Doa

 

– Doa –

Doa adalah sarana membina hubungan yang akrab dan intim dengan Allah.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengajarkan ‘kuasa doa’ yang didasari iman.
Adapun dua sikap dasar seorang beriman dalam membina hidup doa, antara lain:

1. Tekun
Berdoa dengan TEKUN, pagi, siang dan malam, diyakini tak akan pernah sia-sia, Allah pasti menolong pada saatNya dan memberkati seturut janji-janjiNya.

Di sinilah kita diajak untuk bersabar, hindarilah menempuh jalan ‘pintas’ yang justru akan membinasakan dan menyesatkan diri kita sendiri.

2. Tak jemu-jemu
Berdoa TAK JEMU-JEMU adalah doa yang disertai iman dan dipanjatkan terus menerus.

Di sinilah kita diajak percaya dan bergantung, serta mau mengandalkan Allah, itu bisa terlihat dari ketekunan dan kesetiaan kita dalam berdoa.

Saudaraku, doa sejatinya adalah tindakan iman, maka percayalah bahwa pada saatnya Allah pasti bertindak, karenanya tetaplah bertekun dan jangan pernah jemu untuk berdoa.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria selalu menyertai kita sekeluarga yang tekun dan tak pernah jemu untuk berdoa. Amin.

Guru kehidupan

 

– Guru kehidupan –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengecam kaum Farisi dan para ahli Taurat karena menyesatkan banyak orang dan menutup pintu keselamatan bagi orang lain.
Adapun tiga langkah agar kita dapat menjadi ‘guru kehidupan’, antara lain:

1. MengenaliNya
Kita dapat MENGENALI kehadiran ALLAH melalui berkat-berkatNya setiap hari dan pegalaman ‘perjumpaan’ secara pribadi.

Di sinilah kita diajak untuk semakin peka dan semakin tulus baik dalam perjumpaan ilahi dengan Allah dalam doa, maupun perjumpaan insani dengan sesama.

2. MengasihiNya
Kita dapat MENGASIHI ALLAH melalui hidup doa, kata-kata dan tindakan nyata dengan penuh cinta setiap hari.

Di sinilah kita diajak terus menerus mempersembahkan kepada Allah, apa yang kita pikirkan, lakukan dan alami, semata-mata demi keluhuranNya.

3. MengimaniNya
Kita dapat MENGIMANI ALLAH secara tulus sebagai orang beriman dengan mendengarkan sabdaNya dan tekun melaksanakannya dalam hidup.

Di sinilah kita diajak untuk semakin memaknai semua pengalaman dan pemahaman dengan kaca mata iman.

Saudaraku, kita semua dipanggil untuk ikut serta berpartisipasi di dalam kehidupan ilahi Kristus. Barangsiapa percaya kepada Kristus sebagai Guru kehidupan, maka akan memperoleh hidup kekal karena hanya di dalam Kristus ada penebusan berlimpah-limpah.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria yang selalu menyertai kita sekeluarga untuk menjadi utusanNya. Amin.

Kasih Kristuslah yang mendorong kami

 

– Kasih Kristuslah yang mendorong kami –

Inilah ajakan untuk lebih memiliki ‘kasih sejati’, bukan apa yang sekedar nampak di permukaan tapi apa yang ada di kedalaman.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengajak kita mempunyai hati yang murni dan budi yang jernih sebagai sumber bagi perkataan dan tindakan yang baik, bersih lahir-batin, yang lebih memperhatikan esensi ‘kasih sejati’ daripada sekedar eksebisi.
Adapun tiga hal yang kita butuhkan agar memiliki kasih sejati, antara lain:

1. Kejujuran
JUJUR, baik terhadap Allah, maupun terhadap sesama dan diri sendiri.

Di sinilah kita diajak hidup dengan hati tulus-iklas, lurus hati (terbuka) dan apa adanya.

2. Kesucian
SUCI, baik hati maupun jiwa seutuh-utuhnya sungguh bersih dan jernih.

Di sinilah kita diharapkan memiliki pola pikir, hidup, serta tindakan yang bersih dan jernih sebagai ‘sumber’ mengalir setiap perkataan dan perbuatan baik.

3. Kebebasan
BEBAS merdeka dari aneka macam bentuk kejahatan dalam mewujudkan kasih terhadap Allah dan sesama.

Di sinilah kita diharapkan sebagai orang beriman berbahagia selalu hidup bersama dan bersatu dengan Allah, kapanpun dan dimanapun.

Saudaraku, marilah kita hidup jujur, suci dan bebas berbuat baik kepada sesama dan lingkungan lewat doa, ucapan dan karya nyata, karena kita mendasarkan ‘kasih sejati’ pada hati nurani yang tulus dan tidak berhenti hanya pada akal bulus.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria selalu menyertai kita sekeluarga yang ingin menyenangkan hati Allah. Amin.

