Menulis itu Mudah

 

Kegiatan menulis sudah menjadi hal lumrah bagi seorang individu, sebab menulis telah diajarkan sejak kita masih kecil. Namun, menulis juga memiliki kesusahannya sendiri yang membuat kita bingung bagaimana merangkai kata dari pemikiran yang dimiliki. Padahal menulis menjadi salah satu sarana untuk menuangkan ide, pandangan dan pengalaman untuk berbagi dengan sesama. KOMSOS Paroki Rawamangun, Gereja Keluarga Kudus menyadari hal itu sehingga menyelenggarakan acara “Menulis Itu Mudah” – Media Online dan Media Sosial.




 

Pada masa digital dan modern seperti sekarang ini, mudah bagi kita mengakses berbagai hal, terutama hal menarik yang kita sukai bahkan hal yang kurang bermanfaat. Setelah acara pada hari Minggu, 23 Juni 2019 dibuka oleh Romo Yohanes Sutrisno, MSF dan Mbak Diana selaku Ketua KOMSOS Paroki Rawamangun, dengan pembicara yaitu Bapak F. X. Agus Mulyono (Gusmul) langsung memberikan pertanyaan pembukaan. Bapak Gusmul bertanya, “Apa yang Anda baca setiap hari?” Pertanyaan yang membingungkan, apa hubungannya antara membaca dan menulis?





Jawaban dari Bapak Gusmul adalah apa yang kita tulis merupakan hasil dari apa yang kita baca, sehingga bacaan yang setiap hari kita baca akan membentuk bagaimana kita menulis. Dengan begitu, bacalah berbagai jenis bacaan yang berbobot agar menambah wawasan dan cara menulis yang baik dan positif.  Untuk semakin mengaplikasikan materi, Bapak Gusmul memulai dengan games singkat di mana peserta harus berpasangan dan secara bergiliran menceritakan suatu hal yang menarik. Waktu yang diberikan juga berbeda, membuat individu dalam pasangan itu harus memutar otak untuk menceritakan terus menerus hingga waktu selesai. Setelahnya, pembicara menjelaskan bahwa praktik bercerita salah satu cara bagaimana untuk memulai menulis. Maka ketika kita ingin menulis, mulailah dari berbagai hal yang menarik bagi diri sendiri atau menarik dari acara, benda atau hal lainnya.


Kemudian Bapak Gusmul, nama panggilan singkatnya, mengajak peserta untuk menuliskan apa yang diceritakan tadi pada pasangan masing- masing. Para peserta yang sangat antusias, langsung serius untuk mengetik pada notes di handphone atau menulis di buku. Ruang Martinus menjadi begitu tenang dan bersemangat karena para peserta mempraktikkan menulis tanpa memikirkan berbagai aturan, sesuai arahan pembicara. Salah satu hal yang membuat kita pada akhirnya tidak menuangkan ide, pandangan dan pengalaman melalui menulis, yaitu kita terlalu khawatir dan memikirkan berbagai aturan dan informasi mana yang harus dimuat. Padahal sebuah tulisan perlu berbagai informasi dan data yang nantinya disusun, sehingga menjadi sebuah karya tulis. Baik sebagai narasi, cerpen, novel, karya ilmiah, berita dan opini atau karya tulis lainnya, sehingga tidak perlu bingung karena kita bisa mengedit dan menyusunnya sebelum mempublikasikan karya tulis yang dibuat.

 

Proses dari acara ini sudah sesuai dengan tujuannya, ialah mengatasi writing blocks dan mengetahui bagaimana mengolah hal sederhana menjadi sebuah cerita menarik. Bahkan pembicara mengatakan jika kita tidak menemukan hal yang tidak menarik, hal tidak menarik itu bisa diangkat menjadi sebuah pembahasan. Jadi carilah hal yang sederhana dan jangan pernah takut untuk menuangkan suatu ide dan mengolahnya menjadi sebuah karya tulis yang menarik. Terutama untuk bisa mewartakan berita di gereja atau paroki, penting bagi kita untuk menuliskan ketika terdapat acara yang diselenggarakan baik di lingkungan, wilayah, seksi/kategorial hingga tingkat paroki. Seperti harapan dari team KOMSOS Paroki, agar setiap penyelenggara acara atau ketua lingkungan, wilayah, seksi/ kategorial hingga paroki mampu membuat narasi acara yang akan diliput. Sebab liputan team KOMSOS akan ditampilkan pada website dan media sosial resmi paroki yang diakui oleh Keuskupan Agung Jakarta. Sayangnya, di hari yang bersamaan, terdapat acara pelatihan para pengurus lingkungan periode baru sehingga peserta berkurang dari 60 orang pendaftar dan yang bisa hadir hanya 42 orang, total semua dengan team KOMSOS menjadi 51 orang.
Acara media online dan media sosial yang sudah dipersiapkan selama 8 bulan, menjadi kurang efektif dari segi peserta yang hadir. Namun, diharapkan agar setiap panitia acara mampu membuat narasi dengan benar dari acara yang akan diliput dan mengikuti aturan yang terlampir pada website resmi paroki di www.keluargakudus.org. Semoga seluruh karya dan pewartaan dari kita bisa menjadi berkat bagi sesama kita, Tuhan memberkati. (By Sie. Komsos).

(Visited 29 times, 1 visits today)

Leave a Reply