Jangan Takut

 

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, membantu kita untuk menyadari pentingnya keberanian kita untuk hadir di hadiratNya sebagai ciptaan dengan penuh kerendahan hati, meskipun memiliki banyak kekurangan dan kesalahan untuk menerima semua rencana dan kehendakNya.
Di sinilah Kristus mengajak kita untuk mengenali dan mengakui ‘sumber kekuatan’ yang selalu menyertai para murid dalam melaksanakan tugas perutusannya.
Adapun tiga sumber kekuatan yang mendasari keyakinan bahwa Allah senantiasa menyertai kita dalam perutusan ini, sehingga kita tidak perlu takut, antara lain:

1. Penghargaan
“Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu LEBIH BERHARGA dari pada banyak burung pipit” Kita pasti jauh lebih mendapat pemeliharaan ilahi setiap hari, karena kita benar-benar berharga di mata Allah.

Di sinillah kita diajak untuk menjadi orang beriman yang berani dan mengimani, tidak boleh takut kepada segala hal duniawi, karena Allah yang sebenarnya berkuasa di atas segalanya.

2. Pengakuan
Yesus menegaskan pesanNya bahwa “setiap orang yang MENGAKUI AKU di depan manusia, Aku juga akan MENGAKUINYA di depan BapaKu yang di sorga”

Di sinilah kita terus diajak untuk bersaksi tentang hidup iman dan pengalaman akan Kristus di tengah hidup kita, tanpa harus merasa rendah diri.

3. Pengampunan
PENGAMPUNAN sejati hanya melekat bagi mereka yang berjiwa tangguh. Karena mereka yang berjiwa lemah tak mampu memberi seuntai maaf dan pengampunan.

Di sinilah Yesus mengajak kita berbuat baik kepada orang-orang jahat, karena merekalah yang paling banyak membutuhkan kebaikan dan pengampunan.

Saudaraku, Allah selalu hadir tepat pada waktunya pada diri pribadi yang berjiwa tangguh untuk mendamaikan dan mengampuni.
Apakah kita berani mengampuni saudara yang bersalah kepada kita? Jangan takut mengampuni sesama yang bersalah.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Panggilan menjadi murid Yesus

 

– Panggilan menjadi murid Yesus –

Panggilan menjadi murid Kristus berarti menjadi pribadi yang siap diutus untuk mewartakan kasih dan kebaikan Allah melalui setiap langkah laku kita. Kita diutus untuk meninggalkan keegoisme kita dan memberikan diri pada sesama yang kita jumpai.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus membutuhkan manusia untuk menjadi mitra kerjaNya di dunia ini. Ia memanggil dan memilih dua belas orang sebagai rasul serta mengutusnya. Mereka diberi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.
Adapun tiga semangat dasar yang bisa kita timba dari para rasul, antara lain:

1. Ketulusan
Yesus mengajarkan KETULUSAN HATI, tidak sekedar mengumbar janji tapi memberikan bukti. Para muridNya menjadi orang yang tulus, artinya semata-mata hanya demi Kerajaan Allah, dan bukan demi kekuasaan atau ketenaran diri.

Di sinilah kita belajar semangat ketulusan hati dalam upaya mewartakan kasih Allah. Dengan ketulusan hati inilah, iman kita sungguh utuh, penuh, menyeluruh dan tidak mudah luruh, sehingga bisa dirasakan oleh hati, diresapkan oleh jiwa, dipikirkan oleh akal budi dan diwartakan dalam tindakan nyata lewat karya yang murah hati.

2. Kehadiran
Yesus HADIR di tengah umat, tidak eksklusif tapi dekat dan hangat, terbuka pada suka duka umatNya. Ia benar-benar mengenal dunia harian sesamanya.

Di sinilah kita belajar semangat KEHADIRAN yang berciri universal, tidak terbatas sekat kelompok atau golongan. Dengan demikian kita sebagai muridNya siap diutus menjadi berkat bagi banyak orang.

3. Kesederhanaan
Yesus memilih para muridNya dari orang-orang yang sederhana, yang datang dari Galilea yang juga sederhana karena Ia juga datang sebagai Kristus yang sederhana, di tempat yang benar-benar sederhana.
Para murid SEDERHANA hidupnya, artinya orang-orang yang sederhana hidupnya semakin mudah dibentuk oleh Allah di tengah dunia yang sarat akan kemewahan.

Di sinilah kita belajar semangat hidup SEDERHANA yang merupakan salah satu keutamaan yang diwartakanNya, karena semangat kesederhanaan inilah yang membuat kita semakin mudah mengalami penyelenggaraan ilahi.

Saudaraku, sebagai pengikut Kristus panggilan kita mirip dengan panggilan para murid-murid kristus yang pertama. Jika Kristus memanggil kita, maka kita akan dilengkapi semua kebutuhan kita dalam menghadapi segala tantangan dunia.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Wajah Kerahiman

 

– Wajah Kerahiman –

Inilah cerminan wajah Allah yang mendorong kita untuk datang dan menyerahkan segalanya kepadaNya.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, membantu kita untuk terbuka pada setiap rencana Allah yang berbelas kasih kepada manusia berdosa yang seperti domba tanpa gembala.
Maka kita pun hendaknya selalu siap untuk berbagi atau berbela rasa dengan sesama.
Adapun dua tipe manusia dalam menanggapi rencana Allah yang berbelas kasih, antara lain:

1. Tertutup
Inilah tipe manusia yang tidak beriman, sehingga dengan sendirinya tidak mengandalkan Allah. Orang yang tidak mengandalkan Allah akan TERTUTUP dan melawan Allah di dalam hidupnya. Semua sabda yang disampaikan oleh Kristus tidak didengar dan tidak dilaksanakan.

Di sinilah Kristus mengoreksi kita semua yang memiliki kecenderungan untuk jatuh ke dalam dosa yang sama. Sekaligus mengajak kita untuk memiliki hati yang berbelas kasih.

2. Terbuka
Inilah tipe manusia beriman dan siap untuk mengandalkan Allah. Orang yang mengandalkan Allah akan TERBUKA untuk menjadi mitra kerja Allah.

Di sinilah kita diajak untuk belajar menjadi ‘mitra kerja’ Allah dengan memiliki hati seorang gembala yang baik, yakni hati yang penuh belas kasih kepada sesama.

Saudaraku, mohonlah rahmat Allah untuk selalu memiliki hati yang berbelas kasih kepada sesama.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Aku sekarang mengutus kamu

 

– Aku sekarang mengutus kamu –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus menunjuk tujuh puluh murid dan mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.
Adapun tiga rumusan dasar perutusan Kristus yang bersifat universal ini, antara lain:

1. Berbagi
Kristus selalu hadir untuk BERBAGI kehangatan dan bukan kejahatan, pujian dan bukan makian, kehidupan dan bukan gosipan.

