Waktu

 

~ Waktu ~

Waktu terus berjalan maju, begitu cepat berlalu dan lewat begitu saja.
Mengacu pada bacaan Injil di hari terakhir di tahun 2018 ini kita disadarkan bahwa “Firman telah menjadi Daging” ~ Kai ho logos sarx egeneto.
Firman itu adalah Allah, sumber cinta, kebaikan dan ketulusan. Ia hadir dan mengalir dalam ruang dan waktu. Ia dekat dengan pergulatan hidup dunia kita yang penuh dengan “gaudium et spes” – kegembiraan dan harapan, yang kita ungkapkan dengan tindakan, antara lain:

1. Bersyukur
BERSYUKURLAH ~ ‘Gaudete’, kepada Allah atas kehidupan ini dan berterimakasihlah kepada semua orang ~ ‘Per tutto stato di grazia’ yang ada bersama dalam kehidupan kita selama setahun ini dengan segala suka-duka dan tawa-tangisnya.

Di sinilah kita diajak untuk menjalani hidup ini dengan penuh harapan, walau hidup tak selalu bahagia dan ceria, tak selalu penuh suka dan tawa.

2. Berbagi
BERBAGILAH ~ ‘Donate’ rahmat pada orang di sekitar kita, terlebih pada orang-orang yang kecil, lemah, miskin-tersingkir/disingkirkan, agar hidup kita menjadi lebih berarti. ‘Donato ergo sum’ – Aku berbagi maka aku ada!

Di sinilah kita diajak untuk berbagi harapan dengan belajar memberi senyuman, walau hati kadang tak lagi mampu untuk bertahan. Berbagi harapan dengan belajar memaafkan, walau hati sangat terluka.

3. Berdoa
BERDOALAH ~ ‘Orate’ adalah usaha bersama Allah untuk membaharui segalanya menjadi baik, nemang itu berat, tapi akan menjadi ringan dan indah jika dikerjakan bersama Allah dalam doa.

Di sinilah kita diajak untuk menyadari bahwa tahun baru bukan hanya “deretan waktu” tapi juga “tantangan mutu”. Ia bukan cuma “time” tapi “moment” untuk rahmat dan limpahan berkat Allah.

Saudaraku, kehidupan yang penuh harapan mengajarkan bahwa hidup cuma sekedar “mampir ngombe”= “numpang minum”.
Seperti pengembara di perjalanan panjang, ia akan berhenti sejenak untuk minum, lalu melanjutkan kembali perjalanannya.
Selamat menyongsong malam Tahun Baru 2019.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang bersyukur atas kasih dan rahmatNya sepanjang tahun 2018. Amin.

Persembahan Diri

 

~ Persembahan Diri ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, mengisahkan bagaimana Yesus dipersembahkan oleh Yusuf dan Maria ke dalam Bait Allah.
Di dalam Bait Allah mereka bertemu dengan Simeon, orang benar dan saleh yang selalu melakukan suatu pekerjaan berdasarkan tuntunan Roh Kudus. Maka ia datang ke Bait Allah juga atas dorongan Roh Kudus pula.

Adapun makna keteladanan Keluarga Kudus dan nubuat Simeon dalam kisah ini, antara lain:

1. Ketaatan
Yusuf dan Maria adalah orang tua Yesus yang TAAT dalam hidup beragama dan mematuhi aturan sesuai hukum Taurat Musa.
Mereka orang saleh dan suci yang selalu mengarahkan hati kepada kehendak Allah.

Di sinilah kita diajak untuk meneladani KETAATAN Yusuf dan Maria sekaligus menyadari misi keluarga Kristiani yaitu: memuliakan Kerajaan Allah.
Kehidupan keluarga Kristiani pasti tidak lepas dari persoalan dan permasalahan hidup. Namun Keluarga Kudus memberi teladan dalam menghadapi semuanya itu yaitu dengan memelihara, menanamkan hidup keimanan dalam keluarga dan ketaatan melaksanakan perintah Allah, sehingga selalu diberkati, dilindungi dan diselamatkan oleh Allah.

2. Persembahan
Pada awal hidup-Nya, Yesus dipersembahkan di kenisah untuk menegaskan kedudukan dan peranan-Nya sebagai pembaharu kehidupan religius.
Pada akhir hidup-Nya, Ia mempersembahkan diri di kayu salib sebagai kurban pelunas atas dosa manusia. Bersama dengan kurban Kristus kita juga mempersatukan kurban kita sebagai tanda dan kepercayaan akan kepemilikan dan pemeliharaan Allah atas diri kita.

Di sinilah kita diajak menentukan sikap yang tegas: menerima atau menolak Kristus, dan keselamatan bergantung dari keputusan yang kita ambil.

3. Kristus Cahaya Bangsa
Simeon seorang yang saleh dalam hidupnya, dan ia melihat dalam diri Yesus terang bagi bangsa-bangsa dan kebangkitan bagi seluruh umat Israel; ia menubuatkan bahwa KRISTUS adalah CAHAYA BANGSA-BANGSA.

Di sinilah kita diajak sekali lagi bersikap tegas: menerima atau membenci Cahaya. Bagi yang menerima berarti ia berpihak pada Cahaya itu yang akan mengalahkan kegelapan. Dalam cahaya itu, orang hidup sebagai saudara bagi yang lain serta mengasihi sesamanya.