Syukur kepada Allah

 

~ Syukur kepada Allah ~

Inilah ungkapan rasa umat beriman yang telah mengalami kasih Allah yang menyelamatkan.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus telah menyembuhkan sepuluh orang kusta. Namun hanya satu yang kembali untuk berterima kasih dan bersyukur kepada Kristus.
Adapun tiga ungkapan rasa yang kita maknai dari kisah ini, antara lain:

1. Rasa Syukur
Ungkapan RASA SYUKUR atas belas-kasih Allah lewat pujian dan doa, ini lahir berkat adanya relasi personal.

Di sinilah kita diajak terus membina relasi dengan Bapa dan kita sebagai anak yang bergantung dan bersandar padaNya.

2. Rasa Hormat
Ungkapan RASA HORMAT atas segala kedaulatan, kebesaran dan kemuliaan Allah.

Di sinilah kita diajak menjadi orang yang semakin ‘percaya’, bahwa Dialah Allah yang dapat melakukan apapun.

3. Rasa Terimakasih
Ungkapan RASA TERIMA KASIH dengan setulus hati atas kerahiman Allah.

Di sinilah kita diajak menjadi orang yang selalu memiliki hati tulus dalam memuji dan memuliakan Allah.

Saudaraku, marilah kita senantiasa ‘belajar’ bersyukur, hormat, dan terima-kasih atas apapun yang ada dalam hidup kita, agar hati kita semakin bening dan jernih dihadapan Allah.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria selalu menyertai kita sekeluarga yang tiap hari dengan setulus hati bersyukur dan berterima-kasih atas belaskasih-Nya. Amin.

Allah selalu lebih besar

 

– Allah selalu lebih besar –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mempertunjukkan kuasa Ilahi dengan mengusir, mengalahkan iblis.
Adapun tiga sikap dasar agar kita dapat mengusir dan mengalahkan kuasa iblis, antara lain:

1. Bersatu
BERSATU-ERAT dalam iman dan kasih dengan kuasa Ilahi yang lebih kuasa dari segalanya, sehingga kita mampu bertahan dan tak perlu takut dengan kuasa apapun.

Di sinilah kita diajak membina relasi yang intim secara personal dengan Kristus dan ‘merapatkan barisan’ mulai dari keluarga dan umat beriman, sehingga tidak mudah terpecah tapi benar-benar bersatu dalam iman, harapan dan kasih.

2. Bertobat
BERTOBAT, kembali dekat dan akrab dengan Allah, sehingga tak ada lagi tempat kosong buat roh jahat.

Di sinilah kita diajak mawas diri dan sadar diri untuk menjernihkan hati agar lebih peka pada kehendakNya.

3. Berpihak
BERPIHAK pada Kristus sepenuh hati, dengan sikap tegas tanpa kompromi.

Di sinilah kita diajak menyerahkan diri seutuhnya pada kuasa Ilahi dan Roh Kudus.

Saudaraku, tetaplah bersatu dengan kuasa Ilahi, teruslah bertobat dengan mawas diri dan tegaslah berpihak pada Roh Kudus sepenuhnya.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria selalu menyertai kita sekeluarga yang tekun berjuang tetap tinggal bersama Allah. Amin.

Bergembiralah

 

– Bergembiralah –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengajak ‘bergembira’ seperti ‘Maria dan Marta’ saat Ia berkunjung.
Adapun tiga sikap dasar agar slalu ‘bergembira’ saat Kristus berkunjung, antara lain:

1. Keakraban
KEAKRABAN memperlihatkan adanya relasi yang terus dibina antara doa (Maria) dan karya (Marta), sehingga Allah yang sesungguhnya dekat dapat dirasakan kehadiranNya.

Di sinilah kita diajak terus berusaha mengalami kehadiran Allah, dalam doa dan karya.

2. Keseimbangan
KESEIMBANGAN menunjukkan skala prioritas di tengah rutinitas hidup doa dan karya.

Di sinilah kita diajak terus bertekun bukan melulu “sibuk untuk Tuhan” dengan pelbagai karya seperti Marta, tetapi terutama kita juga diajak “sibuk dengan Tuhan” seperti Maria lewat pelbagai doa dan perjumpaan pribadi dengan Tuhan.

3. Keanekaragaman
KEANEKA-RAGAMAN dalam karisma diharapkan bisa saling melengkapi.

Di sinilah kita diajak bersikap bijak dalam upaya mempersatukan antara doa Maria dengan karya Marta, agar keduanya dilakukan dengan gembira dan saling menyucikan hati kita.