Di sinilah Yesus juga mengajak kita untuk mau BERBAGI kehangatan bagi sesama kita secara real dan aktual dengan kata dan tindakan nyata setiap hari.

2. Berjuang
Kehadiran Kristus selalu BERJUANG membawa pesan kasih dan damai sejahtera.

Di sinilah Yesus mengajak kita untuk selalu memperjuangkan persatuan dan bukan perpecahan, kedamaian dan bukan kebencian, yakni damai teologis terhadap Allah, damai sosiologis terhadap sesama, damai psikologis terhadap diri sendiri, maupun damai ekologis terhadap alam semesta.

3. Bersaksi
Dalam bersaksi, Kristus tidak memperkenankan para murid membawa uang, bekal dan kasut agar misi perutusan mereka bersifat ‘lepas bebas’, tidak bergantung pada apa yang mereka bawa, tetapi pada apa yg mereka lakukan dan wartakan, yakni Allah dan karya keselamatan-Nya.
Para murid juga tidak diperkenankan memberi salam kepada siapapun di dalam perjalanan, karena mereka akan tergoda untuk tidak fokus dan terlena dengan waktu yang tidak produktif.

Di sinilah Yesus mengajak kita untuk ‘fokus’ melaksanakan tugas perutusan menjadi SAKSI, bukan hanya dengan kata-kata tapi dengan tindakan nyata, sebab orang lebih mudah percaya pada ‘mata’ ~ pada apa yang mereka lihat ~ daripada pada ‘telinga’ ~ pada apa yang mereka dengar ~, maka kita akan menjadi semacam panutan, contoh keteladanan iman yang bisa dirasakan secara nyata setiap hari, terlebih kepada keluarga dan sesama di sekitar kita.

Saudaraku, marilah kita pergi untuk berbagi kasih, berjuang demi terciptanya kedamaian dan bersaksi dengan sikap dan keteladanan iman.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Kehidupan yang dipulihkan

 

– Kehidupan yang dipulihkan –

Matius disebut juga Lewi adalah seorang pemungut cukai yang berarti penagih pajak, yakni petugas yang bertugas untuk memungut cukai atau pajak untuk pemerintah penjajah (Roma). Pemungut cukai dibenci oleh orang Yahudi fanatik, karena mereka seringkali ‘memeras’ masyarakat. Karena itulah orang Farisi tidak boleh makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang-orang berdosa.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, ada 3 (tiga) cara yang harus dilakukan oleh orang percaya supaya kehidupannya menjadi kehidupan yang dipulihkan, yaitu:

1. Menyadari diri sebagai orang berdosa
Ketidak-sadaran seseorang akan keberadaannya sebagai orang berdosa dan menganggap diri lebih baik dari yang lain, akan membatasi dan menghalangi kasihnya kepada orang lain dan tidak akan menikmati pemulihan dari Allah.

Di sinilah kita diajak untuk MENYADARI DIRI SEBAGAI ORANG BERDOSA agar Kristus memulihkan kita.

2. Mengakui Yesus akan memulihkan
Jika kita mengakui dan memiliki pemahaman yang benar tentang siapa Yesus Kristus, maka kita pasti memahami kehendak-Nya bagi orang berdosa. Kita akan MENGAKUI DIA sebagai Kristus dan Juruselamat kita, serta memberitakan perbuatan-Nya kepada orang lain yang belum mengenal-Nya.

Di sinilah kita diajak untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat, maka kita akan mengalami pemulihan.

3. Menyerahkan diri kepada Yesus
KERELAAN HATI MENGIKUT YESUS dan melayani Dia seumur hidup kita akan membuat kita menikmati pemulihan. Orang yang telah dipulihkan memiliki hati yang mengasihi dan merindukan orang lain dapat mengalami pemulihan.

Di sinilah kita diajak dengan kerelaan hati untuk menyerahkan diri kepada Yesus.

Saudaraku, kehidupan yang dipulihkan akan tercapai bila seseorang menyadari dosa-dosanya, memahami dan mengakui bahwa Kristus mengasihi dan mengampuninya, serta menyerahkan diri untuk mengikuti dan melayani Kristus. Maka kehidupan kita akan dipulihkan dan damai sejati menjadi milik kita.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Ya Tuhanku dan Allahku

 

– Ya Tuhanku dan Allahku –

Hari ini Gereja Katolik merayakan Pesta St. Tomas ~ Rasul ~ yang melalui pengakuannya dan dengan menjamah luka Kristus, ia mengajarkan kepada kita ‘siapa’ yang harus kita percayai. Matanya memandang kemanusiaan Kristus, tapi imannya mengakui ke-ilahi-an Kristus. Inilah yang menjadikan dia seorang rasul yang dengan iman yang teguh membawanya ke India dan mati sebagai martir disana.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini yang mengisahkan keraguan Tomas dan Kristus yang menampakkan Diri untuk mengambil segala keraguan dalam diri Tomas.
Ketika menghadapi Kristus yang bangkit, maka Tomas hanya mampu mengatakan: “ya Tuhanku dan Allahku!” yang bagi kita memiliki makna, antara lain:

1. Kodrat Yesus
Ungkapan iman “ya Tuhanku dan Allahku” merupakan ungkapan KODRAT YESUS yang sungguh manusia, namun juga ungkapan yang mengakui ke-Allah-an Yesus.

Di sinilah kita diajak menyadari bahwa pengalaman akan Kristus yang bangkit sebenarnya juga dialami oleh seluruh umat beriman, yakni pengalaman setiap kali kita mengikuti perayaan Ekaristi, kita dihadapkan pada Kristus yang bangkit. Bahkan Kristus yang bangkit ini juga bersatu dengan kita semua, karena kita menyambut-Nya di dalam Ekaristi.

2. Ekspresi Iman
Ungkapan iman “ya Tuhanku dan Allahku” ini memang merupakan EKSPRESI IMAN, yang menjadi dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Kalau kita melakukan hal ini, maka kita dapat disebut yang ‘berbahagia’, seperti yang Kristus nyatakan: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Di sinilah kita diajak menyadari bahwa percaya akan Kristus yang bangkit, telah membuktikan akan ke-Allah-an Kristus. Pernyataan akan Kristus yang menderita sengsara, wafat dan bangkit inilah yang harus kita ucapkan pada setiap perayaan Ekaristi: “Ya Tuhanku dan Allahku“.