Saudaraku, Kristus adalah Terang dan Keselamatan, yang terangNya menyinari segala bangsa serta bercahaya dan membuat kita semua hidup dalam kasih persaudaraan dan memperoleh keselamatan.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Yang hanya bisa diam karena tidak mampu membalas

 

~ Yang hanya bisa diam karena tidak mampu membalas ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, mengisahkan Herodes yang ketakutan akan kekuasaannya sebagai raja akan copot oleh “Raja Baru” yang telah dilihat bintangnya oleh para sarjana dari Timur.
Maka ia menyuruh para prajurit untuk membunuh semua anak laki-laki di Bethlehem dan sekitarnya yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah. Allah yang mengetahui rencana busuk Herodes maka melalui malaikat, Ia berpesan kepada Yusuf untuk mengungsi ke Mesir dengan membawa Anak yang baru lahir dan ibuNya sehingga selamat dari upaya pembunuhan Herodes.
Adapun kisah dalam bacaan Injil pada pesta Kanak-Kanak Suci hari ini yang dapat menjadi sumber inspirasi iman bagi kita, antara lain:

1. Ketaatan
KETAATAN Yusuf atas petunjuk Allah dan menjadikannya sebagai pedoman perjalanan hidup keluarganya inilah yang membuat Yusuf semakin berani mengambil resiko membawa Maria, istrinya dan Yesus, anaknya melintasi padang gurun dan mengungsi ke Mesir.

Di sinilah kita diajak untuk belajar KETAATAN dari Yusuf yakni taat mengikuti petunjuk Allah. Petunjuk Allah dapat kita temukan di dalam Kitab Suci dan ajaran-ajaran-Nya, yang diperlukan hanyalah keterbukaan hati serta kerelaan mendengarkan suara-Nya.

2. Kesucian
Pada hari ini Gereja bukan saja menghormati kanak-kanak itu sebagai martir-martir Kristus, melainkan juga terutama menekankan nilai KESUCIAN HIDUP dan kemurnian hati sebagai suatu cita-cita iman semua orang beriman.

Di sinilah kita diajak untuk terus berjuang mewujudkan kesucian hidup dan kemurnian hati sebagai saksi-saksi Kristus, meskipun seringkali harus memerlukan pengorbanan diri.

Saudaraku, kuasa kegelapan selalu berusaha untuk mengalahkan kebenaran dengan segala cara. Namun jangan biarkan rasa gentar menguasai diri kita, tetaplah berpegang teguh pada sabda Allah dan mari kita terus berjuang untuk meraih kekudusan dengan hidup tak bercela di hadapan Allah.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Saksi Kristus

 

~ Saksi Kristus ~

Pada hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan Pesta St. Stefanus, sang martir pertama di dalam Gereja. Sebagai seorang diakon, ia banyak melayani jemaat. Ia penuh dengan karunia dan kuasa membuat mukjizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. Dia juga mampu bersoal jawab dengan siapa saja dan menunjukkan bahwa kebijaksanaannya berasal dari Allah.
Kisah kemartiran Diakon Stefanus ini menginspirasikan kita banyak hal pada masa natal ini:

1. Berani bersaksi
Dengan semangat natal, kita diberi kekuatan dan KEBERANIAN untuk menjadi saksi Kristus, terutama pada saat-saat yang ekstrim, menakutkan karena nyawa dipertaruhkan.
Ia penuh dengan Roh Kudus dan berani mengakui imannya di hadapan para musuh Kristus.

Di sinilah kita diajak merefleksikan: apakah kita juga memiliki keberanian untuk bersaksi tentang Kristus?

2. Penyerahan total
Kemartiran diakon Stefanus membantu kita untuk memahami bahwa Natal adalah peristiwa PENYERAHAN diri secara TOTAL kepada Allah.

Di sinilah kita diajak merefleksikan: apakah dalam setiap pergumulan hidup ini kita juga berserah kepada Allah?

3. Mengimani Roh Kudus
Kemartiran diakon Stefanus membantu kita juga untuk MENGIMANI ROH KUDUS.

Di sinilah kita diajak senantiasa berusaha untuk hidup dalam Roh Kudus. Orang yang hidup dalam Roh Kudus akan memiliki kebijaksanaan dan keberanian untuk bersaksi dan Roh Allah selalu hadir dan berkarya dalam diri kita kalau kita sungguh-sungguh percaya.

Saudaraku, pada masa setelah Stefanus, semua murid Kristus mengalami penganiayaan sebagaimana Yesus sendiri katakan dalam perikop Injil hari ini. Ada yang lari meninggalkan Yesus, tetapi ada lebih banyak lagi yang bertahan sebagai pengikut Kristus. Bagaimana dengan kita?

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Memuji Tuhan

 

~ Memuji Tuhan ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, ‘Kidung Pujian Zakaria’ menutup serangkaian persiapan kita dalam rangka menyambut perayaan kelahiran Yesus Kristus dalam misa malam Natal hari ini.
Adapun makna ‘Kidung Pujian Zakaria’ ini mengajak kita untuk senantiasa:

1. Bersyukur
Zakaria dan Elisabet BERSYUKUR karena Allah berkenan mengunjungi umatNya untuk membebaskan mereka dari penderitaan.
Elisabet yang mandul ternyata mengandung dan melahirkan dengan selamat. Zakaria yang bisu ternyata mendadak sembuh setelah ia memberi nama anaknya Yohanes.

