Berbahagialah

 

– Berbahagialah –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus hadir sebagai Tuhan yang mempunyai cita rasa pada ‘orang kecil’ yakni Tuhan yang
¤ esa, kuasa, berbelarasa
¤ keberpihakan dan keterlibatan
Adapun kategori ‘orang kecil’ yang diajak berbahagia ini, antara lain:

1. Orang yang miskin
ORANG YANG MISKIN adalah orang yang hidupnya bergantung pada orang lain, karena tidak mampu mencukupi keperluan hidupnya.
Orang yang miskin diartikan juga sebagai orang yang hidupnya bergantung pada Allah, yakni orang yang saleh dan bersahaja, karena mau mendengarkan dan menuruti pengajaran Krisus.

Di sinilah Allah hadir sebagai “Tuhan yang mencintai orang kecil dan sederhana”, karena orang yang hidupnya sederhana menjadikan orang itu lebih mudah terbuka dan selalu mengandalkan penyelenggaraan ilahi, sehingga mereka memiliki kerajaan Allah.

2. Orang yang lapar
ORANG YANG LAPAR adalah orang yang tidak tercukupi kebutuhan makanan, mereka membutuhkan makanan bagi tubuh jasmaninya.
Orang yang lapar berarti juga orang yang lapar akan makanan rohani atau orang yang lapar akan kebenaran Sabda Allah, maka mereka mengandalkan Allah dalam hidupnya.

Di sinilah Allah hadir sebagai “Tuhan yang maha mengenyangkan”, karena mereka yang lapar akan dipuaskan, diikutkan dalam perjamuan yang memuaskan dan tidak akan merasa lapar lagi.

3. Orang yang menangis
ORANG YANG MENANGIS adalah orang yang sedang bersedih hati dan berduka karena menyesali akan dosa-dosanya.

Di sinilah Allah hadir sebagai “Tuhan yang maha mengubah”, duka menjadi sukacita, kesedihan air mata menjadi mata air kebahagiaan.

4. Orang yang teraniaya
ORANG YANG TERANIAYA adalah orang yang dibenci, dikucilkan, dicela, ditolak, karena memberitakan Injil dan kebenaran Sabda Allah.

Di siniIah Allah hadir sebagai “Tuhan yang maha penghibur” yakni penghiburan yang sejati bagi setiap orang yang “teraniaya” karena Injil dan bertahan tetap setia sampai mati maka mereka akan memperoleh hidup yang kekal.

Saudaraku, motivasi yang murni dan kesetiaan kita pada panggilan-Nya akan menuntun kita pada kebahagiaan yang sejati, yang tidak dapat digantikan dengan materi, makanan, pujian dan kesenangan duniawi. Hidup kita akan lebih berbahagia, bila kita ‘miskin’ tetapi kaya dihadapan Allah, daripada sebaliknya ‘kaya’ tetapi miskin dihadapan Allah. Sesungguhnya kita termasuk yang mana?

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga untuk menjadi yang ‘berbahagia’. Amin.

Animal Blessing dan Plant Blessing 5 Oktober 2019

 

Halo Saudara – saudariku yg terkasih …

ADA KABAR GEMBIRA YANG PASTI SUDAH DITUNGGU !!!

Dalam rangka memperingati Hari Santo Pelindung Bagi Hewan dan Lingkungan Hidup, maka akan diadakan acara ”Animal Blessing dan Plant Blessing” pada :

📅 Hari / Tanggal :
Sabtu, 5 OKTOBER 2019

⏰ Jam : 08.00 – selesai

⛪ Tempat : Parkiran Depan Aula Betlehem – Gereja Keluarga Kudus Rawamangun

📢 PENDAFTARAN PESERTA DIBUKA MULAI HARI INI📢

Yuk segera daftarkan hewan peliharaan dan tanaman yang akan menerima berkat. Caranya gampang banget tinggal
SMS/WA ke :

Fifi. : +62818-863-214
Mona : +62813-176-73193

📣 INGET LOH !!! Batas waktu pendaftaran hingga

🗓 2 OKTOBER 2019

📢 Segera sebarkan kabar baik ini kepada seluruh pencinta/penyayang/pemerhati hewan dan tumbuhan …

Ada sesi foto juga lo bersama Romo yg memberkati …💚

Acara ini terselenggara kerjasama
#Sie Lingkungan Hidup
#Sie Liturgi
#Sie Komsos Paroki Rawamangun

🌱🐢🐥🦆🦉🐓🐈🐇🦜🐍🐠

Saya telah kehilangan satu hari

 