Saudaraku, marilah setiap hari kita berdoa, mohon penyertaan, kekuatan dan hikmat Allah; dan berkarya dengan baik, selesaikan tugas dan tanggung jawab dengan gembira, maka berkat berkelimpahan akan selalu menyertai kita.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria selalu menyertai kita sekeluarga yang ingin gembira dalam doa dan karya. Amin.

Hamba Allah

 

– 6 –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, fokus pengajaran Kristus adalah prinsip hidup pelayanan seorang ‘hamba.’
Adapun prinsip hidup pelayanan seorang ‘hamba’ yang kita maknai, antara lain:

1. Mengasihi
Kristus mengajak para murid untuk saling MENGASIHI, karena Allah juga terlebih dulu sudah mengasihi kita.

Di sinilah kita diajak mewujudkan kasih pada Allah dan sesama dalam karya yang murah hati, ucapan yang memberkati, dan doa yang sepenuh hati.

2. Melayani
Kristus mengajarkan para murid siap untuk MELAYANI, bukan dilayani.

Di sinilah kita diajak siap melayani Allah dan sesama terlebih bagi para ‘korban tersalib’ di tengah dunia yang terluka, dengan tulus tanpa pamrih sebagai hamba yang ‘tidak berguna’, siap melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

3. Mengampuni
Kristus mengajarkan para murid siap untuk selalu MENGAMPUNI sesama.

Di sinilah kita diajarkan semangat berbelas kasih terhadap sesama dengan penuh kerendahan hati.
Bunda Teresa dari Kalkuta pernah memberi nasehat:
“Apabila kebaikanmu diabaikan, apabila orang lain salah paham atau mencurigai dan berpikir buruk tentang perbuatan baikmu, tetaplah berbuat baik….”
Itulah keutamaan kristiani yang membawa kebahagiaan sejati karena kita semua sejatinya adalah ‘hamba’, yang selalu berjuang setiap hari.

Saudaraku, sudah selayaknya kita memiliki prinsip hidup pelayanan seorang ‘hamba’ yang mengasihi, melayani dan mengampuni, karena sesungguhnya kita ini berhutang kebaikan kepada Allah atas semua berkatNya setiap hari.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria selalu menyertai kita sekeluarga sebagai hamba Allah yang siap melayani dengan taat-setia dan rendah hati. Amin.

Aku mengutus kamu

 

– Aku mengutus kamu –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus menegaskan seorang ‘utusan’ = ‘mitra karya’ membutuhkan kesiapan, komitmen, kepasrahan, kesungguhan hati mencintaiNya lebih dari segala keterikatan duniawi.
Adapun tiga sikap dasar sebagai ‘utusan’ yang sampai saat ini masih dibutuhkan dalam kehidupan Umat beriman, antara lain:

1. Berbagi
Semangat BERBAGI kehangatan dan kasih terhadap sesama.

Di sinilah kita diajak mewujudkan ‘kebajikan’: sikap hidup, tingkah laku, dan tutur kata yang baik dimanapun.

2. Berjuang
Semangat BERJUANG membawa pesan damai dan sejahtera bagi sesama.

Di sinilah kita diajak mewartakan Injil yang penuh ‘kedamaian’: sapaan, penyembuhan dan amal kasih.

3. Bersaksi
Semangat BERSAKSI keteladanan iman kepada keluarga dan sesama.

Di sinilah kita diajak menunjukkan ‘model’: ketabahan, keberanian, dan kegigihan sebagai ‘utusan’ di tengah dinamika kehidupan ini.

Saudaraku, marilah kita menjawab panggilan perutusanNya ini dengan berbagi kehangatan dan kasih, serta berjuang demi terciptanya damai sejahtera, serta bersaksi dengan sikap dan keteladanan iman.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria senantiasa menyertai kita sekeluarga dalam mewujudkan panggilan dan perutusan-Nya. Amin.

Kerendahan hati

 

– Kerendahan hati –

Inilah keutamaan dasar yang mengarah pada _ kesempurnaan dan kekudusan.
Pada hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan Pesta Santa Theresia dari Kanak- kanak Yesus. Ia pernah mengatakan bahwa kesediaan kita untuk menerima kesalahan dengan semangat Kristiani, bisa dipastikan kita menjadi ‘rendah hati’.
Kerendahan hati adalah langkah pertama dan langkah seterusnya untuk mencapai kesempurnaan kasih kepada Allah dan sesama.
Bunda Maria adalah contoh yang sempurna tentang kerendahan hati dan kesempurnaan kasih.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengajarkan kerendahan hati lewat teladan sifat-sifat ‘anak kecil’, yang dapat kita teladani, antara lain:

1. Percaya
Ia PERCAYA kepada bapa, apapun situasinya.

Di sinilah kita belajar percaya total
kepada Allah Bapa yang menjaga dan melindungi kita.