Saudaraku, Firman Allah hari ini meneguhkan iman kita yang seperti Tomas, sering dilanda kebimbangan; maka marilah kita senantiasa menaruh pengharapan di dalam Kristus.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Aku dilahirkan untuk hal-hal yang lebih luhur

 

– Aku dilahirkan untuk hal-hal yang lebih luhur –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengajarkan kepada kita sebuah ‘totalitas’ dan ‘rela berkorban’ dalam mengikutiNya dan bukan hanya berhenti pada ucapan bibir dan akal budi saja.
Adapun dua sikap dasar yang harus kita miliki agar dapat mengikuti Kristus sebagai suatu panggilan dan pelayanan, antara lain:

1. Totalitas
Sikap TOTALITAS diperlukan orang yang mau mengikuti Kristus, tidak setengah-setengah tapi total ~ ‘all out’ ~, hingga untuk sekadar istirahat pun tidak sempat.

Di sinilah kita diajarkan bahwa siapa pun yang mau mengikuti Kristus, juga dipanggil untuk meninggalkan rasa aman dan nyaman untuk kepentingan diri sendiri dan memberikan pelayanan kepada sesama.

2. Rela Berkorban
Sebagaimana Kristus rela berkorban, demikian pula bila kita mau mengikuti Kristus, kita pun harus RELA BERKORBAN.

Di sinilah kita diajak untuk rela memberikan waktu, hati dan hidup kita dalam sembah sujud di hadirat Allah melalui doa-doa kita sebagai ungkapan sekaligus perwujudan iman untuk mengikuti Kristus.

Saudaraku, Firman Allah pada hari ini membantu kita untuk bertumbuh dalam rahmat Allah yang memiliki rencana indah untuk memanggil kita, maka jawablah panggilan itu. Panggilan itu akan bertambah subur hari demi hari kalau kita terbuka dan percaya kepada Allah dan mengikuti kehendakNya.
Hanya kepada Allah kita bersandar dan biarlah penyelenggaraan ilahiNya menyertai hidup dan karya kita setiap hari.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus
senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Tatapan yang membahagiakan

 

– Tatapan yang membahagiakan –

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya St.Petrus dan St.Paulus, dua tokoh besar dalam sejarah Gereja Perdana yang saling melengkapi. Gereja mengenangkan iman sejati dan teladan hidup mereka sebagai ‘Gembala Baik’ ‘Pastor Bonus’.
Adapun dua keutamaan dasar pelayanan St.Petrus dan St.Paulus yang patut kita maknai, antara lain:

1. Iman
Pengalaman IMAN akan karya Kristus yang menentukan hidup Petrus dan Paulus. Rasul Petrus mengalami bahwa Kristus lah yang telah menyelamatkan dirinya dari segala macam ancaman terhadap hidupnya. Demikian juga Rasul Paulus mengalami bahwa Kristus telah mendampingi dan menguatkannya.

Berkat iman, mereka diajak berubah oleh Kristus: dari Simon (“pendengar”) menjadi Petrus (“batu karang”); dari Saulus (“penuh dosa”) menjadi Paulus (“menyapa umat dengan tulus”); dari nelayan menjadi pelayan, dari penjala ikan menjadi penjala manusia, dari hamba menjadi sahabat, dari murid menjadi guru, dari orang yang penakut menjadi pemberani, dari pecundang menjadi pahlawan, dari karyanya hanya di sekitar bangsa Yahudi berubah menjadi karyanya bagi seluruh penjuru dunia.

Di sinilah kita diajak dengan penuh iman menyadari panggilan kita untuk berani terus berbenah, berubah dan bertobat untuk lahir sebagai manusia baru dalam Kristus.

2. Semangat
Petrus dan Paulus mempunyai SEMANGAT mewartakan Injil dan mempertobatkan banyak orang. Mereka banyak berkeliling, menulis surat dan memberikan pelbagai nasehat.
Petrus membuahkan karya penggembalaan: “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian”.
Paulus membuahkan karya pewartaan: “Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku. Ia akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku”

Di sinilah kita diajak memiliki semangat menjadi gembala yang baik hati, yang tidak hanya memberi perintah, tetapi yang banyak menjadi panutan dan memberi teladan; yang tidak hanya suka memberi instruksi, tapi banyak berkomunikasi dan membangun relasi.

Saudaraku, hari ini kita merayakan pesta yang telah dipersembahkan untuk kita oleh darah kemartiran rasul-rasul: Petrus dan Paulus. Walaupun mereka menderita di hari yang berbeda, namun mereka tetap satu. Mari kita mencintai pengakuan iman, kehidupan, pekerjaan, penderitaan, dan khotbah mereka.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Perbuatan dan Ajaran menyesatkan

 

Perbuatan baik tidak selalu diterima dengan baik, adakalanya diterima dengan penuh curiga karena dilandasi oleh ketidak pahaman. Namun jangan lelah untuk berbuat baik sebagaimana setiap orang ingin diperlakukan, karena inilah jalan sempit yang tidak banyak dipilih orang.
(Bdk Mat.7:6.12-14)

Waspadalah terhadap ajaran dan ajakan yang menyesatkan, menjanjikan kenikmatan dan kemuliaan semu. Bagaikan fatamorgana tak bertepi akhirnya mendatangkan penyesalan diri. Dari buahnya diketahui pohonnya !!
(Bdk Mat.7:15-20)

Citra dan cerminan Allah

 

– Citra dan cerminan Allah –

Mengacu pada inti bacaan Injil hari ini, Allah menggenapi rencanaNya dalam hidup manusia. Allah berkuasa dan sanggup melakukan segala sesuatu sesuai dengan segala yang sudah dirancangkan-Nya. Hal-hal yang sebenarnya tidak bisa terjadi akhirnya terjadi juga.
Hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis. Elizabet dan Zakarias, kedua orang tua Yohanes memiliki pergumulan hidup yang luar biasa. Mereka dihina, diolok karena semua pengalaman di dalam keluarga, tetapi mereka tetap berpasrah kepada Allah dan Allah pun memperhatikan iman mereka.
Elisabet, ibu Yohanes dikenal sebagai wanita yang mandul, tetapi Allah telah membuka rahimnya dan memberikan Yohanes sebagai buah rahimnya. Yohanes berarti: ~“Allah telah memberi rahmat”. ~
Adapun keistimewaan dari figur pribadi Yohanes Pembaptis yang penuh kuasa dan wibawa ini, antara lain:

1. Kerendahan hati
“Aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tapi Ia yang akan datang kemudian daripadaku. Membuka kasut dari kaki-Nyapun aku tidak layak”. Hati dan hidup Yohanes Pembaptis sangat sederhana tapi kaya makna, karena ia benar-benar mau miskin di hadapan Allah dan sesama.

Di sinilah Yohanes Pembaptis bisa kita jadikan teladan iman yang penuh KERENDAHAN HATI. Sebab ia sadar bahwa dirinya hanyalah sebagai pembuka jalan bagi Kristus.