– Saya telah kehilangan satu hari –

Inilah ucapan Kaisar Titus ketika ia menyadari bahwa satu hari telah terlewatkan tanpa berbuat kebaikan dan kebajikan.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mau mengkoreksi orang Farisi dan para ahli Taurat yang mempunyai konsep dasar yang keliru tentang hukum hari Sabat. Karenanya, Kristus mau mengembalikan dan menegaskan konsep yang benar sebagai perwujudan nilai tertinggi dari hukum cinta kasih.
Adapun tiga konsep dasar Yesus tentang peraturan/hukum tersebut, antara lain:

1. Prinsip Hukum
PRINSIP DASAR HUKUM: “Salus animarum suprema lex” ~ keselamatan jiwa adalah hukum yang terutama ~.
Prinsip dasar ini juga digunakan dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK).

Di sinilah kita diajak untuk menyadari bahwa Yesus menjadikan hari Sabat bukan hanya sebagai hari untuk beristirahat saja, tetapi hari untuk berbuat kebaikan dan kebajikan. Yesus menjadikannya sebagai hari untuk menyelamatkan sesama.

2. Hakekat Hukum
Pada HAKEKATNYA HUKUM membantu kita melakukan kebaikan, kebajikan dan kasih yang bersifat universal (=bersifat umum).
Ada sebuah kesadaran bahwa setiap hari kita memiliki panggilan untuk berbuat kebaikan dan kebajikan kepada sesama.
Maka, jika hukum itu sendiri menghalangi, membatasi atau bahkan mengekang berbuat kebaikan dan kebajikan, maka hukum itu bertentangan dengan hakekatnya.
Banyak kali kebaikan dan kebajikan itu jadi terancam musnah karena ‘sikap legalistis’ manusia.

Di sinilah kita semua diajak untuk mengasihi Allah lebih dari segala yang ada di sekitar kita dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri.

3. Tujuan Hukum
Salah satu TUJUAN HUKUM adalah kesejahteraan bersama “bonum commune” yakni menjadi saluran berkat bagi sesama.
Ketika Yesus menyembuhkan orang yang mati ‘tangan kanannya,’ Ia meminta orang itu untuk mengulurkan tangan kanannya supaya Ia bisa menyembuhkannya.

Di sinilah kita diajarkan bahwa ‘tangan kanan’ merupakan simbol kekuatan atau kekuasaan. Maka gunakanlah tangan kita untuk kebaikan dan kebajikan bagi sesama.

Saudaraku, hidup beriman akan menjadi lebih bermakna ketika kita menjadi semakin serupa dengan Kristus yang mengasihi tanpa batas.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga dalam upaya terus berbuat kebaikan dan kebajikan bagi sesama. Amin.

Hukum tertinggi adalah keselamatan jiwa

 

– Hukum tertinggi adalah keselamatan jiwa –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus menegaskan bahwa seluruh hidup, hukum dan tindakanNya selalu didasarkan pada perutusanNya untuk menyelamatkan jiwa manusia.
Adapun prinsip dasar hidup Yesus yang selalu dibawaNya, antara lain:

1. Kasih
Yesus mendasarkan hidupNya pada KASIH kepada sesama, dan bukan kebencian terhadap yang lainnya dan KASIH merupakan intisari iman kristiani.

Di sinilah kita diajarkan bahwa kasih kepada Allah menjadi dasar dan sumber segala doa dan karya hidup kita untuk mengasihi sesama, sehingga nama Allah semakin dimuliakan dan jiwa sesama semakin diselamatkan.

2. Keselamatan jiwa
Yesus mendasarkan hukumNya pada KESELAMATAN JIWA dan bukan melulu berhenti pada aturan tertulis. Hukum dengan pelbagai peraturan sebenarnya berkewajiban untuk membangun manusia seutuhnya.

Di sinilah kita diajarkan bahwa manusia dihadirkan sebagai subyek hukum, dimana hukum ada untuk manusia dan bukan manusia untuk hukum, karena tepatlah apa yang banyak tertulis dalam Kitab Hukum Kanonik ~ codex iuris canonici, “salus animarum suprema lex” ~ hukum yang terutama adalah keselamatan jiwa jiwa.

3. Ketulusan hati
Yesus mendasarkan tindakanNya pada KETULUSAN HATI dan bukan pada kebusukan hati, kelicikan, penuh intrik dan taktik.

Di sinilah kita diajak menjadi orang bijaksana dalam berpikir, bersikap dan bertindak sekaligus menyadari bahwa ketulusan hati merupakan salah satu dasar hukum ilahi.

Saudaraku, marilah kita terus berupaya mengintegrasikan seluruh kehidupan sehari-hari dengan iman yang kita hayati untuk menjadi sebuah kesempatan berjumpa dengan Allah.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang terus berupaya menjadi bijaksana dalam berpikir, bersikap dan bertindak. Amin.

Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam

 

Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam

Inilah suara panggilan Kristus yang mengajak kita untuk berani terus berjuang melangkah:
# dari kedangkalan menuju kedalaman
# dari tengah hidup yang banal menuju hidup yang integral, utuh penuh dan menyeluruh,
# dari iman yang hanya di permukaan menuju iman yang lebih dalam sehingga kita lebih mempunyai kekayaan wawasan, pengetahuan, sukacita dan damai sejahtera yang lebih dalam. Sebab kita semua dipanggil untuk menjadi anak-anak Allah yang lebih baik, lebih suci, lebih murah hati dan lebih mencintai Allah.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, kehadiran dan penyertaan Kristus memberikan semangat baru untuk kembali ‘menebarkan jala’ kebaikan kepada dunia yang luas dan tanpa batas, yang dapat kita maknai, antara lain:

1. Tobat
Semangat TOBAT menuju perubahan, inilah “perubahan” yang terjadi:
√ dari “Simon” menjadi Petrus
√ dari “nelayan” menjadi pelayan
√ dari “pemimpi” menjadi pemimpin
√ dari “pecundang” menjadi pahlawan
√ dari “penjala ikan” menjadi penjala manusia, sehingga semakin banyak jiwa diselamatkan dan nama Allah dimuliakan.

Di sinilah Yesus mengajak kita untuk berani mengalami ‘transformasi hidup’, meninggalkan ‘segala’ untuk mendapatkan ‘segala’ dalam mengikuti Yesus.

2. Taat
Semangat TAAT mendengarkan kehendakNya dan melaksanakan perintahNya.

Di sinilah kita diajak untuk terus belajar TAAT dan hanya mengandalkan kasih karunia Allah, serta menyadari bahwa Yesus tidak pernah mempertanyakan kemampuan dan ketidak-mampuan kita, Allah hanya minta kesediaan kita untuk taat. Ketaatan kita kepada Allah akan memampukan kita menunaikan tugas yang dipercayakan Allah kepada kita dan akhirnya akan menjadi berkat bagi kehidupan kita serta sesama.

3. Rendah hati
Semangat RENDAH HATI, merasa ‘tak pantas’ dan ‘tak layak’ dihadapan Allah,karena kuasaNya.

Di sinilah kita diajak untuk menyadari dengan penuh kerendahan hati, bahwa karya-karya ‘besar’ yang kita lakukan bukan karena kita hebat, tapi hanya karena kemurahan dan kehebatan rahmat Allah sendiri.

Saudaraku, semoga Allah memberi kita karunia hikmat kebijaksanaan, agar kita tidak membatasi diri pada rencana dan kehendak diri sendiri, tapi lebih terbuka pada rencana dan kehendak Allah. Dengan demikian, Allah dapat lebih leluasa berkarya melalui diri kita, sehingga kita dapat turut ambil bagian untuk mendatangkan ‘buah-buah keselamatan’ bagi lebih banyak orang.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang senantiasa berjuang untuk memiliki sikap tobat, taat dan rendah hati, sehingga pada akhirnya membuahkan keselamatan. Amin.

Rendah Hati

 

– Rendah hati –

Kata “rendah hati” dalam bahasa Latin adalah “humilis” (kata sifat), “humus” (kata benda).
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus kembali menasehati agar kita bersikap rendah hati.
Adapun tiga modal dasar supaya kita bisa selalu menjadi ‘humus yang hidup’, yang menyuburkan sehingga memuliakan dan membawa nama Allah setiap harinya, antara lain:

1. Mengenal-Nya
“Gusti iku ono ing samubarang”(bhs jawa), artinya Allah itu ada dalam segala hal. Maka kehadiran-Nya adalah kehadiran yang ‘mahakuasa’ sekaligus ‘mahakasih’. Kasih-Nya melebihi tiga keinginan hakiki setiap orang, yakni keinginan untuk diterima, dihormati, dan dihargai oleh orang lain.

Di sinilah kita diajak untuk terus mengenal kasih Allah lebih dekat dengan semangat ‘rendah hati’ lewat hidup doa dan karya, karenanya hati kita tak perlu gentar meski hidup ini selalu dihadapkan pada tantangan dan rintangan, sebab tangan kasih Allah senantiasa menopang diri kita tatkala ada kerikil dan batu yang dapat membuat kita tersandung dan menghalangi langkah kehidupan kita.

2. Mengalami-Nya
Sesungguhnya, Allah itu ada di dekat kita dan seringkali kita tidak menyadari kehadiran-Nya, karena kita kerap ‘mengetahui’ tentang Allah, tapi tidak ‘mengalami’ Allah.

