In Memoriam Romo Wim van der Weiden, MSF

 

ROMO Wim van der Weiden MSF lahir di Waalwijk, Belanda, 5 April 1936. Ia masuk Kongregasi Para Misionaris Keluarga Kudus (MSF, Missionarii a Sacra Familia) pada tanggal 8 September 1955 di Nieuwkerk.

Setelah menjalani studi dan formasi sebagai seorang religius, pada 8 September 1958, ia mengikrarkan Kaul Kekal sebagai seorang religius MSF di Oudenbosch.

Rahmat tahbisan imamat ia terima pada 23 Juli 1961 di Oudenbosch.

Romo Wim, demikian ia akrab dipanggil, mendedikasikan hidupnya untuk mendalami Kitab Suci sedari usia muda.

Ia menyelesaikan studi teologi di Universitas Kepausan Gregoriana Roma, pada tahun 1963.

Dari tahun 1963 hingga tahun 1966, ia mendalami studi Kitab Suci di Institut Kepausan Biblicum – Roma sampai menyelesaikan program licenciat. Ia terus menjalankan studi doktoral di institut yang sama. Dari tahun 1966 sampai 1967, Rm. Wim mengadakan pendalam Kitab Suci ke Yerusalem (PIB) dan Paris (Institut Catholique). Pada akhir tahun 1968, ia menyelesaikan studi doktoral untuk Kitab Suci di Institut Biblicum – Roma.

Beberapa saat sebelum menyelesaikan program doktoralnya, ia menerima tawaran untuk mengajar di sebuah universitas ternama di Eropa. Ia menjawab bahwa di sana, mencari banyak pengajar andal Kitab Suci tidak sulit; tetapi untuk mendapat seorang pengajar Kitab Suci di Indonesia, siapa mau pergi?

Ia memilih Indonesia sampai akhir hayatnya.

 

Hadiah dari Kardinal Justinus Darmojuwono

Tepat sebulan sebelum ia mempertahankan disertasinya, Romo Wim mendapatkan hadiah pada malam pesta Santo Nikolaus.

Hadiah itu berasal dari Bapak Kardinal Justinus Darmojuwono yakni  sebuah permintaan untuk mengajar Kitab Suci di IFT (Institut Filsafat Teologi yang sekarang sudah menjadi Fakultas Teologi Wedabakti – Universitas Sanata Dharma) di Kentungan, Yogyakarta.

Ini kerap ia sebut sebagai salah satu hadiah terindah dalam hidupnya. Dengan benuman ke Yogyakarta ini, ia sudah akan tiba di “Tanah Misiku” yang telah dia impikan sejak masa kecilnya.

Pada bulan Oktober 1969, Romo Wim van der Weiden MSF  tiba di Indonesia. Sejak dari awal kehadirannya di Indonesia, ia segera mulai mengajar Kitab Suci di Institut Filsafat dan Teologi (IFT), Kentungan, Yogyakarta.

Ia menekuni tugasnya mengajar di Kentungan  sampai 2015. Ia demikian bahagia menjalankan tugas sebagai dosen Kitab Suci di situ dan di berbagai pulau di Indonesia. Sedemikian besarnya suka cita sebagai pengajar, ia menuturkan dalam buku Rekam Jejak Kawula Werda MSF (2004):

“Tidak satu hari pun saya menyesal bahwa saya telah datang ke sini. Tidak selalu enak, tidak selalu mudah, tetapi tahun-tahun di sini merupakan tahun yang paling bahagia dari hidupku. Memberi kuliah merupakan suatu kesenangan, setiap hari kembali”.

Jalan hidupnya, Tuhanlah yang memilih.

Awalnya, Romo Wim ingin menjadi seorang Pater di tanah misi; tapi Tuhan menghendaki dia menekuni Kitab Suci dan membantu ribuan orang menekuni Kitab Suci. Tuhanlah yang memilih Romo  Wim untuk Indonesia.

Benar sekali motto tahbisannya “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap” (Yoh 15:16).

Di tahun ia merayakan Pesta Emas Imamatnya, ia melihat bahwa buah melimpah itu nyata. Saat itu, ia menceritakan bahwa sampai tahun itu ia sudah mengajar sekitar dua ribu calon imam, tiga puluh calon uskup, dan satu calon Kardinal.

Begitu besar suka citanya untuk mengajar dan ini dia imbangi dengan sikap belajarnya. Romo Wim ingat betul kata-kata Paus Yohanes XXIII yang pernah berkata kepadanya agar ia terus menerus belajar, sebab seorang dosen pengajar Perjanjian Lama nanti ia akan cepat menjadi tua kalau tidak terus belajar.

Selain bertugas sebagai pengajar Kitab Suci di Yogyakarta, ia telah dipercaya untuk menjalankan berbagai tugas seperti:

  • Superior Propinsial MSF Jawa dari tahun 1974 hingga 1976.
  • Wakil Ketua MASI (1975).
  • Wakil Ketua Dewan Penyantun IFT (1977)
  • Dekan Teologi IFT (1979)
  • Anggota Badan Pengurus LBI (1982)
  • Superior Jenderal Kongregasi MSF selama dua periode (1995–2007).

Sejak beberapa tahun terakhir ini, kesehatan Rm. Wim menurun  dan ia banyak mengurangi aktifitasnya, termasuk kebiasaan berjalan kaki dan bersepeda. Pada tahun ini kesehatannya sangat menurun. Beberapa waktu yang lalu ia mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Elisabeth Semarang.

Setelah membaik, ia minta kembali ke Yogyakarta.

Kurang dari sepekan di Yogyakarta, tepatnya pada Hari Minggu Kristus Raja Semesta Alam, tanggal 26 November 2017, pukul 07.50, Romo Wim van der Weiden MSF dipanggil Tuhan pada usia 81 tahun di Yogyakarta.

Sekarang Romo Wim van der Weiden MSF disemayamkan di Kapel RS Panti Rapih Yogyakarta.

  • Jenazahnya akan tiba di Biara Nazareth, Jl. Kaliurang KM 7,5 – Yogyakarta pada pukul 18.00.
  • Misa Tirakatan akan diselenggarakan pada hari Minggu, 26 November 2017, pukul 19.00 di tempat yang sama.
  • Misa Pemberkatan Jenazah akan diselenggarakan sehari kemudian di Biara Nazareth, Jl. Kaliurang KM 7,5, Senin, 27 November 2017, pukul 11.00 dan dilanjutkan dengan pemakaman di  Sasana Golgota di kompleks yang sama.

Satu dalam doa untuk  Roo Wim van der Weiden MSF. (Sumber : sesawi.net)

Leave a Reply