2. Patuh
Ia PATUH kepada bapa, apapun yang diajarkan tanpa pernah mendebat.

Di sinilah kita belajar patuh taat pada Sabda Allah, meski terkadang berat untuk dilaksanakan.

3. Pasrah
Ia PASRAH pada bapa, apapun yang diberikan diterima sepenuhnya.

Di sinilah kita belajar pasrah total pada anugerah Allah yang berkuasa mengubah dan membentuk kita seturut kehendakNya.

Saudaraku, semoga St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus menjadi inspirator kita untuk bersikap rendah hati mengikuti jalan kekudusannya setiap hari dengan terus belajar percaya, patuh dan pasrah seperti Bunda Maria.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria selalu menyertai kita sekeluarga yang menjadi lebih rendah hati. Amin.

Iman Sejati

 

– Iman Sejati –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengajarkan bagaimana seharusnya sikap kita terhadap harta duniawi dan Allah.
Adapun ciri-ciri orang yang memiliki ‘iman sejati,’ antara lain:

1. Berbagi
BERBAGI kehidupan dengan iklas dengan membagikan kasih kepada sesama.

Di sinilah kita diajak menyamakan kasih kepada Allah (“Yang Ilahi”) dengan kasih yang dibagikan kepada sesama (“yang insani”).

2. Berharap
BERHARAP pertolongan dengan tulus dan mengandalkan Allah yang menolong derita hati kita.

Di sinilah kita bersama Lazarus yang miskin, diajak terus berharap dan mengandalkan Allah karena Ia tidak pernah membiarkan derita hati terus mendera hidup kita.

3. Berbakti
BERBAKTI hanya bagi kemuliaan Allah, karena kita adalah mahluk rohani dalam perjalanan insani.

Di sinilah kita diajarkan kedalaman hidup iman untuk menghormati dan memuji, serta mengabdi Allah.

Saudaraku, kisah Lazarus miskin dan orang kaya ini mengajak kita memiliki ‘iman sejati’ dengan berbagi, berharap dan berbakti hanya bagi kemuliaan Allah.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus selalu menyertai kita sekeluarga yang terus berupaya memiliki ‘iman sejati’. Amin.

Putera Allah

 

– Putera Allah –
Inilah ‘identitas Yesus’.

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus melarang para muridNya memberitahu identitasNya sebagai “Putera Allah”, kepada siapapun.
Adapun harapan dan makna dari larangan memberitahu identitasNya sebagai “Putera Allah” ini, antara lain:

1. PengenalanNya
Dalam PENGENALAN diriNya, Yesus selalu mengingatkan pentingnya ‘dimensi iman’ yang berpola salib yakni: ‘vertikal-personal’ kepada yang ‘ilahi’, sekaligus ‘horisontal-komunal’ kepada yang ‘insani’.

Di sinilah Yesus berharap, kita sebagai muridNya memiliki relasi personal baik dengan Allah maupun dengan sesama dalam suatu kebersamaan.

2. PengalamanNya
Dalam PENGALAMAN suka-duka dan tawa-tangis bersama para muridNya, Yesus selalu mewujudkan kasihNya.

Di sinilah Yesus berharap kita sebagai muridNya akan mengalami ‘keindahan’ pada saatnya nanti, berkat dari suatu kepercayaan.

3. PenyalibanNya
Dalam PENYALIBANNYA,_ yakni saat kehadiranNya “ditolak, dihina dan disalibkan”, merupakan ‘jalan’ mengenali pribadiNya secara utuh.

Di sinilah Yesus berharap, kita sebagai muridNya menyadari akan kehadiranNya yang meneguhkan di balik setiap ‘salib kehidupan’ yang membimbing kita pada keselamatan.

Saudaraku, marilah kita menghayati ‘makna’ dari kebersamaan, kepercayaan dan keselamatan ini secara mendalam sebagai murid Kristus agar kita kelak dibangkitkan bersama Dia, Putera Allah.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga sebagai muridNya. Amin

Perutusan

 

– Perutusan –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengutus para muridNya mewartakan Injil kerajaan Allah.
Adapun tiga tugas perutusan para murid yang dapat kita maknai, antara lain:

1. Melakukan
Para murid diutus MELAKUKAN pelayanan kepada semua orang seturut kehendakNya.

Di sinilah kita diajarkan kesiap sediaan melayani dengan taat, iklas dan setia sampai akhir.

2. Mewartakan
Para murid diutus MEWARTAKAN Injil Kerajaan Allah sebagai ‘misi utamaNya’, dengan tujuan hanya untuk menyenangkan hati Allah.