Di sinilah kita diajarkan bagaimana ‘mengalami’ Allah dalam keseharian:
¤ pasrahkanlah kepadaNya,
kalau kita ingin hidup tenang.
¤ bersyukurlah kepadaNya,
kalau kita ingin hidup bahagia.
3. Mencintai-Nya
Cinta ‘vertikal’ kita kepadaNya, mesti di-‘horisontal’-kan dalam semangat kerendahan hati lewat:
¤ kata kata yang positif
memberkati
¤ sikap yang sportif
rendah hati
¤ tindakan yang produktif
murah hati

Di sinilah kita diajak melakukan kebaikan dan kasih kepada Allah dan sesama, bukan ‘supaya’ dikasihi Allah, tetapi lebih ‘karena’ telah dikasihi oleh Allah.

Saudaraku, marilah kita wartakan sabda Allah dengan hidup yang rendah hati, yakni hidup yang didasari oleh pandangan benar, positif, sportif dan produktif tentang diri sendiri, melihat diri sendiri seperti Allah melihat kita.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang hidup rendah hati dihadapan Allah. Amin.

Talenta

 

– Talenta –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengajarkan peran, tugas dan tanggungjawab kita sebagai hamba dalam mengembangkan Kerajaan Allah. Untuk menjelaskannya, Kristus menggunakan perumpamaan tentang ‘talenta’ (benih ilahi).
Adapun beberapa sikap yang dibutuhkan dalam memaknai perumpamaan ini agar kita dapat sungguh bertanggungjawab, dalam mengembangkan Kerajaan Allah, antara lain:

1. Menyadari
Kita sebagai umat pilihan Allah memiliki kodrat ilahi, yakni mampu berpikir dan berperasaan seperti Kristus yang mampu mengerti apa yang baik, sempurna dan yang berkenan kepada Allah.

Di sinilah kita sebagai umat Allah diajak untuk MENYADARI bahwa Allah telah mempercayakan, menganugerahkan talenta (benih ilahi) sesuai dengan pilihan dan rencana Allah.

2. Menghargai
Kita yang telah dipilih, dipercayai dan dianugerahi talenta bukan supaya kita menjadi orang yang jahat dan malas, tapi justru menjadi orang yang baik dan rajin, yang selalu memelihara dan menumbuh-kembangkan talenta dengan tekun, setia dan tanggung jawab.

Di sinilah kita sebagai umat Allah diajak untuk MENGHARGAI anugerah ini dengan menggunakan dan terus berusaha untuk menumbuh-kembangkan talenta dengan kebajikan-kebajikan demi keselamatan jiwa kita dan sesama.

3. Mensyukuri
Kita mempunyai waktu, kesempatan, kemampuan dan sumber daya untuk melayani_ Allah dengan menggunakan dan menumbuh-kembangkan talenta ketika masih hidup di dunia ini. Ketekunan, kesetiaan dan tanggung-jawab kita di dunia ini menentukan tempat kita di surga.

Di sinilah kita diajak untuk MENSYUKURI karena Allah memberikan kita ruang dan peluang. Maka marilah kita gunakan kesempatan ini lebih serius dalam mengelola talenta dengan sebijaksana mungkin.

Saudaraku, marilah kita terus menerus menggunakan dan menumbuh-kembangkan talenta yang dianugerahkan Allah demi semakin berkembangnya Kerajaan Allah.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga dalam upaya menumbuh-kembangkan talenta demi semakin berkembangnya Kerajaan Allah. Amin.

Konsistensi dan Integritas

 

– Konsistensi dan Integritas –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengecam ahli-ahli Taurat dan para Farisi yang memamerkan kepalsuan dalam hidupnya. Hidup mereka jauh dari keindahan yang mereka ajarkan kepada umat, di sebelah luar nampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam penuh kemunafikan dan kedurjanaan.
Kemunafikan itulah yang dikecam oleh Yesus dan divonis “celaka” oleh-Nya:
“Celakalah kamu, sebab di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.”
Padahal sebagai pemimpin masyarakat dan agama, mereka seharusnya hidup sesuai dengan kehendak Allah, yakni ‘hidup murni’.
Adapun tiga spiritualitas iman yang dibutuhkan untuk terus belajar ‘hidup murni’, antara lain:

1. Ketulusan
KETULUSAN adalah sikap hidup apa adanya, tidak ada budaya “slintat slintut” yang penuh kebohongan dan kepalsuan, tapi selalu mau menjadi orang yang penuh kasih secara nyata. Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Allah melihat hati manusia.