Di sinilah kita diajak menyadari bahwa kegelapan akan tunduk di hadapan sinarNya yang cemerlang.

2. Bersukacita
Pesan ‘Kidung Pujian Zakaria’ yang sangat indah ini merupakan ungkapan sukacitanya. Ia sungguh percaya bahwa janji Allah telah terpenuhi dan saatnya sudah tiba.

Di sinilah kita diajak untuk juga BERSUKACITA menyambut kedatangan Kristus sebagai tanda bagi kita untuk menghentikan setiap “kesedihan dan air mata dukacita” dan digantikan dengan “kegembiraan dan air mata sukacita” karena besarlah kasih dan kebaikan Allah untuk kita.

Saudaraku, marilah bersama Zakaria kita berdoa dan memuji serta memuliakan Allah.
Dan semoga perayaan kelahiran Kristus turut membarui semangat dan menguatkan iman kita.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai dan mendoakan kita sekeluarga. Amin.

Perjumpaan yang Meneguhkan

 

~ Perjumpaan Yang Meneguhkan ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, mengisahkan Maria mengunjungi Elisabet. Kehadiran dan perjumpaan Maria dengan Elisabet membuat kebahagiaan bagi Elisabet. Perjumpaan seorang gadis Maria sebagai ibu Yesus dengan Elisabet wanita yang sudah usia tua, tetapi mendapat rahmat Allah karena sedang mengandung yang kelak bernama Yohanes Pembaptis.
Adapun semangat yang dapat kita teladani dari kunjungan Maria kepada Elisabet ini, antara lain:

1. Kesempatan
Hari ini kita diberi KESEMPATAN untuk memasuki Minggu Adven yang keempat yakni masa Adven terakhir menjelang hari Raya Natal, sebagai perayaan kelahiran Yesus yang kita imani sebagai Juru Selamat.

Di sinilah kita diajak untuk meneladani langkah nyata Bunda Maria yang mengunjungi sanak saudaranya Elisabet yang sudah tua usianya dan kunjungan itu membahagiakan Elisabeth. Semangat kunjung-mengujungi pada sahabat yang sedang perlu perhatian, sebaiknya juga menjadi prioritas kita.

2. Kehadiran
Berkat bantuan Roh Kudus yang turun ke atasnya, Elisabet dapat memaknai gerak bayi yang ada dalam rahimnya sebagai lonjakan kegembiraan menyambut kedatangan Sang Juru Penyelamat yang ada dalam rahim Maria.

Di sinilah kita diajak untuk menyadari bahwa KEHADIRAN kita hendaknya membawa kelegaan bagi sesama manusia yang perlu mendapat perhatian.

Saudaraku, semoga kesempatan memasuki masa Adven ke-empat ini menjadikan kita semakin bersyukur karena besok kita sudah merayakan Natal 2018.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria senantiasa menyertai kita sekeluarga yang sedang mempersiapkan diri menyambut kedatangan Sang Juruselamat. Amin

Komitmen

 

~ Komitmen ~

“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38). Inilah FIAT Maria atau komitmen Maria sejak awal.
Pada saat Maria menyatakan “fiat”-nya, Maria menerima rahmat Allah yang begitu khusus dengan memilih dia untuk menjadi bunda Allah, sehingga Maria diperkenankan untuk melahirkan Anak Allah yang maha-tinggi.
Tetapi juga pada saat yang sama dengan “fiat”-nya Maria juga siap menerima konsekuensi yang terburuk yaitu hukuman rajam sesuai ketentuan hukum Taurat.

Ternyata Maria mengutamakan sikap ketaatan yang tanpa syarat kepada kehendak dan rencana Allah. Melalui ketaatannya, Maria menyatakan bagaimana mata imannya dimampukan oleh Allah untuk melihat bahwa karya keselamatan Allah lebih agung dan berarti dari pada rasa aman dan kepentingan dirinya.
Fiat Maria ini mengungkapkan isi iman yang paling dalam tentang rahasia keselamatan Allah. Sebab saat Maria mengambil keputusan dengan berkata: “Jadilah padaku menurut perkataanMu” berarti saat itu pula Maria mengalami proses pembuahan dalam rahimnya. Pada saat Maria menyatakan “fiat” atau KETAATAN-nya, berarti saat itu pula Maria menyetujui peristiwa inkarnasi Sabda Allah terjadi dalam rahimnya.

Di sinilah kita diajak menyadari bahwa apa yang terjadi di Nazaret dua ribu tahun silam itu bukan perkara yang biasa-biasa saja, karena sejak saat itu kemanusiaan mengambil arah baru sampai ke zaman ini.

Saudaraku, kedatangan malaekat Gabriel kepada Maria dapat membuat kita makin menyadari dan mendekatkan diri kepada Yang Ilahi.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Percayalah kepada Allah

 

~ Percayalah kepada Allah ~

Hari ini bacaan Injil Lukas semakin memperjelas menjelang kelahiran Yesus, dimana dipersiapkan terlebih dahulu kelahiran Yohanes Pembaptis. Kita melihat apa yang di nubuatkan nabi Maleakhi digenapi di dalam diri Yohanes Pembaptis.
Adapun makna dari berita kelahiran Yohanes Pembaptis yang menjadi pelajaran berharga bagi perkembangan iman kepercayaan kita kepada Yesus, antara lain:

1. Bekerjasama
Iman BEKERJA SAMA dengan perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan adalah mati.

Rencana Allah jauh lebih sempurna. Hal ini harus menjadi pedoman kita bahwa apapun persoalan yang terjadi di dalam kehidupan kita adalah bagian dari rencana Allah yang mengaturnya dan pastikan hati kita mau menerimanya.

