gereja, lewat peletakan batu pertama dalam suatu Misa khusus yang dipimpin Rm Martosudjito SJ tgl. 11 Agustus l985.

Singkat cerita kemudian gedung Gereja selesai dibangun dan diadakan Misa Pertama dan pemberkatan oleh Bp. Uskup Mgr Leo Soekoto SJ.

Tgl 19 Oktober 1986, didampingi Romo Provinsial MSF dan Pastor Kepala Paroki.

Setelah Misa dan Pemberkatan kemudian Uskup menandatangani prasasti peresmian gereja.

Suasana bahagia, haru, lega, bangga dll berpadu menjadi satu. Dalam suatu sambutan setelah 25 th Gereja Keluarga Kudus Paroki Rawamangun, Bp Uskup mengatakan ada 2 hal yang menjadi kekagumannya pada umat di paroki ini yaitu sebagai berikut:

“ Dari Paroki ini dua hal yang secara khusus saya kagumi. Yang pertama, perjuangan untuk memperoleh tanahnya, entah berapa Pastor Kepala dengan Dewan parokinya terlibat di dalamnya mencurahkan banyak keringat dan nyaris menghabiskan semangat.

Yang kedua, banyak orang mengagumi gedung gerejanya karena sederhana dan tidak terlalu mahal, namun tetap cantik dan memuat banyak orang. ”

Kita memiliki gedung gereja seperti sekarang ini setelah 16 tahun Paroki Rawamangun terbentuk. Terpujilah Bapa di Surga karena belas kasihnya memberikan kita keleluasanan seindah ini. Buah dari Kemurahan Bapa dan ketekunan serta keikhlasan umat berjuang untuk membangunnya.

Inilah buah kepercayaan kita kepada PutraNya Yesus Kristus yang terus memompa semangat seluruh umat lewat Karya Roh Kudus yang selalu memberi inspirasi iman dan keteguhan agar semua halangan dapat terlewati. Dalam suatu sambutannya ketika paroki kita berumur 25 thn Bp Uskup , Mgr Leo Soekoto mengatakan bahwa :

‘Paroki Rawamangun telah memilih Keluarga Kudus sebagai pelindung. Berlindung kepada Keluarga Kudus berarti mau melanjutkan semangat dan hidup Keluarga Kudus Nasareth, yang diwarnai ketaatan, doa, kesediaan untuk melayani dan ciri yang menonjol adalah sikap iman mereka. Dengan meneladan kepada Keluarga Kudus, kiranya umat Paroki Rawamangun semakin rukun, dan menyadari tugas perutusannya serta makin berani memberi dan melibatkan diri demi kesejahteraan dan keselamatan banyak orang.”

Umat semakin berkembang dan gedung gereja serta wilayah gereja semakin diperbaiki dengan banyak perbaikan dan renovasi. Gedung sekitar mulai dibenahi dan diperindah serta fungsi-fungsinya makin diperjelas dan dipergunakan dengan baik. Jumlah umat sekarang telah berkembang menjadi 5680 orang lebih dengan pembagian 8 wilayah dengan 41 lingkungan.

Banyak kegiatan sudah dilakukan. Antara lain yang cukup membanggakan yaitu perayaan tahun Imam yang pembukaannya diadakan dengan Misa khusus dengan mengundang seluruh Uskup Indonesia yang dapat hadir pada Misa konselebrasi Tahun Imam. Sungguh suatu kesempatan yang indah bagi umat Gereja Keluarga Kudus Paroki Rawamangun karena kesempatan ini jarang diperoleh umat paroki lain.

Dengan melihat perjuangan segenap pimpinan gereja dan umat mari kita terus upayakan dan kita perjuangkan persaudaraan sejati dengan bercermin pada sikap para pendahulu paroki kita dengan segenap umatnya yang berjuang untuk mewujudkan suatu paroki yang baik tertib dengan gedung gereja yang memadai dan indah. Terlebih lagi mari kita bercermin pada Keluarga Kudus agar semakin mengembangkan karya dan pelayanan kita bersama di gereja tercinta Gereja Katolik Keluarga Kudus Rawamangun.

Gereja dan paroki ini memilih nama Keluarga Kudus dengan harapan bahwa seluruh umat dapat rukun bersatu membangun gereja yang hidup. Umat memiliki semangat kekeluargaan, saling menghormati dan menghargai, tekun dan setia dalam doa dan pelayanan seperti Keluarga Kudus Nasaret.

Semangat seperti ini terasa sangat dibutuhkan terutama pada awal berdirinya Paroki di mana umat harus berjuang untuk mendapatkan hak atas tanah miliknya. Rm Toni MSF