Di sinilah kita diajarkan bahwa ketulusan hati adalah keutamaan hati yang patut untuk terus diperjuangkan supaya kita bisa hidup saling mengasihi dengan tulus sepenuh hati dan dijauhkan dari sikap kepalsuan dan kemunafikan.

2. Kerendahan hati
KERENDAHAN HATI adalah semangat dasar untuk melawan “kesombongan rohani” yang dikecam Yesus. Bila kita meninggikan diri setinggi-tingginya, Allah akan menarik Diri sejauh-jauhnya. Tapi, jika kita merendahkan diri serendah-rendahnya, Allah akan mendekatkan Diri sedekat-dekatnya.

Di sinilah kita diingatkan untuk tidak boleh menjadi sombong, menjadi ‘batu sandungan’ bagi sesama dengan merendahkan yang lain, seperti yang ditunjukkan oleh para ahli Taurat dan orang Farisi.

3. Keterbukaan
Jika kita hidup dengan tulus dan rendah hati di hadapan Allah, “isi” kita jauh lebih penting daripada “sampul” luarnya karena kita semua adalah saudara, yang setara dan se-udara di hadapan Allah, sekalipun memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Di sinilah kita diajak untuk memiliki sebuah sikap yang tidak mudah menghakimi, tapi selalu berani untuk belajar memahami, yakni melihat kebaikan orang lain dengan selalu membuka diri, hati dan budi, tanpa praduga.

Saudaraku, tiga spiritualitas iman ini akan lebih mudah membawa kita pada sikap penyerahan dan kepasrahan diri kepada kebijaksanaan dan bimbingan Allah; kita yang selalu membutuhkan pengampunan, belas kasih, pertolongan dan bimbingan Allah.
Marilah kita terus berusaha menjadi pribadi yang konsisten secara rohani, sehingga kita elok dan tampan lahir batin serta jiwa raga.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Berusahalah agar kau berhasil

 

– Berusahalah agar kau berhasil –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengajak kita untuk terus-menerus berjuang dengan antusias dan bersemangat, bersiap-siaga untuk mencari dan melakukan segala hal seturut kehendak Allah.
Adapun tiga sikap dasar yang harus terus menerus kita perjuangkan agar memperoleh keselamatan, antara lain:

1. Mengenali-Nya
Orang yang hanya mengaku sebagai orang beriman, tetapi tidak mau berjuang MENGENALI dan memaknai pengalaman harian dalam kacamata iman, jelas sebetulnya bukanlah orang beriman.

Di sinilah kita diajak untuk semakin peka merasakan kehadiran Ilahi lewat semua pengalaman insani, manusiawi yang biasa-biasa dan sederhana dengan sesama setiap hari.

2. Mencari-Nya
Di tengah rutinitas harian, kita berjuang terus menerus MENCARI, merefleksikan dan menemukan kehadiran Allah lewat hidup doa, baik pribadi maupun bersama.

Di sinilah kita diajak untuk pro-aktif mencari saat dan tempat dimana kita bisa lebih dekat dan menemukan kehadiran Allah.

3. Melakukan
Iman tidak cukup hanya diungkapkan atau dirayakan, tapi diwujud-nyatakan.

Di sinilah kita diajak untuk MELAKUKAN karya nyata penuh belas-kasihan dengan:
¤ mengunjungi yang sakit dan di penjara
¤ memberi makan yang lapar,
¤ memberi pakaian yang gelandangan,
¤ mengubur orang mati, dlsbnya.

Saudaraku, keselamatan adalah nilai yang sangat berharga dan layak terus-menerus diperjuangkan. Maka, marilah kita terus berjuang untuk bisa lebih dekat, mengasihi, menyenangkan dan memuliakan Allah.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang terus berjuang untuk memuliakan Allah. Amin.

Hukum Kasih

 

– Hukum Kasih –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus membahasakan hukum baru secara esensial dengan ajaran Kasih.
Adapun unsur-unsur dasar dari ajaran Kasih ini, antara lain:

1. Perintah Kasih
Kasih adalah Hukum dan Hukum itu mengikat.
‘Kasihilah’ menunjuk pada suatu PERINTAH, bukan suatu himbauan atau sekedar saran. Karena ini suatu perintah, maka kita harus mentaatinya.
~ Yang pertama adalah: Hukum supaya umat-Nya mengasihi Allah, dan ini lebih merupakan perintah kesetiaan.
~ Yang Kedua adalah Hukum supaya umat-Nya mengasihi sesama manusia. Allah menciptakan manusia dengan kodrat untuk saling mengasihi, karena tanpa kasih manusia tidak dapat mencapai keselamatan.

