Sosialisasi dan Simulasi Pemilu 2019 di Paroki Rawamangun

 

Pada hari Minggu, tanggal  16 Februari 2019, bertempat di Aula Bethlehem, Gereja Keluarga Kudus, Paroki Rawamangun, dilaksanakan kegiatan sosialisasi dan simulasi dalam rangka  menyiapkan umat untuk menyambut pemilu 2019. Kegiatan yang diprakarsai oleh Sie HAAK bersama Sie PEKAD dan WKRI ini dihadiri oleh sekitar 190 orang. Pertemuan ini ber-tema:  “Partisipasi Umat Katolik dalam Menyikapi Golput dan Apatisme Politik.” Para hadirin  meliputi pastor kepala Gereja Keluarga Kudus Paroki Rawamangun, para caleg Katolik dari daerah pemilihan Jakarta Timur, umat paroki Rawamangun, serta beberapa umat dari paroki lain.

Pada kesempatan sambutan pembuka, Romo Yulius Edyanto MSF sebagai kepala paroki menyerukan hal pentingnya keterlibatan umat dalam pemilihan umum yang akan diselenggarakan secara serentak pada tanggal 17 April 2019 nanti. Romo Edy menegaskan bahwa keterlibatan dalam pemilihan umum merupakan sebagaian dari perwujudan iman. “Jadi pada tanggal 17 April 2019 nanti umat jangan pergi kemana-mana, jangan dulu ziarah ke Holyland.  Tetapi, Mari kita pergi ke tempat pemungutan suara untuk nyoblos.  Ikut pemilu adalah tanggungjawab iman sebagai warga negara Indonesia. Umat Katolik tak boleh golput!”

Adapun acara utama pertemuan ini adalah pemaparan materi oleh nara sumber, yakni Ibu MM. Restu Hapsari. Narasumber hadir sebagai utusan Komisi HAAK (Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan) Keusukupan Agung Jakarta. Secara prinsip ada tiga  hal yang disampaikan Ibu Restu, yakni dorongan kepada umat untuk terlibat dalam pemilu,  hal teknis terkait dengan siapa yang bisa dipilih,  dan bagaimana menggunakan hak pilih.

Oleh KPU Wilayah Jakarta Timur disebut Dapil (Daerah Pemilihan) 1, dengan demikian umat paroki Rawamangun otomastis termasuk dalam Dapil 1.  Para pemilih dari  paroki ini dan masyarakat Rawamangun secara umum pada waktunya berhak mendapatkan 4  jenis surat suara. Empat jenis surat suara ini masing-masing diperuntukkan untuk memilih presiden dan wakil presiden, memilih DPR RI, memilih DPD,  dan memilih DPRD 1. Guna lebih memudahkan maka setiap karu memiliki warna khusus, yakni: surat suara  untuk memilih presiden dan wakil presiden berwarna abu-abu, surat suara untuk memilih DPR RI berwarna kuning, surat suara untuk memilih DPD berwarna merah, dan surat suara untuk memilih DPRD 1 berwarna biru.

Di samping warna yang berbeda, isi tampilan surat suara juga ternyata juga berbeda.
Di dalam surat suara untuk memilih presiden dan wakil presiden dicantumkan baik nomor urut paslon maupun foto paslon. Demikian pula dalam surat suara untuk memilih DPD, di dalamnya tercantum baik nomor urut calon dan nama calon yang disertai foto calon.

Namun untuk surat suara pemilihan DPR RI,   yang dicantumkan adalah nomor urut calon dan nama calon saja  (tanpa foto calon). Demikian pula dalam surat suara untuk memilih DPRD 1  yang dicantumkan adalah nomor urut calon  dan nama calon saja (tanpa foto calon).

Ibu Restu menambahkan agar umat Katolik Paroki Rawamangun bukan hanya sekedar taat himbauan lalu  pergi ke bilik suara dan mencoblos sesuka hati, namun umat harus bersikap  sebagai pemilih yang cerdas berhikmat. Pemilih yang cerdas akan mempertimbangkan masak-masak siapa yang akan dipilih, karena suara yang diberikan bukan hanya menentukan nasib bangsa dan Gereja untuk sebatas waktu lima  tahun ke depan, namun bahkan bisa seterusnya. Ibu Restu menyarankan agar umat sungguh-sungguh mengenali dan menggali informasi  setiap calon Katolik yang turut berkontentestasi serta mengatur strategi agar umat Katolik berhasil memiliki wakil Katoliknya di Dewan Perwakilan Rakyat. Memiliki wakil Katolik di Dewan Perwakilan tentunya memberi peluang lebih besar  memperjuangkan  aspirasi  Gereja.

Pada kesempatan ini hadir pula para caleg Katolik dari Daerah pemilihan Jakarta Timur. Mereka adalah: William Yani (Caleg DPR RI, PDIP), Valentinus Wahyu Wibowo (Caleg DPR RI, Partai Solidaritas Indonesia), Susana Suryani Sarumaha (Caleg DPD), Maria Chyntia Ricci (Caleg DPRD, Partai Berkarya), Sunaryo Mahdadi (Caleg DPRD, Partai Solidaritas Indonesia).

Kepada para caleg, Ibu Restu juga mengharapkan agar mereka  ber-kontestasi  dengan mengedepankan semangat untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama (bonum comune), bukan karena alasan-alasan pribadi.

Para caleg juga diijinkan untuk memperkenalkan diri secara singkat. Pak Williyam Yani bahkan menggunakan kesempatan kehadirannya ini untuk turut membantu mengedukasi dan menganimasi umat yang hadir.  Pak William Yani yang sudah beberapa periode menjabat sebagai anggota DPR RI ini mengatakan dengan cukup keras: “Pada pemilu yang lalu, jumlah golput terbanyak berdasarkan kelompok agama adalah dari umat Katolik, sehingga pada saat ini jumlah anggota DPR RI maupun DPRD yangt paling sedikit adalah dari umat Katolik. Keadaan ini harus menjadi perhatian kita bersama.”

Acara yang berlangsung lebih kurang 3,5 jam ini sungguh mendapatkan perhatian. Hal ini terbukti dari jumlah hadirin yang nyaris tidak berubah. Acara ini juga dimeriahkan dengan pengundian 70 doorprize dengan hadiah utama  dua buah smartphone dan sebuah rice cooker.

Namun di atas semuanya ini,  yang akan menjadi hadiah terpenting adalah keterlibatan umat pemilih dari Paroki Rawamangun untuk mau datang ke bilik suara pada tanggal 17 April 2019 dan memberikan suaranya secara bijaksana berdasarkan hikmat Allah sebagai partisipasi dalam menciptakan Bangsa Indonesia yang Bermartabat.

Salam Ber-Hikmat untuk Bangsa Bermartabat. By Sie HAAK – Sie KOMSOS

(Visited 9 times, 1 visits today)

Leave a Reply