2. Keberanian
“Bertobatlah dan luruskan jalan bagi Tuhan, karena Kerajaan Allah sudah dekat.”
Inilah KEBERANIAN Yohanes yang selalu bersikap tegas, jelas, lugas mewartakan kebenaran, dari padang gurun sampai istana Herodes. Ia tidak takut dihukum oleh karena kebenaran yang diwartakannya sebagai seorang nabi dan juru bicara Allah.

Di sinilah kita diajak untuk mempunyai KEBERANIAN menyuarakan suara yang baik bagi Allah dan sesama. Artinya Sabda Allah yang kita dengar hendaknya menjadi bagian di dalam hidup kita dan dengan demikian kita dapat menjadi suara ‘kebenaran’ bagi sesama yang lain, suara yang menghibur dan menyelamatkan! Suara yang membuat banyak orang merasakan kerahiman dan belaskasihan Allah!

Saudaraku, kita sebagai orang-orang beriman, dipanggil untuk menjadi ‘penunjuk jalan’ bagi sesama untuk bertemu dengan Kristus dan membawa banyak orang menjadi sahabat Kristus.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Gereja dan Ekaristi

 

– Gereja dan Ekaristi –

Inilah dua hal yang tidak bisa dipisahkan karena Ekaristi-lah yang menjadi dasar adanya Gereja. Hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus: Ekaristi.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, kita diajak untuk mempunyai sikap berbagi seperti seorang anak yang rela berbagi lima roti dan dua ikannya. Banyak orang tidak bisa makan bukan karena kekurangan makanan, namun karena distribusi makanan yang tidak merata.
Maka, marilah kita membangun semangat untuk berbagi ‘lima roti dan dua ikan’ kepada sebanyak mungkin orang. Sikap rela berbagi ‘berkat’ kepada orang yang ada di sekitar kita, terutama kepada mereka yang sangat membutuhkannya adalah salah satu amanat dari ekaristi.
Adapun empat dimensi hidup yang Ekaristis, antara lain:
1. Dipilih
Kita adalah UMAT PILIHAN Allah lewat satu pembaptisan, rahmat baptisan inilah yang meyakinkan bahwa kita adalah orang yang sudah dipilih menjadi anak Allah.

Di sinilah kita diajak untuk mensyukuri bahwa kita sudah dipilih Allah sebagai anak-anakNya.

2. Diberkati
Setelah kita dipilih sebagai anak-anak Allah, kita juga DIBERKATI. Dan dengan merayakan Ekaristi, kita harus sampai pada penghayatan bahwa hidup kita dipersembahkan kepada Allah untuk diberkati oleh-Nya dan iman kita semakin diteguhkan.

Di sinilah kita diingatkan dua hal penting, yaitu doa dan kehadiran. Doa menjadi jalan bagi kita untuk mendengarkan kata-kata berkat, serta kehadiran adalah perhatian kita kepada berkat yang dicurahkan setiap hari bahkan setiap saat.

3. Dipecah
Tidak mudah bagi kita, setelah dipilih dan diberkati kemudian rela menjadi pribadi yang siap DIPECAH atau dibentuk.

Di sinilah kita diajak untuk keluar dari karakter ego-sentris menjadi Kristus-sentris, kasih kepada Allah sekaligus kepada sesama berpola ‘salib’ – vertikal dan horisontal.

4. Dibagi-bagi
Setiap kali kita mengakhiri Perayaan Ekaristi, setelah menerima berkat Allah, kita semua ‘diutus’. Diutus untuk menjadi pribadi yang mencerahkan dan memerdekakan demi kesejahteraan dan keselamatan sesama.

Di sini kita diajak untuk sepenuh hati solider menjadi ‘roti’ yang siap DIBAGI-BAGI secara sungguh-sungguh kepada sesama.

Saudaraku, dengan pengalaman empat dimensi hidup yang Ekaristis ini, membuat kita semakin meyakini dan menyadari bahwa kita menjadi saluran berkat dan kasih bagi banyak orang. Di sinilah menjadi hal yang sangat membahagiakan bagi kita, ketika kita bisa membuat orang lain bahagia.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Demi semakin besarnya kemuliaan Tuhan

 

– Demi semakin besarnya kemuliaan Tuhan –

Inilah spiritualitas St.Igantius Loyola sekaligus semboyan para Jesuit yang mengajak kita untuk membawa semua doa dan karya kita sebagai persembahan yang hidup kepada Allah, sebagaimana telah dihayati dan diteladani oleh St Aloysius (Luigi) Gonzaga, seorang frater Jesuit yang kita kenangkan hari ini.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengajar para muridNya: “Janganlah kalian mengumpulkan harta di bumi, ngengat dan karat akan merusakkannya dan pencuri akan membongkar serta mencurinya. Kumpulkankanlah harta di surga karena di sana ngengat dan karat tidak akan merusakannya. Pencuri juga tidak akan membongkarnya”.
Karena hati manusia dicipta untuk mereguk kebahagiaan yang sempurna dan abadi, maka dibutuhkan harta yang abadi pula untuk memuaskannya. Harta atau janji-janji kebahagiaan yang bersifat duniawi tidak akan pernah mampu memuaskannya.

Adapun keteladanan hati dan iman St. Aloysius Gonzaga yang dapat kita maknai dalam kehidupan sehari-hari supaya ‘harta’ kita lebih terarah untuk memuliakan Allah, antara lain:

1. Keterbukaan
KETERBUKAAN HATI Aloysius Gonzaga dalam menjalin komunikasi yang intensif dengan Yang Ilahi, nampak dalam upayanya menjalin komunikasi insani dengan sesamanya, terlebih yang kecil dan tersingkir, hatinya lepas bebas.
Ia tidak lekat-pekat pada kemapanan dan kekayaan dunia, sebab ia sendiri mempunyai empat devosi khusus:
¤ Devosi kpd Sakramen Mahakudus
¤ Devosi kpd Sengsara Kristus
¤ Devosi kpd para Malaikat
¤ Devosi kpd Bunda Maria.

Di sinilah kita diajak untuk membina ‘keterbukaan mata hati’ kita agar menjadi pelita tubuh yang terang bersama para kudus, sehingga hidup kitapun menjadi terang bagi sesama.

2. Ketulusan
KETULUSAN HATI dan afektif Aloysius Gonzaga yakni perasaan yang suci dan murni inilah yang mendasari sikapnya berbelarasa terhadap sesama. Ia berbuat baik bukan untuk dipuji-puji, tapi memang karena ketulusan hati dan afektifnya.

Di sinilah kita diajarkan semangat kesadaran diri dan kerendahan hati Aloysius Gonzaga yang terus terolah, karena semangat inilah yang mendasari sikap ketulusan hati dan afektifnya.