2. Dimensi Kasih
“Kasihilah Tuhan Allahmu dan Kasihilah sesamamu.”
Inilah DUA DIMENSI KASIH berpola ‘salib’ (vertikal = Ilahi dan horisontal = insani), Allah menghendaki kasih yang setia.

Seseorang yang mengasihi Allah harus mengasihi sesama. Begitu juga sebaliknya, mengasihi sesama adalah wujud kasih kepada Allah. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan, kita tidak dapat memenuhi hukum yang satu dan mengabaikan yang lain.

Di sinilah kita diajak untuk mengasihi Allah dan sesama dengan seluruh keberadaan kita.

3. Realisasi Kasih
Identitas ke-iman-an kita yang terbesar adalah ‘Kasih’. Kita pertama-tama dikenal karena kasihnya akan Allah dan sesama yang meluap dari kedalaman jiwa.
Bunda Teresa pernah berkata: “Menjadi tidak dicintai, tidak dipedulikan, dan dilupakan merupakan kelaparan yang lebih menyakitkan daripada lapar karena tidak makan.”

Di sinilah kita diajak untuk memiliki kepedulian akan kebutuhan dasar manusia yakni ‘kasih’, bukan hanya sandang, pangan, dan papan.
Setiap orang merasa bahagia ketika ia dikasihi.

Saudaraku, Kristus mengundang kita untuk hidup dalam kasih, karena kasih membuat beban kita yang berat menjadi ringan.
Melalui kasih yang kita taburkan, kita ikut berperan menjadikan dunia ini, menjadi tempat yang lebih baik, lebih indah dan lebih manusiawi. Tanpa kasih semua aturan akan menjadi beban yang berat bagi kita.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kepedulian kita sekeluarga. Amin

Anugerah Allah

 

– Anugerah Allah-

Mengacu pada bacaan Injil hari ini yang mengajarkan kepada kita tentang anugerah Allah, yaitu kemurahan hati Allah terhadap manusia.
Adapun nilai tindakan kemurahan hati Allah kepada semua orang ini, antara lain:

1. Inisiatif Allah
Para pekerja di kebun anggur diartikan sebagai manusia berdosa yang ‘dipanggil’ untuk menjadi orang percaya agar mendapat keselamatan tanpa memandang usia dan waktu.

Di sinilah kita diajak menyadari bahwa anugerah panggilan untuk mendapat keselamatan (satu dinar) ini atas INISIATIF ALLAH sendiri disepanjang masa sejak manusia jatuh ke dalam dosa, agar manusia tidak jatuh ke dalam penghukuman kekal.

2. Karakteristik Allah
Panggilan Allah ini sama sekali tidak berhubungan dengan usaha manusia maupun sebaliknya ketiadaan usaha manusia, melainkan semata-mata karena KARAKTERISTIK ALLAH yang bebas dari aturan dan ketentuan-ketentuan yang dibuat manusia.

Di sinilah kita diajarkan bahwa anugerah Allah itu penuh dan bebas untuk semua orang yang datang kepada-Nya di dalam iman.

3. Kuasa Allah
ALLAH dengan KUASANYA bebas memberikan anugerahNya kepada manusia.

Di sinilah kita diberikan peringatan agar tidak memiliki perasaan iri dan dengki, karena keselamatan adalah anugerah Allah, bukan imbalan dari perbuatan dan lamanya kita menjadi orang beriman.

Saudaraku, marilah kita mohon rahmat Allah agar kita mampu berpikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang berjuang untuk menjadi semakin bijak. Amin.

Kepenuhan

 

– Kepenuhan –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengajarkan mengapa kekayaan dapat ‘menghambat’ orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Adapun beberapa sikap yang ‘menghambat’ orang kaya masuk Kerajaan Surga, antara lain:

1. Kesombongan
“Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Nada pernyataan dari orang muda kaya ini adalah nada yang penuh dengan KESOMBONGAN, karena bukan sikap yang mengalir dari hati penuh rasa syukur, terima kasih, dan ketaatan, serta menyadari bahwa semua sebagai anugerah Allah.

Di sinilah kita diajak untuk waspada dengan memiliki sikap rendah hati dan bersyukur.

2. Ketamakan
“Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.” Inilah SIKAP TAMAK, sebab semakin banyak hartanya, ia justru semakin tidak mau memberi, bahkan ia semakin merasa kuatir dan cenderung ingin semakin menumpuk dan terus menumpuk hartanya lebih banyak lagi.

Di sinilah kita diajarkan agar hidup dalam kasih dan rela mengulurkan tangan untuk membantu lebih banyak orang yang membutuhkan kekayaan yang kita miliki.