Di sinilah kita diajak untuk menyadari bahwa perbuatan kita yang sesuai dengan pikiran dan hati kita akan memperkuat dan meneguhkan iman kita.

2. Bertumbuh
Iman kita harus terus BERTUMBUH Iman itu sangat penting dan menjadi dasar perilaku dan perbuatan kita.

Di sinilah kita diajak untuk lebih mengenal dan memahami sabda Allah yang tertulis dalam Kitab Suci dan mendengarkan Roh Kudus yang berbicara langsung melalui hati nurani kita.

3. Bersyukur
BERSYUKUR atas segala pemberian Allah. Kita harus meyakini bahwa setiap pemberian Allah itu adalah yang terbaik bagi hidup kita, walaupun tidak selalu menyenangkan hati pada saat diberikan, tetapi kesudahannya nanti membawa kita kepada hidup di dalam kekekalan.

Di sinilah kita diingatkan untuk selalu BERSYUKUR atas semua pemberian Allah.

Saudaraku, apakah kita senantiasa percaya sekaligus mempercayakan hidup kita hanya kepada Allah dalam segala situasi hidup kita?

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan

 

~ Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan ~

Inilah ajakan untuk bersyukur dan bersukacita serta bergembira, karena kedatangan Mesias sudah semakin mendekat. Perayaan Natal sebagai kenangan dan aktualisasi kedatangan Tuhan memang selalu diwarnai dengan suasana syukur, sukacita, kemeriahan dan kegembiraan. Oleh karena itu dalam tradisi liturgi hari Minggu Adven III ini disebut Minggu Gaudete ~ Minggu Sukacita.

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Yohanes Pembaptis mewartakan pertobatan, yakni ‘berbalik’ dari kegelapan menuju ke sumber terang dan mengajak semua orang untuk menjadi ‘saksi’ yang penuh sukacita dengan menerima pembaptisan.
Adapun dua aspek yang diwartakan Yohanes Pembaptis dalam bacaan Injil hari ini, antara lain:

1. Tuntutan Etis
Yohanes Pembaptis memberikan arahan konkret tentang TUNTUTAN ETIS atau pedoman yang harus dilaksanakan sebagai wujud pertobatan sejati yakni hidup selaras dengan kehendak Allah.

Di sinilah kita diajarkan bagaimana menjawab pertanyaan yang selalu muncul yakni “apakah yang harus kami perbuat?”
Dalam konteks ini ada kesediaan untuk saling memberikan perhatian dan berbagi dengan sesama yang menjadi bagian dari hidup kita yakni menjalankan keadilan, kejujuran dan berbagi dengan sepenuh hati lewat profesi yang kita tekuni setiap hari. Sehingga melalui pelaksanaan profesi kita, “mereka melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa yang di sorga.”

2. Kedatangan Mesias
Yohanes Pembaptis datang untuk mewartakan pertobatan kepada semua orang supaya bisa layak menerima KEDATANGAN MESIAS.

Di sinilah Yohanes mengingatkan kita semua supaya berlaku adil dan jujur kepada Allah dan sesama. Sebab orang yang bersukacita itu bisa berdisiplin, selalu berlaku adil dan jujur terhadap sesamanya serta setia di dalam hidupnya.

Saudaraku, sabda Allah pada pekan adven ke III ini sangat menguatkan kita semua untuk bertobat. Mari kita membangun persaudaraan sejati dengan saling berbagi, berlaku adil dan jujur, menghormati hak-hak asasi sesama. Dengan demikian sukacita ilahi bukan hanya sebuah slogan, tetapi sungguh-sungguh dirasakan oleh semua orang.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang penuh sukacita menyambut kedatangan Mesias. Amin.

Peduli dan Peka

 

~ Peduli dan Peka ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, kita diajak untuk peduli dan peka menanggapi cara Allah bekerja untuk menyelamatkan manusia. Sesungguhnya Allah tidak pernah berhenti untuk mengasihi dan menyelamatkan manusia.

Adapun penyebab banyak orang kurang peduli dan peka dengan cara Allah bekerja, antara lain karena:

1. Kesombongan
KESOMBONGAN, kurang rendah hati diumpamakan Yesus “seperti anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung.”
Inilah bentuk kesombongan dan ketidak-seriusan sikap untuk mengenal Kristus lebih dalam; padahal manusia hanya dapat mengenal Allah melalui Kristus.
Karena hanya Kristus yang dapat mengenalkan siapa Allah karena memang hubungan Kristus dan Allah sangat intim. Dan di dalam hubungan Anak-Bapa itu terdapat pengenalan yang sempurna.

Di sinilah kita diajak lebih serius mengenal Kristus yang berarti mengenal Allah dan ini adalah anugerah.