Di sinilah kita diajarkan ketulusan dan keiklasan untuk dibimbing oleh kuasa-Nya yang dapat menyembuhkan dan mengusir setan.

3. Mengandalkan
Para murid diutus MENGANDALKAN pada kuasa dan pemeliharaan Allah.

Di sinilah kita diajarkan kepasrahan dengan mengosongkan diri agar tetap ‘fokus’ pada tujuan utama misi perutusanNya.

Saudaraku, sudah selayaknya kita melakukan apa yang menyenangkan hati Allah, yakni: taat setia melayani, tulus iklas mewartakan, dan percaya pasrah mengandalkan kuasaNya agar kita tetap ‘fokus’ pada tujuan utama misi perutusanNya sampai akhir.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga dalam menjalankan tugas perutusanNya sampai akhir. Amin

Biar Terangmu Bersinar

 

– Biar Terangmu Bersinar –

Inilah perutusan menjadi ‘terang’ yang menyinari sekitarnya.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengajarkan perumpamaan tentang ‘cahaya pelita’ yang mengajak kita untuk terus bersaksi dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang menerangi orang sekitarnya.
Adapun dua sikap dasar yang harus dimiliki agar kita dapat menerangi orang sekitar seperti yang dimaksud dalam perumpamaan ‘cahaya pelita’ ini, antara lain:

1. Komitmen
Yesus menghendaki para murid mempunyai KOMITMEN menerima Kristus Sang Terang sebagai ‘Juru Selamat’ dan hidup baru dalam pertobatan, serta siap diutus mewartakan Sang Terang yang telah berkarya dan bercahaya dalam hati, sebagai muridNya.

Di sinilah Yesus menuntut kita memiliki sikap rendahan hati untuk bersaksi tentang Sang Terang pada dunia, meskipun ada banyak rintangan dan tantangan.

2. Konsisten
Yesus menghendaki para murid KONSISTEN memancarkan ‘cahaya’ agar dapat dirasakan dan dialami banyak orang.

Di sinilah Yesus menuntut kita memiliki sikap keterbukaan hati untuk berani secara terus-menerus menjadi berkat, yang memancarkan ‘cahaya’ bagi orang di sekitar, terutama mereka yang berjalan dalam lembah kegelapan dan persoalan yang menekan hidupnya.

Saudaraku, Kristus sangat mengasihi kita dan kita tak pernah dibiarkan sendiri. Roh Kudus akan selalu menyertai dan membantu kita agar tetap bercahaya dan menerangi orang-orang yang membutuhkan, karena untuk itu kita diutus.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menerangi hati kita sekeluarga. Amin.

Ikutilah Aku

 

– Ikutilah Aku –

Inilah inisiatif Kristus yang hadir menyapa hati kita lebih dulu di tengah segala kesibukan dan kerja harian. Sapaan sekaligus ajakan Kristus ini menanti tanggapan positif dari kita untuk mengikuti panggilanNya.

Pada hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan Pesta St. Matius, Rasul. Matius lahir pada abad pertama, ia dikenal sebagai salah seorang pemungut cukai dan merupakan salah satu dari keduabelas orang yang dipanggil Yesus untuk menjadi rasul. Ia juga dikenal dengan nama Lewi, anak Alfeus.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus memilih dan memanggil para muridNya dari orang yang sederhana, karena untuk menjadi suci itu sebenarnya berarti menjadi lebih manusiawi, punya rasa perasaaan insani yang disadari dan disyukuri sebagai ‘anugerah’ dari Allah.
Adapun tiga semangat dasar dalam mengikuti panggilan Kristus yang perlu kita maknai, sadari dan syukuri sebagai anugerah Allah, antara lain:

1. Kebebasan
Hati Yesus BEBAS BERGAUL dan bersahabat dengan setiap orang, karena hatiNya penuh dengan cinta kasih dan keterbukaan. Inilah ‘kebenaran Allah’ yang menjadikan hati kita ‘peka’ mengikuti panggilanNya.

Di sinilah kita diajarkan bahwa antara iman dan akal, hati dan budi, roh jahat dan roh baik, selalu bertanding dan bersanding, sehingga mutlak diperlukan sikap ‘kebebasan hati’ sebagai anak-anak Allah sejati.

2. Kesetaraan
Yesus berkenan untuk menyapa, memanggil dan mengundang makan semua orang di meja perjamuan yang sama dalam suasana kebersamaan dan KESETARAAN.

Di sinilah kita diajarkan untuk menerima semua orang apa adanya, apapun situasi dan keadaannya dengan sikap rendah hati, tidak ada yang merasa lebih tinggi atau rendah.

3. Kebajikan
Yesus melayani semua orang dengan tulus iklas tanpa pamrih dalam tindakan, perkataan dan perbuatan, sehingga mereka merasa berbahagia dan dapat berkembang, baik secara rohani maupun jasmani.