3. Kepedulian
KEPEDULIAN Aloysius Gonzaga sebagai putra tertua seorang bangsawan, nampak ketika terjadi wabah pes dan kelaparan di Italia pada tahun 1591, ia mengumpulkan dana dengan “mengemis” di daerah-daerah yang terkena wabah, bahkan dengan bekerja langsung, ia merawat orang-orang sakit, mengangkut orang-orang yang hampir mati di jalan raya, membawa mereka ke rumah sakit, memandikan mereka dan memberi mereka makan serta mempersiapkan mereka untuk menerima sakramen-sakramen.

Di sinilah kita diajarkan bagaimana melakukan hal-hal kecil dan sederhana secara nyata sebagai wujud kepedulian kita terhadap sesama demi kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa.

4. Kesetiaan
KESETIAAN dan pengorbanan Aloysius Gonzaga sepanjang hidupnya, yakni meninggalkan ‘harta’, keluarga, kekayaan dan kebangsawanannya demi kemuliaan Allah, seringkali dilukiskan dengan gambaran seorang laki-laki muda yang mengenakan jubah hitam dengan superpli putih dan memegang salib.

Di sinilah kita diajarkan bahwa Aloysius Gonzaga tidak mencari harta dunia, tapi sungguh berjuang untuk mencari dan menemukan harta surgawi. Matanya terang mencari keabadian dan hidupnya penuh dengan perkara-perkara ‘yang diatas’, bukan seperti yang sering kita jumpai ketika orang licik dan penuh intrik berebut harta, tahta dan kuasa.

Saudaraku, sesungguhnya dalam kehidupan manusia ada banyak tempat dimana Allah hadir dan mengubah hidup. Perubahan hidup manusia menuju keadaan yang lebih baik adalah 100% rahmat Allah dan 100% usaha manusia. Keberhasilan yang dicapai manusia hendaknya disadari ‘Demi Semakin Bertambah Besarnya Kemuliaan Allah’

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Berdoalah

 

– Berdoalah –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus berpesan: “Bila kalian berdoa janganlah bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah.” Maksud Yesus agar kita berdoa secara dewasa, tidak kekanak-kanakan, yakni berlarut-larut/ngelantur dengan banyak kata, karena sebenarnya dalam berdoa lebih baik kita mempunyai hati tanpa banyak kata, daripada mempunyai banyak kata tanpa hati.
Adapun tiga sikap dasar yang diajarkan Kristus dalam berdoa, antara lain:

1. Sederhana
Allah mencintai KESEDERHANAAN, karena doa pada intinya adalah sebuah relasi dan komunikasi sederhana antara yang insani dengan yang ilahi, tidak selalu berbentuk permohonan tapi juga bisa rasa syukur yang justru tidak membutuhkan banyak untaian kata, tapi hanya duduk dan diam bersamaNya.

Di sinilah kita diajarkan doa yang berkarakter sederhana untuk memahami tujuan doa yang sesungguhnya. Kita dibawa ke dalam relasi yang akrab, hangat dan bersahabat sehingga: ‘Allah yang jauh menjadi Allah yang dekat’, bahkan yang bisa kita sapa sebagai Bapa.

2. Setia
Doa seharusnya bermuara ke dalam hidup kita dan diwujudkan dalam hidup bersama orang lain. Doa-doa kita akan menjadi lebih penuh dan kaya makna, jika diangkat dari pengalaman hidup nyata.

Di sinilah kita diajak selalu mengingat Allah dalam hidup nyata kita setiap saat, entah kita sedang bersuka atau berduka, sehat atau sakit, bahagia atau kecewa; karena Allah kita adalah Allah yang SETIA mendengarkan setiap keluh kesah doa dan hidup kita yang nyata.

3. Sepenuh hati
Doa yang SEPENUH HATI itu ‘berpola salib’, artinya tidak hanya ‘aku dan Allah’ (vertikal), tetapi juga ‘aku dan sesama’ (horisontal) juga. Maka doa yang baik membuat kita dekat dengan Allah dan sekaligus dekat dan hidup lebih baik dengan sesama.

Di sinilah kita diajak berdoa dengan sepenuh hati, bukan dengan banyaknya kata tapi dengan mendalamnya cinta yang kita berikan padaNya.

Saudaraku, betapapun indahnya suatu doa yang tidak boleh terlupakan adalah bagaimana kita meresapkannya, sehingga kata-kata yang diucapkan dalam doa bukan hanya sekedar hafalan, tetapi sungguh-sungguh keluar dari hati dan menjadi milik kita sendiri.
Marilah kita selalu berdoa dengan sederhana, setia dan sepenuh hati.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Bebaskanlah kami dari yang jahat

 

– Bebaskanlah kami dari yang jahat –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengajak kita menjadi pembawa damai bukan kebencian, pembawa kebaikan ~ bonum ~, bukan kejahatan ~ malum ~, pembawa ketulusan dan bukan kepalsuan kepada semua orang.
Adapun tiga usaha nyata untuk membebaskan kita dari pelbagai kejahatan, antara lain:

1. Mensyukuri
Di tengah dunia yang kerap penuh pelbagai aneka-ria kejahatan, kita diajak untuk selalu memperjuangkan kebaikan dengan doa ucapan syukur dan karya nyata setiap harinya kepada semua orang dengan penuh sukacita dan kasih tanpa pilih kasih.

Di sinilah kita diajak untuk selalu MENSYUKURI hidup ini karena akan membuat kita menjadi orang yang selalu bersukacita, entah pada saat kecewa atau bahagia.

2. Memahami
Di tengah budaya orang yang mudah marah dan kasar, kita diajak untuk terus memahami dengan upaya menjadi sabar dalam pikiran dan terlebih dalam tindakan, tidak cepat-cepat mengambil keputusan dan gegabah mengambil kesimpulan.

Di sinilah kita diajarkan bahwa sabar MEMAHAMI itu sebuah keutamaan yang patut diperjuangkan, karena memahami dengan sabar terhadap diri sendiri berarti kita punya harapan, memahami dengan sabar terhadap sesama berarti kita punya kasih dan memahami dengan sabar terhadap Allah berarti kita punya iman.

3. Mengampuni
Tidak ada orang yang sempurna, setiap orang punya rasa, pandangan dan prinsip yang kadang berseberangan sehingga menimbulkan konflik, yang menyebabkan timbul aneka permusuhan dalam pelbagai skala: “Nyawa ganti nyawa-mata ganti mata” lex talionis ~ hukum pembalasan setimpal ~. Namun, Kristus mengajak kita menjadi pembawa damai, dengan jalan pengampunan karena tidak ada masa depan tanpa pengampunan.