2. Kekerasan hati
KEKERASAN HATI hanya akan menghambat kita untuk dapat lebih dalam mengenal Allah. Maka datanglah kepada Kristus; “marilah kepada-Ku”
Dalam pemahaman demikian undangan Kristus tersebut menjadi semakin jelas maknanya, yakni: panggilan anugerah. Setiap orang yang memenuhi panggilan itu akan masuk ke dalam pengenalan yang lebih intim dan mendalam hubungan Anak dan Bapa.

Di sinilah kita diajak untuk membuka hati untuk mendengarkan esensi dari pesan yang hendak disampaikan oleh Kristus. Dengan demikian kita akan mampu mendengarkan Allah yang bersabda melalui suara hati yang benar; merasakan kasih dan keselamatan yang dianugerahkanNya, sehingga kita akan mengalami damai dan kebahagiaan bersamaNya.

Saudaraku, selayaknya kita membuka hati agar mampu mendengarkan Sabda keselamatan dan warta tentang makna Kerajaan Allah, sehingga hidup kita semakin dekat dan semakin mengenal-Nya, serta menikmati damai sejahtera dan kebahagiaan dalam hidup kita.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang membuka hati untuk lebih mengenal-Nya. Amin.

Gembala yang Baik

 

~ Gembala yang Baik ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, kita diajak untuk merenungkan kebaikan Allah.
Kristus memberikan perumpamaan melalui kebaikan gembala yang berjuang mencari satu dombanya yang lepas dari kawanan dan menemukan kembali domba yang tersesat.
Adapun tujuan Kristus mencari dan menemukan serta menyelamatkan bagi mereka yang tersesat adalah memberikan:

1. Sukacita
SUKACITA menurut rencana Allah adalah mengajak murid-muridNya untuk bertobat. Kita perlu bertobat, menata kembali hidup kita untuk menjadi sempurna di hadirat Allah.

Di sinilah kita diajak untuk memiliki rasa percaya yang besar kepada Allah dan terbuka serta membiarkan Allah berkarya dan memberikan sukacita di dalam diri kita.

2. Keselamatan
KESELAMATAN menurut rencana Allah adalah mendengarkan Sabda Allah dan mencintai ! Keselamatan ini ditujukan bagi semua orang, tanpa ada perbedaan dan pengecualian. Allah tidak menghendaki kebinasaan bagi anak-anakNya. Sang gembala akan merasa berbahagia serta bersukacita karena menemukan dombanya.

Di sinilah kita diajak memiliki tugas untuk mencari domba yang tersesat dan memiliki kemampuan mendengarkan SabdaNya.
Dengan sikap-sikap ini maka akan timbul daya yang kuat untuk menjadi gembala yang baik.

Saudaraku, marilah kita terus berupaya untuk bertobat dan menjadi gembala yang baik bagi sesama dengan memberikan keceriaan dan kebahagiaan di sekitar kita.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai perjuangan kita sekeluarga untuk menjadi gembala yang baik. Amin.

Kepercayaan dan Harapan

 

~ Kepercayaan dan harapan ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, menjadi pelajaran yang bermakna sangat mendalam jika kita mau membuka hati dan melaksanakan di dalam kehidupan kita mengenai kepercayaan dan harapan seperti ditampilkan oleh kedua orang buta yang disembuhkan Yesus.

Kepercayaan dan harapan membuat mereka melihat Yesus dan kuasa-Nya meski mata mereka buta dan mereka dalam kegelapan.
Adapun tiga semangat dasar yang dapat kita maknai dari peristiwa dua orang buta yang disembuhkan Yesus itu, antara lain:

1. Berjuang
Dua orang buta tersebut terus BERJUANG dengan hati teguh untuk tetap memiliki kepercayaan dan harapan serta dengan setia mengikuti-Nya.

Di sinilah kita diajak untuk terus berjuang mengikutiNya dan belajar mengenai kesetiaan, ketekunan dan kesabaran mempercayakan seluruh hidup kita kepada Allah.

2. Beriman
Dua orang buta tersebut memang tidak dapat melihatNya, tapi IMAN timbul dari pendengaran, mereka buta jasmani tapi melek rohani. Karenanya mereka terus berseru-seru tanpa henti dan bermohon: “Kasihanilah kami, hai putera Daud!”

Di sinilah kita belajar untuk percaya yang didasari oleh keyakinan iman yang kokoh, bahwa di dalam kegelapan dan keputus-asaan Allah-lah satu-satunya harapan terbesar.

3. Bersyukur
Perubahan dari “keterbutaan” menjadi “keterbukaan” yang dialami dua orang buta tersebut, membuat mereka tidak mampu lagi menahan rasa SYUKUR yang melimpah. Sebab Yesus menunjukkan bahwa diriNya sama dengan Dia yang pertama kali menghembuskan napas kehidupan kepada manusia.

Di sinilah kita diajak untuk bersyukur karena sudah mengalami belas kasih Kristus yang menjadi sumber terang dan kehidupan kita juga.

Saudaraku, sudah semestinya kita senantiasa menjaga mata rohani kita untuk terang benderang, karena kita tidak mengijinkan kegelapan membutakan diri kita dan menghambat pertumbuhan iman kita.
Semoga kita senantiasa memiliki kepercayaan dan harapan, apapun situasi hidup kita.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang terus berjuang untuk tetap percaya dan memiliki harapan. Amin.

