Tinggal Dalam Yesus

 

Lentera Keluarga
Minggu, 29 April 2018.
Tinggal Dalam Yesus
Bacaan: : Kis 9:26-31; Mzm 22:26b-27.28.30.31-32; 1Yoh 3:18-24; Yoh 15:1-8

Renungan:
Pengajaran Yesus tentang pokok anggur dan ratingnya bermuara pada perintah “Tinggallah di dalam Aku”. Tinggal di dalam Yesus berarti akrab-dekat dengan Yesus dan menjadikan hidupNya sebagai sumber kehidupan. Jika kita kurang mampu menyerap hidup Yesus, maka ada dua kemungkinan tindakan Allah: kita dibersihkan atau jika sudah tidak bisa, kita akan dipotong.
Tinggal di dalam Yesus diawali dengan menerima sakramen baptis. Tetapi itu tidak cukup. Kita harus menyerap apa yang menjadi sumber hidupNya menjadi hidup kita melalui terutama Sabda, Doa dan Ekaristi. Dengan tekun membaca sabdaNya, merenungkanNya baik secara pribadi maupun melalui aneka pengajaran-retret kita tidak hanya sedekar tahu tetapi membiarkan diri kita diresapi oleh hidup Yesus. Melalui Doa, kita membangun kesatuan hati dengan Yesus. Dan melalui Ekaristi, kita menerima Tubuh dan DarahNya menjadi makanan hidup bagi kita. Sabda, Doa dan Ekaristi menjadi cara dan jalan bagi kita untuk tinggal dan mendapatkan sumber kehidupan Yesus. Kebiasaan kita dalam ketiga hal ini akan secara tidak sadar membawa kita pada kesehatian dengan Yesus. Buah-buah kesatuan yang adalah : kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri akan kita alami dan dirasakan oleh mereka yang ada di sekitar kita.
Jika kita melakukan ketiga hal itu, tetapi belum berbuah, bukan rahmat Tuhan yang kita tuntut lebih banyak, tetapi diri kitalah yang harus dibenahi. Kita masih terbelenggu dosa dan luka lama. Hati kita masih tersumbat dengan pikiran, perasaan dan hati yang berdosa. Kita biarkan Tuhan memangkas kita. Ada banyak kesempatan yang dapat kita berikan kepada Tuhan untuk memotong bagian hidup kita: permenungan pribadi, retret yang kemudian kita selesaikan dengan sakramen Tobat.
Dalam hidup panggilan religius dan imam, biasanya ada banyak yang mendaftar tetapi selaras berjalannya tahun, yang tinggal dan berbuah semakin sedikit, karena tidak mendapatkan sari-sari kehidupan dari keutamaan hidup religius dan imamat dari Tuhan. Setelah berkaul kekal dan menjadi imampun, kadang kita merasa sudah tinggal, tetapi kurang hidup dari Yesus walaupun setiap hari kita melakukan sabda, doa dan ekaristi. Dampaknya adalah bahwa buah-buah panggilan kita kurang dirasakan oleh umat.
Dalam hidup berkeluarga, tinggal bersama dengan Kristus mengandaikan kita sebagai satu keluarga menghayati dan menempatkan Sabda, Doa dan Ekaristi sebagai pusat hidup kita. Sama seperti perkawinan yang menjadi hambar karena suami isteri tidak membangun bahasa kasih, demikian juga halnya relasi kita dengan Tuhan jika kita tidak terus menerus menempatkan doa, sabda dan Ekaristi sebagai pusat hidup keluarga.

Kontemplasi
Gambarkan ikatan antara Yesus sebagai pokok anggur dan kita adalah rantingNya. Bagaimana kesatuan itu terjadi?

Refleksi
Apa yang kuusuhakan secara pribadi ataupun bersama dengan keluarga/komunitas supaya tetap tinggal dalam Kristus dan hidup dariNya?

Doa
Ya Bapa, semoga melalui sabda, doa dan ekaristi, aku semakin erat bersatu dan hidup dari Yesus PuteraMu. Amin.

Perutusan
Jadikan Yesus sebagai sumber hidupMu melalui Sabda, Doa dan Ekaristi.
https://www.youtube.com/watch?v=lUh3e5be8gE (Morist MSF).

Leave a Reply