Di sinilah kita semakin diyakinkan bahwa yang pasti: Bersalah itu manusiawi, mengampuni itu ilahi, maka kita perlu belajar untuk selalu mempunyai kasih ilahi walau kadang ‘sakit’ dan ‘terluka’.

Saudaraku, mensyukuri hidup ini, memahami dengan sabar terhadap sesama dan mengampuni setiap orang yang bersalah, merupakan semangat berbagi dan menyalurkan berkat bagi sesama: “Donato ergo sum” ~ Aku berbagi ~ maka aku ada.
Kita bukanlah hidup untuk ‘menumpuk’, tapi lebih untuk ‘menyalurkan’, karena kita bukanlah ‘waduk’ tapi ‘saluran’ berkat untuk semua orang, sehingga kejahatan dan orang-orang jahat itu juga menjauh dari hidup kita sehari-hari.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Tegas dalam prinsip lembut dalam cara

 

– Tegas dalam prinsip lembut dalam cara –

Inilah salah satu pepatah latin yang mengajak kita menjadi orang beriman yang seimbang dan bersikap bijaksana karena memiliki ‘kualitas hati’.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengingatkan dan meneguhkan kita untuk memiliki ‘kualitas hati’ agar kita berani memperjuangkan sebuah kebenaran, kejujuran dan ke-konsisten-an. Karena semua itu akan menumbuhkan kebahagiaan dan penghargaan kita terhadap diri sendiri.
Adapun tiga sikap dasar yang menandai seseorang memiliki ‘kualitas hati’, antara lain:

1. Berkata benar
Yesus bersabda: “Jika ya, hendaklah kalian katakan: ya; jika tidak, hendaklah kalian katakan: tidak.”

Di sinilah kita harus MENGATAKAN KEBENARAN dalam kata-kata dan menjauhkan diri dari lidah bercabang, kepura-puraan, penipuan, dan kemunafikan, meski itu tidaklah mudah.

2. Bersikap jujur
Yesus menghendaki kita menjadi orang yang berani berterus-terang, jujur apa adanya dan berani memikul tanggung jawab atau pun risiko yang ada.

Di sinilah kita diajak menyadari bahwa untuk BERSIKAP JUJUR dibutuhkan perjuangan hidup yang sepenuh hati dan tidak setengah hati.

3. Bertindak bijaksana
Yesus menekankan integritas di tengah aktualitas, artinya kita diminta untuk bertindak bijaksana, dewasa dan berani mengakui apa adanya dari pikiran dan perilaku yang kita perbuat.

Di sinilah kita belajar untuk tidak dikuasai oleh kebohongan, kepalsuan dan segala ketidak-jujuran. Dengan bertindak bijaksana, hidup kita akan lebih bernilai daripada hidup yang dihiasi dengan kepalsuan atau kepura-puraan.

Saudaraku, jaman sekarang ini kejujuran tergerus oleh keserakahan dan kenikmatan duniawi, sehingga seringkali kejujuran dikalahkan oleh konspirasi jahat dari orang-orang yang tidak jujur dimana yang benar menjadi salah, sebaliknya yang salah menjadi benar.
Padahal Kristus mengajarkan: “Jika ya katakan ya dan jika tidak, katakan tidak.”
Tetapi sekarang ini justru makin canggih orang merekayasa suatu ketidak-benaran agar menghasilkan keuntungan bagi dirinya.
Marilah kita mawas diri terhadap gejala wabah ketidak-jujuran yang semakin menggurita, sebab kita yang mengaku percaya kepada Kristus telah menjadi manusia baru oleh darahNya yang berkorban untuk menghapus dosa-dosa kita.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Manusia adalah serigala bagi sesamanya

 

– Manusia adalah serigala bagi sesamanya –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengajak kita untuk bersikap jujur melihat dan menelanjangi seperti apa ‘kualitas iman’ kita sebagai orang beragama selama ini, jangan-jangan agama hanya menjadi kosmetik belaka, karena kita sibuk dengan tampilan lahiriah dan permukaan saja.
Adapun tiga syarat mendasar yang diajukan Kristus supaya kita memiliki ‘kualitas iman’ agar mampu menyadari penyelenggaraan ilahi, antara lain:

1. Keutuhan ~ Integritas
Yesus berkata: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga!”
Ahli Taurat dan orang-orang Farisi ~ yang terkenal sebagai orang yang taat dan tertib dalam hukum Taurat ~, cenderung merasa diri paling benar dan paling suci sehingga mudah merendahkan dan memandang buruk orang lain, bahkan selalu mencari-cari kesalahan orang lain.

Di sinilah kita diajak untuk beriman secara PENUH UTUH dan menyeluruh, menyeimbangkan hidup doa dan karya secara integral, dimana hidup doa menjadi dasar dalam semua hidup karya, dan hidup karya menjadi buah-buah nyata dari hidup doa.

2. Kesucian ~ Sanctitas
Yesus yang mengajak kita untuk selalu HIDUP SUCI dan berdamai dengan sesama sebelum berdoa kepada Allah.

Di sinilah kita dipanggil untuk hidup suci dengan melakukan pertobatan secara radikal agar hidup kita sungguh berkualitas. Karena bisa saja kita hanya sibuk berkata-kata baik tapi lupa untuk menjadi orang yang benar-benar baik.
Kualitas hidup kita hanya sebatas pada perkataan, tapi tidak nyata menjadi garam dan terang bagi orang lain dalam hidup sehari-hari.

3. Kebenaran ~ Veritas
KEBENARAN yang dipraktekkan ahli Taurat dan orang Farisi hanya bersifat lahiriah dengan mentaati banyak aturan, tapi tidak punya kasih yang berpola salib ~ vertikal kepada Allah dan hortisontal pada sesama ~.
Mereka tampaknya memuliakan Allah dengan bibir, sedangkan hati mereka jauh daripadaNya; dari luar tampaknya benar, tetapi hatinya sama sekali tidak mengasihi Allah.
Motivasi mereka untuk menaati Allah tidak bersumber dari iman yang ‘asli’ yang hidup dan tulus, tapi iman yang ‘palsu’ yang mati dan penuh akal bulus.

Di sinilah kita diajarkan bahwa kebenaran yang dikehendakiNya adalah kebenaran yang bukan sekedar tindakan lahiriah atau formalitas belaka, tapi kebenaran yang harus selaras dengan hidup yang berkualitas, dimana doa-ucapan dan karya-nyata kita didasari oleh keutuhan iman, harapan dan kasih terhadap sesama.

Saudaraku, kita semua diajak untuk menghidupi hukum, dimana harapan keselamatan itu terpadu antara iman dan perbuatan kasih kepada sesama; dan dimana perbuatan kasih itu menjadi wujud syukur dan kesaksian sebagai orang beriman.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang berupaya memiliki kualitas iman yang sejati. Amin.