Bersyukur

 

~ Bersyukur ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk selalu bersyukur kepada Allah atas segala pengalaman hidup, baik suka maupun duka sekaligus menegaskan kecintaan-Nya pada orang-orang sederhana: “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.”

Adapun makna dasar ‘orang kecil’ dalam penegasan Yesus tersebut, sehingga mendorong kita untuk selalu ‘bersyukur’, antara lain:

1. Berpihak
Yesus mencintai ‘orang kecil’ dan sederhana, sebagaimana Ia juga datang sebagai bayi di Betlehem, sebagai anak tukang kayu di Nazaret, sebagai yang tersalib hina di Yerusalem.
Hal ini mengandaikan adanya KEBERPIHAKAN sekaligus keterlibatan pada ‘orang kecil’, sederhana, lemah, miskin, dan tersingkir dalam hidupnya.

Di sinilah Yesus mengajak kita miskin di hadapanNya supaya mudah dibentuk oleh-Nya, menjadi orang yang tulus dan rendah hati, karena Ia datang juga sebagai Allah yang tulus dan mencintai kesederhanaan dan kerendahan hati,

2. Bertindak
Yesus menginginkan supaya kita BERTINDAK secara sederhana, mudah melihat Allah pada hal-hal sederhana dan menjadi orang yang tergerak hatinya pada orang-orang sederhana.

Di sinilah kita diajak untuk bersikap rendah hati dan ‘miskin’ di hadapan Allah, karena sebenarnya hanya orang yang tulus, yang mau merendahkan diri dan merasa kecil di hadapanNya, dan yang siap untuk diisi dan dipenuhi dengan limpahan rahmat Allah sendiri.

Saudaraku, dalam ungkapan syukur kita harus memberikan kemuliaan kepada Allah atas mata air kecukupan yang telah disediakan-Nya bagi kita. Maka marilah kita bersyukur selalu atas apapun yang ada dalam hidup kita.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang selalu bersyukur. Amin.

Melayani Sabda

 

~ Melayani Sabda ~

Pada hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan pesta St. Fransiskus Xaverius. Ia lahir dengan nama asli Francesco de Yassu Javier, tanggal 7 April 1506 di istana Xavier di Navarra, bagian utara Spanyol.

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, dikisahkan bahwa Yesus Kristus yang sudah bangkit mulia menampakkan diriNya kepada para murid sebelum naik ke surga. Di hadapan mereka Ia berkata: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mrk 16:15).

Dalam masa Adventus ini kita semua juga terinspirasi oleh Sabda Kristus dan kesaksian hidup St. Fransiskus Xaverius untuk melayani Sabda. Adapun yang harus kita lakukan untuk melayani Sabda, antara lain:

1. Kesediaan
Kristus mengharapkan KESEDIAAN kita untuk turut memberitakan Injil kepada segala makhluk. Kita mewartakannya dengan hidup sebagai pengikut Yesus Kristus yang baik dalam pikiran, perkataan dan perbuatan kita.

Di sinilah kita diajak untuk mewartakan Injil dengan perbuatan-perbuatan yang baik, dan bukan hanya dengan perkataan saja. Jadi kita dipanggil menjadi misionaris pelaksana Sabda bagi sesama.

2. Keterbukaan
Misteri Inkarnasi yang kita renungkan dalam masa adventus menjadi kekuatan bagi pribadi-pribadi dan keluarga-keluarga untuk terbuka kepada Sabda.

Di sinilah kita diajak untuk memiliki KETERBUKAAN terhadap Sabda sebelum kita menjadi pewarta dan pelaksana Sabda.

Saudaraku, semoga Sabda Allah mengubah hidup kita supaya layak merayakan kelahiranNya. Mari kita meneladani semangat St. Fransiskus Xaverius dalam melayani Sabda!

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang bersemangat mewartakan Sabda Allah. Amin.

Jagalah dirimu

 

~ Jagalah dirimu ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus menasihati: “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.” (Luk 21:34).

Kristus mengetahui kelemahan manusiawi setiap orang, yakni menyukai berbagai kenikmatan duniawi sehingga lupa menjaga dirinya.
Adapun beberapa yang perlu kita ingat agar kita tetap menjaga diri, mengontrol diri supaya jangan jatuh dalamm dosa kenikmatan, antara lain:

1. Bijaksana
Pada zaman dahulu hingga saat ini, fenomena hedonisme sudah ada dan berkembang dengan pesat. Di tempat pesta, banyak orang tidak mengontrol diri dalam hal makan dan minum sehingga bisa mabuk-mabukan, bisa membuat kekacauan atau menjadi tempat untuk memfitnah orang lain.

Di sinilah kita diajak untuk BIJAKSANA dalam mengontrol hawa nafsu. Sikap bijaksana ini akan membantu kita lebih siap menanti kedatangan Tuhan.

2. Berjaga-jaga
Tuhan mengetahui kelemahan manusiawi kita yakni sulit untuk menjadi orang yang senantiasa berjaga-jaga sambil berdoa.

Di sinilah Kristus mengingatkan dan mengajak kita untuk memahami makna BERJAGA-JAGA senantiasa sambil berdoa. Bila kita sungguh memahami makna doa sebagai kesempatan untuk mengarahkan hati dan pikiran hanya kepada Tuhan, maka dalam situasi apa saja, kita akan tetap berdoa dan bertahan di hadirat Tuhan.