Di sinilah kita diajarkan KEBAJIKAN tanpa perhitungan untung dan ruginya dalam pelayanan yang diberikan.

Saudaraku, Kristus tidak memilih orang yang sempurna tapi orang yang sederhana dan berdosa untuk diselamatkan. Ia menghendaki belas kasihan dan bukan persembahan. Ia tidak memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. Marilah kita hidup sepadan dengan panggilan kita masing-masing.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga dalam mengikuti panggilanNya. Amin.

Kesombongan

 

– Kesombongan –

Inilah ‘akar’ dari segala dosa yang bisa membunuh jiwa.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mengecam kesombongan kaum Farisi dan para ahli Taurat yang menolak tawaran kasih Allah.
Adapun sikap dasar yang kita butuhkan untuk mengatasi kesombongan, antara lain:

1. Keterbukaan hati
KETERBUKAAN HATI menerima kuasa rahmatNya agar kita mampu mendengarkan Sabda Allah dengan iman dan kesiapsediaan mematuhi perintahNya.

Di sinilah kita diajak untuk membuka mata, telinga hati dan mengakui penyelenggaraan ilahi, serta menerima tawaran kasih Allah.

2. Kerendahan hati
KERENDAHAN HATI menghargai dan menerima tawaran-tawaran kebaikan dalam kebersamaan hidup dengan sesama, sehingga hidup kita menjadi berarti bagi sesama.

Di sinilah kita diajak untuk memiliki suatu prinsip hidup bersama, yakni supaya kita sama-sama membangun ‘tubuh mistik’ Kristus. Ini berarti kita harus menyingkirkan segala kepentingan pribadi, demi hidup bersama sebagai keluarga Allah: hidup rukun, damai, saling memaafkan, saling membantu dengan ikatan kasih dan persaudaraan.

Saudaraku, marilah kita terus membuka hati terhadap tawaran kasih Allah agar kita menjadi manusia rendah hati, yang mau mawas diri, menyadari diri dan mau belajar dari orang lain.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang selalu mengusahakan kepentingan bersama. Amin.

Tuhan yang menyelenggarakan

 

– Tuhan yang menyelenggarakan –

Inilah semangat iman kepercayaan yang menjadi dasar dan memacu seseorang untuk berbuat sesuatu yang lebih berguna bagi sesamanya.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mau mengajarkan dasar kesembuhan ilahi melalui ‘iman’ yang dimiliki seorang perwira Romawi.
Ia percaya ‘cukup satu kata dari Yesus dan mujizat kesembuhan-pun terjadi!’ Karenanya, Yesus berkata: “Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun diantara orang Israel!”
Adapun semangat iman perwira Romawi yang patut kita teladani, antara lain:

1. Kepedulian
Perwira ini dengan KEPEDULIANNYA mohon kesembuhan kepada Yesus bagi hambanya yang sakit.

Di sinilah kita diajarkan teladan kebaikan hati tanpa memandang kedudukannya.

2. Kerelaan
Perwira ini membuktikan KERELAAN dengan tindakan nyata.

Di sinilah kita diajarkan teladan kesungguhan hati untuk menolong tanpa pamrih.

3. Kerendahan hati
Perwira ini dengan RENDAH HATI menyadari keberdosaannya di hadapan Yesus.

Di sinilah kita diajarkan teladan ketulusan hati dan ‘merasa tak layak’ menerima Yesus.

4. Kepercayaan
Perwira ini dengan KEPERCAYAAN pada otoritas Yesus atas penyakit, meyakini perintahNya pasti ditaati oleh para malaikat.

Di sinilah kita diajarkan teladan ‘iman’ yang ‘melihat’ Yesus sebagai jenderal besar agung Kerajaan Allah yang berkuasa mutlak atas segala penyakit.

Saudaraku, iman itu harus sepenuh hati tidak bisa hanya setengah-setengah.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang terus berupaya memiliki ‘iman’ kepada Yesus yang menyelamatkan dengan sepenuh hati. Amin.

Dari lubuk hati yang paling dalam

 

– Dari lubuk hati yang paling dalam –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus minta kita tetap bertekun dan sepenuh hati mengikuti ‘jalan’ yang diajarkan Kristus berdasarkan sabdaNya: “Keluarkanlah dulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”
Adapun tiga jalan yang diajarkan Kristus supaya kita menjadi suci dan mendapatkan berkat ilahi, antara lain:

1. Jalan kebaikan
Kerapkali kita cenderung mudah menjadi “hakim” dan seenaknya men-“cap” orang lain dan lupa kalau itu bisa menyakitkan hati orang lain.