Anak Penghiburan

 

– Anak Penghiburan –

Inilah nama salah satu rasul yang kita kenangkan hari ini, Barnabas tidak termasuk dalam bilangan kedua belas rasul tapi dia adalah seorang rasul besar yang selalu menjadi “anak penghiburan dan pengobar semangat”

Mengacu pada kisah Injil hari ini, kita bisa melihat ciri-ciri “anak penghiburan” yakni ketika Kristus meminta kepada para murid-Nya untuk ‘pergi’ dan berbuat baik, tulus, tanpa pamrih dan selalu mengandalkan Dia sebab ‘ketotalan’ pada Kristus akan meringankan dan membahagiakanmereka.
Adapun tiga ciri dasar ‘ketotalan’ yang nampak pada Barnabas, yang dapat kita maknai antara lain:

1. Bersahabat
Barnabas BERSAHABAT dengan Paulus yang awalnya di-“takuti” karena pernah membunuh para murid Yesus, dia terbuka dan mengajak Paulus ikut menjadi pewarta Injil.
Barnabas BERSAHABAT dengan Markus yang pernah “gagal”, namun dia tetap merangkul dan mengajaknya bekerja-sama dalam pelbagai misi.
Barnabas BERSAHABAT juga dengan para jemaat di Antiokhia dan di situlah murid-murid Kristus untuk pertama kalinya disebut Kristen.

Di sinilah kita diajak untuk tetap belajar bersahabat dengan setiap orang dengan hati yang tulus.

2. Bersemangat
Barnabas BERSEMANGAT memberikan semua harta dari hasil ladangnya untuk Umat Beriman dan para rasul. Karena dia dipenuhi dengan api Roh Kudus, hati dan hidupnya tulus dan lurus.

Di sinilah kita diajak untuk belajar semangat iman Barnabas yang mewarnai pertumbuhan hidup iman jemaat.

3. Terlibat
Barnabas menjadi rasul yang TERLIBAT aktif dan produktif dalam suka dan duka jemaat. Ia menjadi contoh kekudusan bagi kita bagaimana dia yang memang sudah hidup mapan, malahan mempersembahkan dirinya hanya untuk Kristus yang menarik perhatiannya.

Di sinilah kita diajak untuk belajar dari kekudusan dan sikap keterlibatan Barnabas, dia tidak angkat tangan tapi selalu mau turun tangan demi kemuliaan ilahi dan kebaikan insani.

Saudaraku, Umat Beriman dan komunitas manapun selalu membutuhkan orang-orang seperti Barnabas ini, yang selalu mengupayakan perdamaian, keutuhan, kesatuan dan tahu menilai kemampuan dan kualitas diri orang.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang berupaya mewujudkan perdamaian. Amin.

Datanglah Ya Roh Pencipta

 

-Datanglah Ya Roh Pencipta-

Roh Kudus adalah hadiah untuk kita pada Hari Raya Pentakosta. Pentakosta adalah Hari Raya turunnya Roh Kudus atas para rasul di Yerusalem pada hari kelima puluh sesudah kebangkitan Kristus.

Mengacu pada bacaan Injil pada Hari Raya Pentakosta ini, Kristus berkata kepada para muridNya, bahwa Bapa akan mengutus Roh Kudus, yang bukan hanya akan menyertai mereka untuk menguatkannya, tetapi juga mengajarkan dan mengingatkan segala apa yang telah diajarkan-Nya.
Adapun empat sikap dasar yang dianugerahkan Roh Kudus, antara lain:

1. Bersyukur
Kharisma diberikan sebagai anugerah khusus untuk menjalankan suatu tugas dengan baik di dalam komunitas Umat Beriman.
Rasul Paulus menyebut beberapa kharisma, antara lain: karunia melayani, mengajar, memberi nasehat, membagikan derma, bahasa roh, penyembuhan.

Di sinilah, Roh Kudus mengajak kita BERSYUKUR, karena Allah telah mencurahkan Roh Kudus dan senantiasa menyertai kita.

2. Berbagi
Kita diberikan hidup dan kuasa karya Roh Kudus, di mana Kristus dalam RohNya itu meraja di dalam hidup kita. Roh Kudus pula yang memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran, yaitu mengajarkan kita bagaimana seharusnya kita hidup dan melaksanakan kehendak Bapa di surga.

Di sinilah Roh Kudus mengajak kita untuk mau BERBAGI rahmat dan karunia yang telah kita terima dari Allah.

3. Bersabar
Kita diberikan kemampuan mengatasi segala problematika hidup ketika sakit-sehat, untung-malang, gagal-berhasil, dan lain-lain, berkat tuntunan Roh Kudus.

Di sinilah Roh Kudus mengajak kita untuk BERSABAR dalam segala pergulatan dan permasalahan kehidupan sehari-hari.

4. Beriman
Kita diberikan ketekunan, sehati dalam doa bersama Bunda Maria menantikan turunnya Roh Kudus seperti yang dijanjikanNya, sesudah la naik ke surga. Ketika tiba hari Pentakosta itu, turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah di mana mereka duduk. Lalu tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing, maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus.

Di sinilah kita diharapkan dengan sapta karunia Roh Kudus kita semakin BERIMAN di tengah tantangan zaman dan kehidupan sehari-hari.

Saudaraku, semoga dengan merayakan Hari Raya Pentakosta ini, kita semakin dipenuhi oleh Roh Allah yang Mahakudus, sehingga kita senantiasa dimampukan untuk -bersyukur-berbagi-bersabar-beriman- dalam suka duka perjuangan hidup kita masing-masing.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga dengan Roh KudusNya. Amin.

Ukuran Cermin

 

Ketika kita hendak bepergian kemana pun, hal yang paling wajar kita lakukan adalah mencari sebuah cermin untuk melihat penampilan kita. Cermin adalah alat yang paling jujur untuk memperlihatkan kepada kita yaitu diri kita yang sesungguhnya. Segala hal yang jelek seperti jerawat, kotoran mata, riasan yang berantakan ataupun keriput di wajah dapat ditunjukkan oleh cermin dengan apa adanya/jujur.

 Jadi cermin sangatlah membantu kita untuk melihat kekurangan dan memperbaikinya agar penampilan kita menjadi lebih baik, rapi, bersih dan menarik. Namun kita tidak hanya bercermin secara fisik, kita juga harus sering bercermin terhadap kepribadian kita. Bagaiman kita bersikap kepada orang lain?

 Sikap orang Farisi dan ahli Taurat paling getol menghakimi orang lain, karena mereka merasa dirinya paling benar dan paling suci. Pada zamannya, apa saja yang Yesus perbuat, selalu saja dihakimi, dicela, dikritik, dianggap tidak benar oleh ahli Taurat dan orang Farisi.