Saudaraku, nasehat Yesus agar kita menjaga diri, mengontrol dari kenikmatan dunia dan tekun dalam doa, dimaksudkan akan membantu kita semua untuk masuk dalam KerajaanNya.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang terus berupaya menjaga dan mengontrol diri untuk menyambut kedatanganNya. Amin.

Panggilan Hidup Kita

 

~ Panggilan Hidup Kita ~

Inilah saat mengenang panggilan hidup kita masing2 sebagai murid-muridNya. Kita bersyukur atas rahmat panggilan dan perutusan-Nya.

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, kita belajar beberapa hal terkait dengan perjuangan untuk menjawab panggilan hidup ini, antara lain:

1. Mencari dan menemukan
Yesus senantiasa bergerak, MENCÀRI DAN MENEMUKAN orang-orang yang layak menjadi murid-Nya. Ia memanggil para murid tanpa memandang latar belakang mereka. Ia hendak menunjukkan bahwa keselamatan itu bersifat universal.

Di sinilah kita diajak untuk menyadari bahwa Yesus selalu melakukan pendekatan pertama kepada kita. Orang-orang yang mendengar Sabda dan merasakan Kerajaan Allah, tidak hanya sejahtera secara rohani tapi juga secara jasmani.

2. Mendengar dan mengikuti
Para murid mendapat panggilan Tuhan di tempat di mana mereka bekerja. Sikap batin yang mereka tunjukkan adalah MENDENGAR panggilan Tuhan. Mereka segera meninggalkan pekerjaan mereka dan MENGIKUTI Yesus.

Di sinilah kita diajak untuk memiliki ketulusan hati, iman dan kepercayaan kepada Tuhan dalam menjawabi panggilan hidup kita masing-masing.

3. Mensyukuri dan mengikuti
Kita BERSYUKUR kepada Tuhan sebab Ia juga mengunjungi dan memanggil kita semua untuk MENGIKUTINYA dari dekat. Kita percaya kepada-Nya sebab Ia juga menjadikan kita sebagai penjala manusia sesuai dengan kenyataan hidup kita.

Di sinilah kita diajak untuk berani melepaskan diri dari segala sesuatu yang mengikat dan segera mengikuti-Nya, sebab Ia mengasihi kita.

Saudaraku, pengalaman yang sama sudah lebih dahulu dialami oleh Santo Andreas. Mari kita juga mengantar sesama kepada Kristus.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus selalu menyertai kita sekeluarga dalam mengikuti panggilanNya. Amin.

Kesaksian

 

~ Kesaksian ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengajak kita untuk bertahan dalam iman dan berani memberikan kesaksian iman.
Adapun semangat yang mendorong kita untuk berani memberikan kesaksian iman seperti para martir, antara lain:

1. Kesetiaan
KESETIAAN kepada Kristus yang diyakini sebagai satu-satunya kunci keselamatan.
Itulah sebabnya mereka rela ditangkap dan dianiaya, diadili dan dipenjarakan meskipun mereka tidak bersalah.

Di sinilah Kristus mengingatkan para murid agar pandai-pandai membaca tanda-tanda zaman: “Sebelum akhir zaman, kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku.” (Luk 21:12). Kaum beriman sepanjang zaman bersaksi dan merasakan semua perkataan Kristus ini.

2. Kemenangan
Bila kita setia dalam iman dan berani menunjukkan serta mewartakan kasih Allah dalam hidup, apa pun konsekuensinya. Maka kita juga akan menikmati KEMENANGAN bersama para kudus yang telah berjaya oleh karena iman mereka. Bersama mereka pun kita akhirnya dapat memuji Allah dalam kebahagiaan abadi.
Kristus telah menjanjikan. “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk.21:19).

Di sinilah kita diajak untuk tidak takut, Kristus memberikan jaminan untuk setia menyertai, membela, dan meneguhkan kesaksian hidup dan iman akan nama-Nya. Ia sendiri telah mengalami konsekuensi dari kesaksian-Nya tentang cinta Allah Bapa, hingga wafat di salib.
Namun Ia mengatasi derita dengan jaya dalam kemenangan Paskah karena kesetiaan pada Bapa-Nya.

Saudaraku, kalau kita tetap bertahan dalam segala perbuatan baik dan tetap menjadi baik kendati ada banyak yang tidak baik, maka Allah akan selalu hadir dan memberikan jaminan keselamatan.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang setia dan berani bersaksi. Amin.

Waspadalah

 

~ Waspadalah ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus menanggapi pertanyaan perihal akan terjadinya peristiwa-peristiwa dahsyat yang akan menghancurkan bumi seisinya tersebut. Memang manusia akan hancur dan musnah, namun jiwa tetap abadi dan tak akan mati.
Adapun sikap iman kita dalam memaknai bacaan ini, antara lain:

1. Mawas Diri
Di hari-hari terakhir tahun Liturgi ini, kita diajak untuk MAWAS DIRI demi keselamatan jiwa yang hendaknya menjadi tolok ukur atau barometer keberhasilan aneka kegiatan dan pelayanan kita.

Di sinilah kita diajak untuk merefleksikan dalam aneka kegiatan dan pelayanan yang telah kita lakukan, apakah jiwa kita semakin selamat serta semakin banyak jiwa diselamatkan?