Di sinilah kita diajarkan ‘JALAN KEBAIKAN’ agar berpikir baik tentang orang lain dan belajar berhati-hati, tidak cepat menghakimi, tidak selalu menuduh tapi belajar memahami, maka dari lubuk hati kita terdalam akan terpancar aura positif.

2. Jalan pemurnian
Kerapkali kita lupa “bercermin pada tengkuk sendiri” dan cenderung “mencari kutu di kepala orang lain”.

Di sinilah kita diajarkan ‘JALAN PEMURNIAN’ agar kita menjadi pribadi orang beriman yang reflektif, instrospektif dan afektif yang berhati tulus, murni dan asli.

3. Jalan persatuan
Kerapkali kita suka ‘menyakiti’ dan ‘melukai’ hati sesama di tengah pergulatan hidup ini.

Di sinilah kita diajarkan ‘JALAN PERSATUAN’ untuk mempersatukan hidup dan segala pergulatan kita dengan kemurahan hatiNya yang selalu memberkati dengan sikap dan ucapan, tidak mudah menyakiti, selalu mengasihi dengan tindakan nyata dan tidak mudah melukai.

Saudaraku, semoga melalui tiga jalan ini hidup kita semakin ‘damai’ karena berdamai dengan orang lain sesungguhnya bukan saja demi orang itu, tetapi sebaliknya, demi kebaikan diri kita sendiri: supaya kita juga berdamai dengan Allah dan mampu selalu bersyukur.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang terus berjuang dengan rendah hati untuk hidup rukun dan damai. Amin.

Berbahagialah

 

– Berbahagialah –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus hadir sebagai Tuhan yang mempunyai cita rasa pada ‘orang kecil’ yakni Tuhan yang
¤ esa, kuasa, berbelarasa
¤ keberpihakan dan keterlibatan
Adapun kategori ‘orang kecil’ yang diajak berbahagia ini, antara lain:

1. Orang yang miskin
ORANG YANG MISKIN adalah orang yang hidupnya bergantung pada orang lain, karena tidak mampu mencukupi keperluan hidupnya.
Orang yang miskin diartikan juga sebagai orang yang hidupnya bergantung pada Allah, yakni orang yang saleh dan bersahaja, karena mau mendengarkan dan menuruti pengajaran Krisus.

Di sinilah Allah hadir sebagai “Tuhan yang mencintai orang kecil dan sederhana”, karena orang yang hidupnya sederhana menjadikan orang itu lebih mudah terbuka dan selalu mengandalkan penyelenggaraan ilahi, sehingga mereka memiliki kerajaan Allah.

2. Orang yang lapar
ORANG YANG LAPAR adalah orang yang tidak tercukupi kebutuhan makanan, mereka membutuhkan makanan bagi tubuh jasmaninya.
Orang yang lapar berarti juga orang yang lapar akan makanan rohani atau orang yang lapar akan kebenaran Sabda Allah, maka mereka mengandalkan Allah dalam hidupnya.

Di sinilah Allah hadir sebagai “Tuhan yang maha mengenyangkan”, karena mereka yang lapar akan dipuaskan, diikutkan dalam perjamuan yang memuaskan dan tidak akan merasa lapar lagi.

3. Orang yang menangis
ORANG YANG MENANGIS adalah orang yang sedang bersedih hati dan berduka karena menyesali akan dosa-dosanya.

Di sinilah Allah hadir sebagai “Tuhan yang maha mengubah”, duka menjadi sukacita, kesedihan air mata menjadi mata air kebahagiaan.

4. Orang yang teraniaya
ORANG YANG TERANIAYA adalah orang yang dibenci, dikucilkan, dicela, ditolak, karena memberitakan Injil dan kebenaran Sabda Allah.

Di siniIah Allah hadir sebagai “Tuhan yang maha penghibur” yakni penghiburan yang sejati bagi setiap orang yang “teraniaya” karena Injil dan bertahan tetap setia sampai mati maka mereka akan memperoleh hidup yang kekal.

Saudaraku, motivasi yang murni dan kesetiaan kita pada panggilan-Nya akan menuntun kita pada kebahagiaan yang sejati, yang tidak dapat digantikan dengan materi, makanan, pujian dan kesenangan duniawi. Hidup kita akan lebih berbahagia, bila kita ‘miskin’ tetapi kaya dihadapan Allah, daripada sebaliknya ‘kaya’ tetapi miskin dihadapan Allah. Sesungguhnya kita termasuk yang mana?

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga untuk menjadi yang ‘berbahagia’. Amin.