3. Kelekatan
“Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutilah Aku”. Inilah sikap ‘lepas bebas’ dari KELEKATAN HATI pada kekayaan. Artinya, hendaknya kita memfungsikan segala milik kita sebagai sarana sosial, karena semua harta benda atau milik bersifat sosial.

Di sinilah kita diajak melepaskan diri dari kelekatan hati kita terhadap kedagingan, kenikmatan hidup dan kemewahan harta benda yang kuat terus digenggam dan dirasakan sebagai pegangan hidup. Jadikanlah harta benda yang kita miliki sebagai ‘sarana’ yang membantu perkembangan diri kita menuju hidup mulia, sempurna dan bermartabat.

Saudaraku, mengikuti Yesus harus sepenuh hati, sepenuh budi dan sepenuh kekuatan, sebab sikap setengah-setengah tidak akan mencukupi untuk mengikuti Dia dalam perjuangan memenuhi kehendak Allah.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga dalam mengikuti Yesus. Amin.

Kebenaran

 

– Kebenaran –

Pada hari ini, kita bersyukur bersama seluruh warga bangsa dan masyarakat Indonesia kita mengenang dan memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, dikisahkan bagaimana cara Kristus menjawab suatu pertanyaan cerdik dan licik para kaum Farisi dan Herodian yang bersekongkol untuk menjerat Yesus, seputar aturan membayar pajak: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:21).

Selanjutnya dimaknai bahwa “Kaisar” adalah gambaran hidup duniawi; sedang “Allah” jelas arah dan sumber hidup surgawi. Yang “Kaisar” bersifat insani; sedangkan “Allah” bersifat rohani.
Di sinilah sangat terasa jawaban Yesus yang tetap menempatkan Allah di atas segalanya, yakni “sumber kebenaran sejati” yang memerdekakan setiap orang, bukan membelenggunya.
Adapun tiga semangat yang harus kita tanam dan miliki dalam mengisi kemerdekaan agar kita masuk dan tinggal dalam kebenaran-Nya, antara lain: Keberanian, Kesucian dan Kemuliaan ( “Aequo animo estote, de puritate et gloria” )

1. Keberanian
KEBERANIAN terus berjuang mengisi kemerdekaan dengan sikap jujur.

Di sinilah kita diajak untuk berani, tidak takut kepada siapa pun dalam membela kebenaran, tidak menjilat dan tidak mencari muka.

2. Kesucian
Panggilan hidup kita adalah memancarkan KESUCIAN dan ketulusan hati.

Di sinilah kita diajak untuk hidup seimbang dan mampu menghayati berbagai peran secara bijaksana dan rendah hati baik dalam hubungan dengan Allah, masyarakat maupun keluarga.

3. Kemuliaan
KEMULIAAN akan nampak ketika kita terus memperjuangkan keadilan, kerukunan, kesejahteraan dan kesatuan dalam kehidupan bersama.

Di sinilah kita diajak untuk bertindak bukan dengan menggunakan kekerasan, tetapi dengan kelembutan hati; yang senada dengan semangat “Bhinneka Tunggal Ika”

Saudaraku, tidak perlu takut untuk hidup di dalam kebenaran, karena ‘berkat’ hanya ada pada orang yang hidup dalam kebenaran Allah.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga dalam mengisi kemerdekaan. Amin.

Ampunilah kami

 

– Ampunilah kami –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengajak kita meneruskan misi pengampunanNya dengan ‘mengampuni sesama’. Kita akan terdorong dan terpanggil untuk meneruskan misiNya ini kalau kita sungguh-sungguh mengalami, menyadari dan menghayati betapa mahalnya pengampunan yang telah kita terima dari Allah.
Karena dosa kita terlampau banyak hingga nyawa Yesus harus dikorbankan untuk menyelamatkan kita.
Adapun tiga semangat dasar yang mendorong kita meneruskan misi pengampunan pada sesama, antara lain:

1. Mengampuni
Karena Allah telah banyak MENGAMPUNI kita, maka selayaknya kita mengampuni sesama. “Aku berkata kepadamu, ‘Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali kalian harus mengampuni.”

Di sinilah Yesus mengajak kita untuk tidak hanya sibuk ‘minta ampun’, tapi juga berani untuk ‘memberi ampun’. “Tujuh” adalah lambang kepenuhan, maka “tujuh puluh kali tujuh kali” adalah lambang dari kesempurnaan yang benar-benar mutlak.

2. Mengasihi
Dengan kasihNya, kita mempunyai hidup baru, maka sudah selayaknya kita membalas kasihNya dengan MENGASIHI sesama.

Di sinilah kita diajak untuk membalas kasih Allah dengan memberikan ‘hati’ kita untuk mengasihi sesama dan ‘tangan’ kita untuk melayani sesama.