 Tak heran, Yesus menghardik mereka karena kemunafikkan sikap mereka yang bertindak sebagaai hakim, sedangkan perbuatan mereka sangat jahat dan selalu menekan orng lain.

Oleh sebab itu dalam Injil Matius 7 : 4-5 Yesus mengatakan : “ Bagaimana engkau dapat berkata kepada saudaramu : biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu,

padahal ada balok di matamu. Hai orang munafik keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu”.

Pertanyannya adalah mengapa orang cenderung menghakimi orang lain daripada menghakimi diri sendiri?

Bila kita telusuri lebih jauh sesungguhnya menghakimi orang lain adalah suatu penyakit rohani. Adapun penyebabnya adalah :

1.  Kesombongan diri. Menglaim dirinya yang paling hebat, paling kaya, paling benar,

   paling suci sehingga memandang rendah orang lain.

2.  Menutupi kelemahan diri sendiri. Yesus sanggup melakukan perbuatan mukjizat

   sedangkan orang Farisi dan ahli Taurat tidak mampu melakukan mukjizat, bahkan

   mereka tidak mampu mendalami makna pengajaran hukum Taurat. Sehingga para ahli

   Taurat dan orang Farisi sangat menekan Yesus terus menerus, karena malu pada

   kelemahn dirinnya.

3.  Iri hati. Dimana ada iri hati, di situ pasti timbul penghakiman. Iri hati sering terjadi

   pada orang sombong dan orang munafik u tuk menutupi kelemahannya dan

   kekurangannya.

Kita sering kali sulit melihat kesalahan diri sendiri, tapi dengan mudahnya melihat kesalahan orang lain dari kecil sampai yang paling besar. Dengan demikian kita memiliki dua tongkat pengukur yang berbeda yaitu satu untuk diri sendiri dan satu untuk orang lain.

Dalam hotbah di bukit Yesus bersabda : “Janganlah kamu menghakimi orang lain, supaya kalian sendiri juga tidak dihakimi oleh Allah!. Sebab sebagaimana kalian menghakimi orang lain, begitu juga Allah akan menghakimi kalian. Dan ukuran yang kalian pakai untuk orang lain, akan dipakai juga oleh Allah untuk kalian”. (Matius 7:1-2).

Penghakiman adalah hanya milik Tuhan. Bagian kita semua adalah berjaga-jaga, hidup benar dan selalu introspeksi diri, bercermin diri. (By Sie. Komsos)

DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT

 

Seekor laba-laba berbisa berani bertarung dengan seekor ular berukuran besar black mamba yaitu salah satu ular yang sangat berbisa di Afrika. Ular ini pun pada akhirnya mati, kalah dalam pertarungan melawan laba-laba tsb.     

Racun yang sangat mematikan yang menjadi andalan sang ular tidak dapat melindungi dirinya, karena ternyata racun laba-lba tsb dapat lebih mematikan. Bukan hewan yang setara atau lebih besar dari tubuhnya yang membuat hidupnya berakhir, tetapi malah hewan yang lebih kecil yang mungkin saja ia sepelekan. Pepatah lama yang mengatakan : “Di atas langit masih ada langit” adalah kalimat yang lebih tepat diberikan kepada ular.

Seorang Goliat juga memiliki racun yang mematikan, yaitu keahliannya dalam berperang menggunakan senjata yang membuat orang-orang takut dan gemetar, bahkan juga ketika hanya mendengar suaranya. Namun hidup Goliat berakhir di tangan seorang remaja yang tidak seimbang dengannya, yaitu Daud. Ternyata si kecil Daud memiliki racun yang lebih mematikan yaitu pertolongan Tuhan dan keahliannya menggunakan ketapel.

Sebesar apapun kekuasan yang kita miliki saat ini tak menjamin bahwa kitalah yang terhebat. Setinggi apapun ilmu yang kita miliki tak menjamin bahwa kitalah yang terpintar. Albert Einstein dahulu dinyatakan sebagai seorang yang memiliki IQ tertinggi, namun kini ada orang lain melebihinhya. Begitu pula sekaya apa pun kita dengan berkelimpahan uang dan harta tidak menjamin bahwa kitalah yang terkaya didunia ini. Di atas langit masih ada langit.

Dalam bacaan 1 Samuel 17 : 45 tertulis “Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu : Engkau mendatangi aku dangan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu”.

Peribahasa “Di atas langit masih ada langit” artinya ketika kita merasa paling hebat, paling kaya, paling berkuasa, paling baik, paling suci dst di dunia ini, jangan lupa masih ada yang Mahahebat, Mahakaya, Mahakuasa, Mahabaik, Mahasuci dsb. Yaitu Tuhan.

 Kelebihan apapun yang kita miliki baik berupa kekayaan, kepandaian, pengetahuan, prestasi, kedudukan, jabatan dsb tidaklah patut untuk dibanggakan apalagi disombongkan kepda orang lain, terlebih kepada Tuhan.

 Saat Tuhan menciptakan rasa iri itu bukan berarti untuk menjadikan manusia menjadi pendengki, tetapi untuk melatih kebesaran hati. Saat Tuhan menciptakan rasa sombong itu bukanlah untuk menjadikan manusia sombong, tetapi agar manusia mengerti sikap rendah hati. Ibarat padi makin berisi makin tunduk.

Kesombongan itu berbahaya. Allah menentang orang yang sombong, tetapi mengasihi orang yang rendah hati. Kerena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya (1 Petrus 5 : 5-6).

 Kesombongan dapat menjauhkan manusia dengan Allah dan sesama/orang lain. Kaesombongan adalah salah satu dosa yang memiliki akibat yang sangat menghancurkan. Alla mebensci kesombongan. Kesombongn berad pada urutan teratas dalam daftr dosa (Amsal 6 : 16-17) (amsal 8 : 13).

 Salah ciri- ciri orang yang sombong anata lain :

1.  Tidak pernah mengakui kesalahannya dan kegagalannya. Orang sombong akan terus memaksa maju, mencari kepuasan diri sendiri dengan membabi buta.

2.  Orang sombong merasa yakin bahwa dalam konflik apapun ia merasa paling benar dan orang lain salah.

3.  Orang sombong yakin bahwa ia memiliki semua keahlian yang diperlukaan untuk menangani masalah apapun yang muncul.

Kesimpulan:

Kesombongan/keangkuhan/kecongkakan adalah awal dari segala dosa, semua dosa secara alami timbul dari kesombongan. Santo Aquinas menyatakan bahwa meninggalkan Tuhan adalah bagian pertama atau berawal dari kesombongan. Di atas langit masih ada langit. (By Sie. Komsos)