2. Hidup mulia
Jika kita beriman kepada Allah yang meraja, maka kitapun juga akan hidup selama-lamanya, artinya setelah meninggal dunia akan HIDUP MULIA di sorga bersama Allah Pencipta untuk selama-lamanya.

Di sinilah kita belajar hal yang penting yaitu apakah kita sebagai orang beriman senantiasa dikuasai atau dirajai oleh Allah; apakah kita menghayati sabda dan ajaranNya, serta meneladan cara bertindakNya?

Tantangan untuk setia pada panggilan dan tugas pengutusan memang banyak dan berat, hanya bersama dan bersatu dengan Allah kita akan mampu mengatasi atau menghadapi tantangan-tantangan yang menghadang di perjalanan hidup kita.

Saudaraku, pastikan kita berbudi pekerti luhur dan hidup baik, serta tetap pada hati yang percaya agar iman tak tergoyahkan oleh aneka rayuan iblis atau pergolakan-pergolakan dalam dinamika kehidupan ini.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga karena Allah yang merajai hati kita. Amin.

Sikap iman yang autentik

 

~ Sikap iman yang autentik ~

Kerendahan hati dan kerelaan serta ketulusan hati adalah kunci utama yang mengarah pada sikap iman yang autentik asli, dan tidak pura-pura.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengajarkan bagaimana sikap iman yang autentik itu lewat sikap hidup iman ‘wanita miskin’ yang dapat kita maknai, antara lain:

1. Tulus
Seorang ‘wanita miskin’ yang TULUS dan bermurah hati memberikan persembahan dengan kasih, pengabdian dan pengorbanan, meski jumlahnya paling kecil tapi justru lebih berharga daripada semua persembahan lainnya; sebab dia mempersembahkan semua yang ada padanya. Ia mendermakan seluruh nafkahnya dengan seluruh hatinya, tanpa memikirkan apapun selain ketulusan hati.

Di sinilah kita dipanggil untuk belajar berani berkurban dengan tulus-ikhlas tanpa pamrih, mempersembahkan dari apa yang kita miliki untuk kepentingan sesama. Itulah panggilan mulia yang hendak kita hidupi.

2. Cinta
Jumlah kecil yang dipersembahkan meskipun kecil tapi bila disertai dengan CINTA yang besar akan lebih bermakna daripada jumlah besar yang dipersembahkan tanpa disertai kurban dan cinta.

Cinta adalah keberanian untuk berkurban tanpa pamrih, orang yang suci hatinya senantiasa siap sedia berkurban bagi orang lain. Dia jarang atau tidak pernah mengeluh, menggerutu atau marah ketika harus menghadapi kesulitan, tantangan dan hambatan sebagai konsekwen kesetiaan hidup beriman.

Demikian juga ketika dicaci maki atau diejek tidak akan pernah melawan atau membalasnya, melainkan tutup mulut seraya dalam hati mendoakannya disertai syukur dan terima kasih; karena kita semua semakin dapat membaktikan diri seutuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi.

Di sinilah kita belajar dasar sikap iman yang autentik, karena terkadang kita sering terjebak dalam sikap hidup sok pamer agar dilihat dan dianggap keren. Sikap ini bukan saja berkaitan dengan kegemerlapan duniawi, tetapi juga sampai merasuki karya karitatif dan pelayanan rohaniah. Bisa jadi pelayanan kita disisipi motivasi tersembunyi, agar dianggap hebat, gaul dan penuh pengorbanan. Pada titik ini kita terjebak dalam sikap iman kosmetik, agar terlihat keren, tetapi cepat pudar dan tidak bertahan dalam arus pergumulan iman.

Saudaraku, marilah kita persembahkan perbuatan kita yang kecil dengan cinta yang besar demi kebahagiaan dan keselamatan orang lain serta diri sendiri.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang berjuang mempersembahkan pelayanan dengan tulus ikhlas dan penuh cinta. Amin.

Kesucian

 

~ Kesucian ~

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, mengkisahkan Yesus mengusir orang fasik dan tamak dari Bait Allah.
Adapun tindakan Yesus ini mengingatkan kita bahwa ‘Bait Allah’ adalah:

1. Rumah Doa
Bait Allah adalah RUMAH DOA, sehingga tempat itu harus terbebas dari sarang penyamun.

Di sinilah Yesus mengajak kita agar Bait Allah sungguh-sungguh dimanfaatkan sebagai rumah doa atau sebagai tempat ibadat dan bakti kepada Allah
Kemarahan Yesus kepada kaum Farisi dan ahli Taurat serta imam-imam kepala, karena mereka tidak bisa memberikan keteladanan yang baik kepada banyak orang dengan memanfaatkan Bait Allah bukan lagi sebagai rumah doa, tapi sebagai pasar dunia.

2. Tubuh Kita
Jika TUBUH KITA diisi dengan unsur-unsur kebaikan, maka sudah pasti rumah doa itu menjadi rumah pengudusan yang mendatangkan kemuliaan bagi Allah.

Di sinilah kita diajak mengerti bahwa apa yang keluar dari dalam diri kita akan menyucikan dan mendatangkan kebaikan.

Saudaraku, pada dasarnya tubuh kita adalah tempat Allah hadir, karena tubuh kita adalah Bait Allah yang hidup. Jika kebiasaan baik yang masuk dalam tubuh, maka kebaikan pula yang akan keluar dari tubuh.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.