3. Mengimani
Ketika kita MENGIMANI bahwa semangat hidup kita untuk ‘mau’ dan ‘mampu’ mengampuni dan mengasihi sesama, semua tindakan kita ini semata-mata hanya karena rahmat Allah, maka kesadaran ini membuat relasi kita secara personal dengan Allah akan semakin dalam dan bertumbuh.

Di sinilah kita diajak untuk semakin mengutamakan iman dan itu sebabnya kita harus menghidupi iman kita setiap saat dalam hidup sehari-hari.

Saudaraku, kesadaran akan banyaknya diampuni oleh Allah membuat kita lebih mudah memaafkan dan mengampuni sesama, inilah tanda orang beriman.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Kebajikan

 

– Kebajikan –

Inilah sikap dasar kita mencintai Allah di atas segala-galanya, dan mencintai sesama sebagaimana diri kita sendiri demi cinta akan Allah.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengajarkan kebajikan-kebajikan yang mengarahkan kita untuk memahami dan mampu melakukan sesuai dengan rencana dan kehendak Allah dalam hidup kita.
Adapun tiga sikap dasar kebajikan yang diajarkan oleh Kristus, antara lain:

1. Tobat
Yesus berkata: “Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”
Dari perkataan Yesus ini kita diajarkan sikap dasar melakukan PERTOBATAN yang benar di hadapan Allah dan sesama, yakni menjadi seperti anak kecil yang lemah, polos, jujur dan rendah hati. Anak kecil menunjukkan sikap membutuhkan pertolongan Allah dan sesamanya yang lebih dewasa.

Di sinilah kita pertama-tama diajak untuk BERTOBAT dan kembali ke jalan Tuhan.
Bertobat berarti berbalik kepada Allah dan hidup serupa dengan-Nya.
Bertobat berarti mengalami kasih dan kemurahan hati Allah.
Orang bisa bertobat kalau ia rendah hati di hadapan Allah dan sesamanya. Seringkali pertobatan tidak bisa terjadi karena orang masih sombong dan egois. Mereka tidak membutuhkan Allah, karena merasa diri sebagai orang benar.

2. Tabiat
TABIAT yang baik merupakan sifat yang dihasilkan oleh anugerah Allah yang mengubah kita menjadi seperti halnya anak kecil, yang polos dan cinta damai, bebas dari segala niat jahat.

Di sinilah kita diajak untuk menyadari bahwa kita tidak akan pernah bisa merubah sikap hidup orang lain diluar diri kita sendiri, termasuk istri, suami, orangtua, anak kita, apalagi orang lain diluar lingkup keluarga kita.
Hanya anugerah Allah yang sanggup merubah dan mengubah sikap hidup seseorang. Jadi bersikaplah rendah hati dan bijaksana, Santo Agustinus pernah berkata: ‘tiga ciri’ dari orang yang bijaksana adalah yang pertama, ‘rendah hati’, yang kedua ‘rendah hati’ dan yang ketiga ‘rendah hati’. Maka mari kita berusaha memiliki tabiat yang baik sejak dini dengan selalu belajar untuk rendah hati.

3. Taat
Allah bukan sekedar ‘orangtua’, tapi ‘Bapa yang Maharahim’ dan kita adalah ‘anak-anak Allah’.

Di sinilah kita diajak untuk menjadi ‘anak-anak Allah’ yang TAAT padaNya dan selalu berlindung penuh kepadaNya. Seperti anak kecil yang taat pada orangtuanya, percaya dan menaruh banyak harapan pada orangtuanya, karena yakin bahwa mereka sungguh mengasihinya.

Saudaraku, marilah kita segera menjadi orang yang bersikap rendah hati dan mau berserah diri kepada Allah, seperti seorang anak kecil yang sangat percaya kepada orangtuanya dan bergantung sepenuhnya kepada orangtuanya.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Seminar Kerahiman Ilahi, 10 Agustus 2019

 

Gereja Keluarga Kudus pada Sabtu, 10 Agustus 2019, mengadakan Seminar Kerahiman Ilahi dengan tema Kerahiman Ilahi dalam Doa Bapa Kami. Acara ini dihadiri sekitar 113 peserta dan pembicara Rm. Putranto, Pr (Rm. Uut) dan Ibu Estherina Arianti. Seminar Kerahiman Ilahi terdiri 3 sesi mengenai Doa Bapa Kami sebagai lambang Kerahiman Allah dan mengampuni sehagai ciri Anak Allah. Akhir seminar ditutup dengan Perayaan Ekaristi bersama di Aula Bethelehem yang dipimpin oleh Rm. Uut. Tuhan memberkati. (By Sie. Komsos).