Saya telah kehilangan satu hari

 

– Saya telah kehilangan satu hari –

Inilah ucapan Kaisar Titus ketika ia menyadari bahwa satu hari telah terlewatkan tanpa berbuat kebaikan dan kebajikan.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus mau mengkoreksi orang Farisi dan para ahli Taurat yang mempunyai konsep dasar yang keliru tentang hukum hari Sabat. Karenanya, Kristus mau mengembalikan dan menegaskan konsep yang benar sebagai perwujudan nilai tertinggi dari hukum cinta kasih.
Adapun tiga konsep dasar Yesus tentang peraturan/hukum tersebut, antara lain:

1. Prinsip Hukum
PRINSIP DASAR HUKUM: “Salus animarum suprema lex” ~ keselamatan jiwa adalah hukum yang terutama ~.
Prinsip dasar ini juga digunakan dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK).

Di sinilah kita diajak untuk menyadari bahwa Yesus menjadikan hari Sabat bukan hanya sebagai hari untuk beristirahat saja, tetapi hari untuk berbuat kebaikan dan kebajikan. Yesus menjadikannya sebagai hari untuk menyelamatkan sesama.

2. Hakekat Hukum
Pada HAKEKATNYA HUKUM membantu kita melakukan kebaikan, kebajikan dan kasih yang bersifat universal (=bersifat umum).
Ada sebuah kesadaran bahwa setiap hari kita memiliki panggilan untuk berbuat kebaikan dan kebajikan kepada sesama.
Maka, jika hukum itu sendiri menghalangi, membatasi atau bahkan mengekang berbuat kebaikan dan kebajikan, maka hukum itu bertentangan dengan hakekatnya.
Banyak kali kebaikan dan kebajikan itu jadi terancam musnah karena ‘sikap legalistis’ manusia.

Di sinilah kita semua diajak untuk mengasihi Allah lebih dari segala yang ada di sekitar kita dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri.

3. Tujuan Hukum
Salah satu TUJUAN HUKUM adalah kesejahteraan bersama “bonum commune” yakni menjadi saluran berkat bagi sesama.
Ketika Yesus menyembuhkan orang yang mati ‘tangan kanannya,’ Ia meminta orang itu untuk mengulurkan tangan kanannya supaya Ia bisa menyembuhkannya.

Di sinilah kita diajarkan bahwa ‘tangan kanan’ merupakan simbol kekuatan atau kekuasaan. Maka gunakanlah tangan kita untuk kebaikan dan kebajikan bagi sesama.

Saudaraku, hidup beriman akan menjadi lebih bermakna ketika kita menjadi semakin serupa dengan Kristus yang mengasihi tanpa batas.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga dalam upaya terus berbuat kebaikan dan kebajikan bagi sesama. Amin.

Hukum tertinggi adalah keselamatan jiwa

 

– Hukum tertinggi adalah keselamatan jiwa –

Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Kristus menegaskan bahwa seluruh hidup, hukum dan tindakanNya selalu didasarkan pada perutusanNya untuk menyelamatkan jiwa manusia.
Adapun prinsip dasar hidup Yesus yang selalu dibawaNya, antara lain:

1. Kasih
Yesus mendasarkan hidupNya pada KASIH kepada sesama, dan bukan kebencian terhadap yang lainnya dan KASIH merupakan intisari iman kristiani.

Di sinilah kita diajarkan bahwa kasih kepada Allah menjadi dasar dan sumber segala doa dan karya hidup kita untuk mengasihi sesama, sehingga nama Allah semakin dimuliakan dan jiwa sesama semakin diselamatkan.

2. Keselamatan jiwa
Yesus mendasarkan hukumNya pada KESELAMATAN JIWA dan bukan melulu berhenti pada aturan tertulis. Hukum dengan pelbagai peraturan sebenarnya berkewajiban untuk membangun manusia seutuhnya.

Di sinilah kita diajarkan bahwa manusia dihadirkan sebagai subyek hukum, dimana hukum ada untuk manusia dan bukan manusia untuk hukum, karena tepatlah apa yang banyak tertulis dalam Kitab Hukum Kanonik ~ codex iuris canonici, “salus animarum suprema lex” ~ hukum yang terutama adalah keselamatan jiwa jiwa.

3. Ketulusan hati
Yesus mendasarkan tindakanNya pada KETULUSAN HATI dan bukan pada kebusukan hati, kelicikan, penuh intrik dan taktik.

Di sinilah kita diajak menjadi orang bijaksana dalam berpikir, bersikap dan bertindak sekaligus menyadari bahwa ketulusan hati merupakan salah satu dasar hukum ilahi.

Saudaraku, marilah kita terus berupaya mengintegrasikan seluruh kehidupan sehari-hari dengan iman yang kita hayati untuk menjadi sebuah kesempatan berjumpa dengan Allah.

Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga yang terus berupaya menjadi bijaksana dalam berpikir, bersikap dan bertindak. Amin.